Translate

Senin, 26 Agustus 2019

Tak Kenal Menyerah


Membuat karya tari untuk sebuah perlombaan memiliki cara mudah dan simpel, yaitu; tidak memikirkan bagaimana caranya menang, tapi pikirkan bagaimana agar karya itu unik, sukses dan rapi dengan tetap pada memikirkan apa tema dari festival tersebut, kemudian berkaryalah menurut anda ide garapan yang anda pikirkan itu bagus.
Tiap festival pasti harus ada yang menang dan kalah, disinilah mental seorang seniman akan diuji dengan kemenangan dan kekalahan. Jika kalah apa anda menyerah? Tidak dan tidak akan pernah kecuali permasalahan itu untuk kepentingan bersama dan kepentingan seseorang karena ia lebih membutuhkan untuk keselamatan dan kebahagiaannya. Artinya; hak seseorang yang telah memenangkan perlombaan adalah haknya utuh, bisa saja ada rejeki orang banyak dalam tim orang tersebut, bisa jadi itu merupakan ujian bagi diri kita apa kita marah karena kalah? Jika memang sudah diatur panitia siapa yang menjadi pemenang, itu menjadi dosa mereka didunia dan diakhirat, kita cukup mengetahuinya saja dan cukup untuk bekerjasama dengannya karena Tuhan itu maha adil, hak Tuhan meletakkan mereka berada dimana nantinya (selalu berada dibawah atau selalu berada di atas) karena telah mempermainkan hak orang lain, mempermainkan aturan-aturan yang telah Tuhan buat pada tiap diri manusia. Cukup sekali kejadian itu terjadi, berusaha agar orang itu tidak mengulanginya lagi, dan kesalahan-kesalahan itu memiliki batas waktu, dan pasti ada waktunya kita berada diatas, jadi bersabarlah walau kita cukup sabar makan kita nanti berada diatas dan akan berada di bawah juga karena kesabaran itu tidak bisa diukur.
Pantang terucap kata menyerah!
Kalah dalam pertandingan itu biasa namun berlagak seolah dirinya menang adalah orang yang sebenarnya telah menyerah. Jika tidak menyerah tidak mungkin terucap kata-kata demikian dari mulut yang kalah, malah ia akan berfikir untuk lebih baik lagi dimasa mendatang. Jika mereka berfikir hanya mereka yang harus selalu menang artinya mereka telah kalah telak, karena menganggap dirinya abadi.
Tidak ada kata putus asa!
Tiap agama dan kepercayaan mengajarkan pengikutnya untuk tidak putus asa, hanya pengikut dedemit yang berputus asa, karena keburukan putus asa adalah menyerahkan diri tanpa perlawanan walau dirinya benar, rela diinjak-injak, rela dijadikan budak. Putus asa itu orang yang telah berada pada fase miskin hati dan pikiran, dan jangan sekali-kali melawan dengan kemarahan, lawanlah dengan pikiran.
Niat untuk menyerah?
Anda berada pada lingkaran gerombolan setan yang telah menggoda anda. Niat itu muncul dari pikiran karena tidak menemukan jalan keluar sedangkan hati bersiap menyetujui jalan pikiran, jadi niat itu bisa ditahan/cegah oleh keimanan yang akan melahirkan kesabaran. Keimanan ini lemah atau kuat tergantung dari cara menjalankan ibadah, jadi keimanan ini akan mencegah niat, setelah orang itu ingat pada Tuhannya maka si niat akan sirna kemudian hadirlah kesabaran. Inilah bagian penting dari orang-orang yang beriman.
Berteriak-teriak, protes pada hasil pertandingan, bahkan mengancam hanyalah pekerjaan yang sia-sia karena hasil pertandingan telah diumumkan, berfikirlah positif karena pemikiran para penilai pasti berbeda dengan jalan pikiran kita, dan tidaklah mungkin kita mengatakan karya kita jelek, sejelek apapun karya kita tetap kita mengatakan bagus. Dan penilaian itu adalah dari pandangan orang lain (orang banyak), maka terimalah apapun keputusan itu dengan lapang dada kemudian benahi kekurangan-kekurangan karya kita karena tidak ada manusia itu sempurna semua ada kekurangannya.
SELAMAT BERKARYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar