AKU BUKAN KREATOR
Aku bukan pencipta juga bukan kreator, aku hanya menyebut profesiku sebagai seniman karena hanya ungkapan itu yang layak aku sandang. Aku seorang seniman tari/seni pertunjukan walau aku tidak profesional dalam menari dan hanya sebatas bisa membuat karya tari. Aku lebih suka mencipta tarian dengan apa adanya, tidak terlalu bergelut untuk mencari-cari gerak, apalagi meniru gerak tarian yang sudah ada kecuali hanya untuk referensi. Aku hanya mengikuti keinginan dan kehendak hati namun tetap berada pada batasan-batasannya, dan aku selalu berfikir untuk 'kembali ke alam' walau itu hanya properti atau latar penari. Apapun garapan tariannya pasti properti atau busana saya manfaatkan bendanya dari alam artinya benda-benda yang tidak diolah, kecuali celana atau baju.
Asesoris yang aku gunakan pada awalnya adalah bambu pancing (bambu kecil) yang aku potong sepanjang jari kelingking kemudian saya satukan dengan senar pancing dan aku tempel dikain kemudian di ikat di pergelangan tangan.
Sedangkan busana wanita pada awalnya aku menggunakan kain tirai jendela yang tebak berwarna hijau tua motif hijau muda, jalur motif aku hias menggunakan potongan bambu dan aku jahit mengikuti motif yang ada.
Setelah itu muncul ide lain untuk memperkaya asesoris, dengan menggunakan buah pohon karet, menggunakan senar pancing agar buah karet tersebut menyatu kemudian aku jahit ke celana, sebelumnya sudah pasti isi buah karet menambah berat asesoris, dan aku harus mencari cara praktis untuk membuang isi buah tersebut, cukup sulit membuang isi buah karet tanpa dipecahkan, akhirnya aku menemukan cara, yaitu: menusuk ujung kepala buah lalu meletakkannya di tanah dekat sarang semut merah, tunggu hingga 1 atau 2 minggu, biarkan semut merah memakan isi buah itu hingga habis.
Penyatuan busana pria dan wanita tersebut belum rampung, untuk melihat kesan sebagai orang daerah aku menambahkan kalung buatan sendiri memanfaatkan tali karung dan batu kuarsa yang banyak di Bangka. Ide ini muncul begitu saja karena teringat kalau rakyat Indonesia pada suku-suku pedalaman suka mengenakan kalung dari bahan alam.
Aku biasanya juga menggunakan topeng untuk pelengkap tarian, jika tarian tersebut bertemakan hewan burung, karena burung-burung di Indonesia ini beragam jadi aku meniru burung yang ada di pulau Bangka saja seperti burung cebok (burung hantu berbulu coklat loreng), burung kramincung konon burung elang takut dengan burung ini, dan meniru bentuk kepala dari burung Kedidi yang gerakan burung ini menjadi inspirasi para pendahulu menjadi tari kedidi.
Asesoris yang aku gunakan pada awalnya adalah bambu pancing (bambu kecil) yang aku potong sepanjang jari kelingking kemudian saya satukan dengan senar pancing dan aku tempel dikain kemudian di ikat di pergelangan tangan.
Sedangkan busana wanita pada awalnya aku menggunakan kain tirai jendela yang tebak berwarna hijau tua motif hijau muda, jalur motif aku hias menggunakan potongan bambu dan aku jahit mengikuti motif yang ada.
Setelah itu muncul ide lain untuk memperkaya asesoris, dengan menggunakan buah pohon karet, menggunakan senar pancing agar buah karet tersebut menyatu kemudian aku jahit ke celana, sebelumnya sudah pasti isi buah karet menambah berat asesoris, dan aku harus mencari cara praktis untuk membuang isi buah tersebut, cukup sulit membuang isi buah karet tanpa dipecahkan, akhirnya aku menemukan cara, yaitu: menusuk ujung kepala buah lalu meletakkannya di tanah dekat sarang semut merah, tunggu hingga 1 atau 2 minggu, biarkan semut merah memakan isi buah itu hingga habis.
Penyatuan busana pria dan wanita tersebut belum rampung, untuk melihat kesan sebagai orang daerah aku menambahkan kalung buatan sendiri memanfaatkan tali karung dan batu kuarsa yang banyak di Bangka. Ide ini muncul begitu saja karena teringat kalau rakyat Indonesia pada suku-suku pedalaman suka mengenakan kalung dari bahan alam.
Aku biasanya juga menggunakan topeng untuk pelengkap tarian, jika tarian tersebut bertemakan hewan burung, karena burung-burung di Indonesia ini beragam jadi aku meniru burung yang ada di pulau Bangka saja seperti burung cebok (burung hantu berbulu coklat loreng), burung kramincung konon burung elang takut dengan burung ini, dan meniru bentuk kepala dari burung Kedidi yang gerakan burung ini menjadi inspirasi para pendahulu menjadi tari kedidi.
Pada awalnya dengan meniru bentuk kepala burung cebok tanpa modal besar aku menggunting celana katun hitam aku kemudian dijahit membentuk topeng kemudian ku ambil kemoceng bulu ayam dirumah, cabut bulu ayam lalu rekatkan ke topeng membentuk wajah burung hantu. Inilah pertama kalinya aku membuat topeng untuk tarian dan mendapat respon positif dari para penilai. Lama kelamaan aku terus berinovasi dari alam dan dari hasil pengerajin tradisional, menggunakan tikar purun (tikar dari ayaman daun purun) sebagai sayap burung, kemudian asesoris kaki dan lengan saya menggunakan buah karet yang sebelumnya sudah kuceritakan. Celana hitam penari aku menggunakan celana silat milik para penari, kemudian aku mencari kain bekas berwarna kuning, kugunting dan tempel mengikuti motif yang saya inginkan kemudian dan jahit serapi-rapinya.
Pada akhirnya muncul ide untuk membuat busana burung kramincung. Untuk membuat seluruh tubuh tertutup menyerupai burung ini belum mungkin buat karena membutuhkan dana yang besar dan membutuhkan waktu yang lama dan toko yang menjual bahan-bahan di daerah Bangka pun belumlah lengkap, sedangkan aku membutuhkan waktu yang cepat dan menghindari pembuatan baju yang indah-indah yang bahan dan upah jahitnya mahal di daerah Bangka ini. Beruntung salah satu penari ku ternyata punya bakat membuat topeng dan properti tarian. Pada awalnya ia hanya memperhatikan keinginan ku membuat topeng dan properti tarian dari bahan-bahan yang ada, dan ia ternyata membuat topeng burung kramincung dirumahnya, pada hari berikutnya ia membawa hasil buatannya dan memperlihatkan pada ku, aku terkesima melihat hasil ukirannya, topeng itu sangat artistik untuk ukuran orang kampung seperti kami apalagi daerahku tidak memiliki properti topeng untuk tari-tarian tradisional jadi hanya mengikuti insting saja. Walau topeng tersebut dibuat dari papan bekas (kotak perkakas buah-buahan dipasar) hasilnya mengesankan, dan topeng burung kramincung itupun pernah kita bawa pentas di Belanda pada acara Pasar Malam Indonesia 2012.
Kreativitasku semakin tertantang, di tahun kemudian aku menggunakan benang wol dan menambah kayu agar topeng burung kedidi menjadi lebih besar dan indah. Menambah lagi potongan bambu kecil agar menjuntai2 seperti rambut gimbal dan diselingi buah karet. Topeng ini pun pernah ikut dalam karnaval internasional di seychelles island. Namun sayang, topeng itu pun sekarang tidak tahu lagi keberadaannya dimana sejak pulang ke Bangka, topeng itu sering dipinjam kakak kandungku, saat dibalikin topeng itu mulai rusak, kemudian teman-teman seniman lain yang mengajar pawai budaya juga meminjam topeng tersebut untuk anak-anak sekolah, sedikit banyak aku menyesal memberi pinjaman tersebut namun apa yang dapat dikata aku membantu orang yang membutuhkan bantuan, akhirnya aku tidak memproduksi topeng itu lagi.
Aku kemudian fokus meneliti dan mencari properti-properti kreasi baru dari bahan-bahan alam dan aku belum menemukannya hingga sekarang ini, karena aku fokus pada tarian tradisional Kedidi, tari ini membutuhkan seorang kreator agar gerakannya tetap terjaga dan berkembang. Fokus ini membuatku terhenti memproduksi properti tari.
Gerak tari kedidi aku kembangkan menjadi gerak tradisional kedidi versi Sungailiat sedangkan kedidi itu sendiri berasal dari desa Menduk kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka. Tari kedidi ini pun telah di buku kan menjadi tari tradisional milik Bangka Belitung. Selain itu tari dan silat Kedidi ada juga di daerah Tempilang dan Puding Besar, kemiripan tari ini tidak bisa dipungkiri lagi, karena satu daerah dan satu seperguruan atau satu guru pada masa lalunya karena bapak Komarulzaman pernah mengatakan kalau adik dan teman seperguruannya juga murid Abdul Latief hampir ribuan yang sudah tersebar diseluruh Bangka dan besar kemungkinan Tari dan Silat Kediidi merupakan satu keturunan. Aku belajar tari kedidi ini sejak tahun 2006 dari pewaris tari kedidi Almarhum bapak Komarulzaman, dan aku ucapkan terima kasih kepada Almarhum atas kebaikannya aku dapat menjaga dan mengembangkan tari kedidi dan terima kasih juga kepada Juhar murid kesayangan almarhum juga kepada penari-penari dan pemusik kedidi desa Menduk yang menjaga tari tradisional yang indah ini.
Sampai saat ini aku masih aktif berkesenian, mengajar generasi muda menari, membuka sanggar sejak tahun 2010, menjadi juri di festival-festival daerah Babel, juri FLS2N SD, SMP dan SMA di daerah Bangka Belitung.
Aku juga memberikan kesempatan kepada penari-penariku untuk menciptakan gerakan-gerakan tari dari diri mereka sendiri, bergerak mengikuti kehendak hatinya dan memberikan kesempatan mereka membuat tarian. Hal ini kulakukan untuk menumbuhkembangkan percaya diri mereka, juga aku ingin melihat apa yang mereka dapat setelah sekian lama mereka melihat caraku membuat tarian.
penulis: Agus Yaman
Aku kemudian fokus meneliti dan mencari properti-properti kreasi baru dari bahan-bahan alam dan aku belum menemukannya hingga sekarang ini, karena aku fokus pada tarian tradisional Kedidi, tari ini membutuhkan seorang kreator agar gerakannya tetap terjaga dan berkembang. Fokus ini membuatku terhenti memproduksi properti tari.
Gerak tari kedidi aku kembangkan menjadi gerak tradisional kedidi versi Sungailiat sedangkan kedidi itu sendiri berasal dari desa Menduk kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka. Tari kedidi ini pun telah di buku kan menjadi tari tradisional milik Bangka Belitung. Selain itu tari dan silat Kedidi ada juga di daerah Tempilang dan Puding Besar, kemiripan tari ini tidak bisa dipungkiri lagi, karena satu daerah dan satu seperguruan atau satu guru pada masa lalunya karena bapak Komarulzaman pernah mengatakan kalau adik dan teman seperguruannya juga murid Abdul Latief hampir ribuan yang sudah tersebar diseluruh Bangka dan besar kemungkinan Tari dan Silat Kediidi merupakan satu keturunan. Aku belajar tari kedidi ini sejak tahun 2006 dari pewaris tari kedidi Almarhum bapak Komarulzaman, dan aku ucapkan terima kasih kepada Almarhum atas kebaikannya aku dapat menjaga dan mengembangkan tari kedidi dan terima kasih juga kepada Juhar murid kesayangan almarhum juga kepada penari-penari dan pemusik kedidi desa Menduk yang menjaga tari tradisional yang indah ini.
Sampai saat ini aku masih aktif berkesenian, mengajar generasi muda menari, membuka sanggar sejak tahun 2010, menjadi juri di festival-festival daerah Babel, juri FLS2N SD, SMP dan SMA di daerah Bangka Belitung.
Aku juga memberikan kesempatan kepada penari-penariku untuk menciptakan gerakan-gerakan tari dari diri mereka sendiri, bergerak mengikuti kehendak hatinya dan memberikan kesempatan mereka membuat tarian. Hal ini kulakukan untuk menumbuhkembangkan percaya diri mereka, juga aku ingin melihat apa yang mereka dapat setelah sekian lama mereka melihat caraku membuat tarian.
penulis: Agus Yaman


Tidak ada komentar:
Posting Komentar