Translate

Selasa, 17 September 2019

Panorama Desa Menduk Kec. Mendo Barat Kabupaten Bangka. Prov. Kep. Bangka Belitung.




Desa paling ujung di Pulau Bangka, hingga jalan desa itu terputus oleh sungai Menduk yang tembus hingga laut.
— Agus Yaman
Desa ini sangat terpencil, jauh dari kota dan pembangunannya pun masih sangat kurang.
Masyarakatnya sangat bersahaja, bersahabat, ramah dan selalu menawarkan makanan bila ada tamu datang dari jauh walau mereka bekerja sebagai petani, nelayan. Jiwa gotong royong mereka sangat tinggi, jiwa kebersamaan mereka tidak perlu diragukan lagi.
Desa Menduk inilah yang pertama dan satu-satunya memelihara tari tradisional Kedidi. Dari sungai Menduk inilah terciptanya tari Kedidi, tari yang terinspirasi dari burung Kedidi yang sering nelayan jumpai di tepi rawa-rawa sungai Menduk. Menurut keterangan yang didapat dari penari Kedidi desa Mendukk yaitu bapak Juhar, tari ini diangkat dari gerakan burung Kedidi yang banyak dijumpai penduduk saat mulai membuka ladang hingga menunggu musim panen tiba. Pada waktu malam hari sambil melepas lelah setelah seharian bekerja, penduduk desa menghibur diri dengan bermain musik Dambus sambil bedincak dan menari Kedidi. Tari kedidi melambangkan gerak-gerik burung Kedidi yang konon banyak terdapat di sepanjang pantai pulau Bangka. Burung Kedidi sejenis burung yang suka berkelompok serta mempunyai keunikan dalam pola kehidupannya, terutama saat bermain-main dengan sesama temannya, serta ulah tingkahnya ketika mereka mencari makanan di tepi pantai. Saya pernah menunggu datangnya burung tersebut namun tidak pernah ia lihat seperti gambaran yang diterangkan mereka, dan saya mendapat masukan dari teman kalau burung itu bisa jadi sedang berimigrasi ke sungai Menduk pada bulan-bulan tertentu, karena gambaran burung Kedidi tidak sama dengan gambaran burung Kedidi yang ada dipantai-pantai Bangka pada umumnya.
Burung Kedidi ini hidup di alam terbuka, tidak bisa ditangkap untuk dipelihara dan telah memberi inspirasi kepada nelayan, menghibur diri bermain menirukan gerakan burung Kedidi, kemudian mereka menyusun tariannya, dan iringan musik pada mulanya diusahakan dari bahan-bahan yang ditemukan di alam sekitar seperti; kayu-kayu, batok kelapa dan lain-lain. kemudian perkembangan inspirasi tertuju pada gerak-gerak kepiting. Apabila perahu sedang berlayar mereka memukul perahu sebagai penghias iramanya. Tarian ini kemudian berkembang menjadi hiburan muda mudi dengan sebanyak empat atau lima orang pada bulan purnama tanggal 13, 14, 15 setiap bulan. Tari Kedidi pada dasarnya bersifat pelipur lara, dan mereka mendapat inspirasi dari burung Kedidi yang hidup di muara sungai dan rawa-rawa, sering ditemui nelayan disepanjang tepian sungai, dan gerakannya lucu, terutama gerakan ekornya ketika meloncat dari satu tempat ke tempat lain, dari batu ke batu atau di atas batang pelepah nipah yang mengapung di atas air. Sebagai bentuk kesenian tari Kedidi ini kemudian menjadi lebih menarik ketika diiringi dengan dambus. Perkembangan variasi selanjutnya memasukkan unsur silat dan gerak pedang. Tari dan silat ini sering dipertandingkan atau dipertontonkan di desa-desa sekitar sehingga memicu improvisasi gerak dan komposisi serta kepandaian dalam mengembangkan gaya pribadi. Namun demikian dasar gerak burung Kedidi tetap dominan yang dapat memberi nuansa lincah, lembut, genit, maupun gagah dengan unsur silatnya.
Terbentuknya tari tradisional Kedidi dapat disimpulkan sebagai hasil dari gambaran manusia terhadap alam sekitarnya, makna pesan tari Kedidi hasil penggambaran masyarakat terhadap kehidupan dilingkungannya, kemudian makna gambaran itu disempurnakan bersama dengan anggota masyarakat dan diajarkan secara turun temurun, sehingga tari Kedidi dapat bertahan hingga sekarang ini.
Fenomena yang ada di masyarakat Desa Menduk adalah salah satu anggota masyarakatnya telah dipercaya sebagai ahli waris gerak tari Kedidi adalah Bapak Juhar (43). Beliau adalah murid almarhum dari Bapak Komarullzaman (1935-2009) yang diyakini masyarakat sebagai pewaris tari Kedidi dari pendahulunya. Bapak Juhar selain sebagai penari Kedidi, juga aktif sebagai pengajar tari Kedidi di Desa Menduk.
Selain tari Kedidi, Mendo Barat juga memiliki warna budaya atau kebiasaan yang ditentukan dengan sedikit – banyak jumlah penduduk. Yang membedakan antara suku juga berdasarkan atas mata pencahariannya seperti: Masyarakat Pemburu dan Peramu makanan, Masyarakat Peternak, Masyarakat Peladang, Petani Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan atau Kompleks. Mereka juga memiliki ciri-ciri tertentu, dengan logat bahasa yang berbeda. Dalam waktu yang lama perbedaan suku tersebut terjadi pencampuran, dari percampuran itu akan membuat kebudayaan baru.


Masyarakat Mendo Barat adalah masyarakat yang beragama islam. Banyak yang beranggapan kalau masyarakat melayu adalah orang-orang beragama islam. Dan masyarakat melayu biasanya dilihat dari ciri khasnya atau beradat istiadat, menempati kawasan yang sudah dikenal dan memperlihatkan budaya yang identik dengan lemah lembut, karena penganut agama islam memperaktikan adat istiadat melayu dalam kehidupan sehari-harinya. Demikian juga masyarakat Jawa, Batak, Sunda, dan lainnya yang ada di Mendo Barat.  Masyarakat jawa dikenal dengan beragam seni budayanya, beragam warna kulit, bentuk wajah, logat bicara, busana dan beragam agama dan kepercayaan, namun di kecamatan Mendo Barat, orang Jawa tidak begitu dominan. Saat kami turun ke lapangan, orang Jawa bekerja sebagai guru sekolah dan ada juga sebagai penjual es keliling menggunakan sepeda motor. Sedangkan orang sunda yang dikenal lembut, baik hati, putih bersih dan cara bicaranya yang disukai banyak orang, mereka dikenali karena berjualan siomay, batagor dan nasi kuning, karena di gerobak mereka tertulis daerah asalnya, contohnya : “Siomay Bandung”.


BAHASA
Bahasa melayu Bangka sudah menjadi bahasa Mendo Barat, dengan irama yang bergelombang dan penekanan yang cukup dalam, contohnya : “kami = kamen”, “pergi = gie”, dan sebagainya. Walaupun Pulau Bangka memiliki bermacam-macam suku, bahasa, busana, budaya dan sebagainya, Bangka secara turun-temurun telah menetapkan bahasa melayu adalah bahasa masyarakat Bangka. Walaupun sebagian kecamatan dan desa memiliki dialek masing-masing sehingga bahasa Bangka memiliki berbagai macam warna. Masyarakat Mendo Barat dianggap masyarakat desa (kampung), dianggap masyarakat melayu dan memiliki ciri bertempat tinggal berdempetan (sejajar) mengikuti panjang jalan, namun di zaman sekarang masyarakat Mendo Barat telah berkembang maju, modern dan tidak gaptek. Mereka yang lebih modern tinggal di kota, remaja-remajanya pun sekolah di kota Pangkalpinang dan Sungailiat serta kuliah di kota-kota besar di luar daerah dan menikah dengan orang-orang luar hingga masyarakat Mendo Barat menjadi masyarakat multikultural, sehingga bahasa pun mengalami perubahan, namun masih bisa mengerti makna yang disampaikan oleh masyarakatnya.
PENDATANG ETNIS BUGIS DAN PADANG DI MENDO BARAT
Bagaimana orang Bugis bisa berada di Mendo Barat? Orang maritim yang paling terkenal adalah dari Suku Bugis, karena mereka bertebaran diseluruh perairan. Orang Bugis ini menyebar ke daerah lain menggunakan perahu untuk mencari kehidupan baru di daerah lain, mereka lebih memilih tinggal dipesisir karena lebih mudah ke laut,  karena disebabkan oleh perang saudara pada masa dulu. Dan setelah menyebar orang bugis tetap berpegang pada tradisi budaya mereka yang diajarkan oleh para orangtua mereka dimanapun mereka menetap. Sebagian orang perpikiran kalau orang bugis itu berkulit gelap karena seringnya terkena sinar matahari saat melaut dan memiliki logat bicara yang kasar, padahal tidak semua demikian itu, sama dengan daerah lain, masyarakat bugis juga ada yang berkulit putih, bersikap lembut, baik hati juga cantik. Minangkabau atau biasa kita sebut orang Padang atau orang-orang yang suka merantau. Orang minang ada dimana-mana, banyak pepatah mengatakan orang minang memberi makan semua suku nusantara, bahkan seluruh bangsa di dunia. Orang minang pun ada di bulan ‘diungkapkan dalam banyak buku dan artikel-artikel’. Mengapa orang minang relatif aman di daerah orang, merantau jauh dari asalnya, hampir seluruh dunia, ada yang pulang dan menetap. Pada masa Presiden Soekarno, orang minang banyak di kirim ke luar negeri, saat orde lama habis, kebanyakan orang minang tidak kembali ke Indonesia. Orang minang aman di luar negeri karena mereka adalah orang-orang yang hebat. Mereka tidak menjadi beban bagi semua daerah yang mereka tempati, mereka bukan menjadi kuli atau kerja yang sejenisnya, mereka kebanyakan membuka rumah makan sehingga bagi daerah lain bahkan bagi orang luar negeri maupun dalam negri, orang minang tidak merugikan.
KEKUATAN BUDAYA MENDO BARAT
Masyarakatnya saling memahami untuk mencintai daerahnya sendiri. Sehingga dengan pernyataan pendapat dan kesadaran, secara sosiologis, ide, pikiran, motif, kesadaran masyarakat selalu dihubungkan dengan lingkungan yang konkret dari situasi kemasyarakatan, terbentuklah persaudaraan yang erat dan kuat. Ciri khas tersebut terlihat pada saat :
  1. Menyambut tamu-tamu pemerintahan. Masyarakat dan anak-anak sekolah berbondong-bondong dengan bendera kecil merah-putih ditangan, budaya, bahasa, adat dan tradisi local menyambut hangat tamu-tamu penting dari pemerintah daerah.
  2. Pengakuan terhadap para pendatang sebagai masyarakat yang sama dan menyunjung harkat kemanusiaan yang universal.
  3. Terbuka secara kultural dan religi, karena masyarakat Mendo Barat tidak menutup diri dan merupakan pertemuan dari beraneka ragam budaya dan agama.
  4. Percaya diri, dengan menjalin komunikasi dengan tetangga dan masyarakat luar daerah.




SEJARAH SENI TARI TRADISI KEDIDI
Pada tanggal 4 – 7 Juli 2007 penulis bersama-sama peneliti Dr. Julianti Parani, Dosen Senior IKJ. Wawancara bapak Kamarulzaman terlaksanakan dalam rangka pengumpulan data revitalisasi kesenian Kedidi bertempat di desa Mendo kecamatan Mendo Barat di pulau Bangka, tulisan ini meringkas wawancara dilengkapi dengan kesan sejenak dari observasi tari kedidi itu sendiri dalam turun lapangan ke desa Mendo beserta referensi sekelumit sejarah Bangka sekitar kisah pak Kamarulzaman. •Salah satu anggota masyarakat Mendo Barat yang dikemukakan pada kesempatan ini adalah Bapak Kamarulzaman pewaris tari Kedidi, yang lahir tahun 1935 di desa Mendo dari orang tua Mat Ali dan H. Sopiyah. Sebagai orang Bangka bapak Kamarulzaman telah mengalami tiga zaman periodisasi sejarah Indonesia dari zaman penjajahan Belanda kemudian penjajahan Jepang dan akhirnya zaman Kemerdekaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pak Kamarulzaman juga telah terserao dalam proses multikultural Bangka. Kakeknya dari pihak ibu adalah Cong A Tet, seorang kepala parit yang berasal dari Hongkong, sedangkan neneknya orang dari desanya sendiri.


almarhum bpk Komarullzaman
Dimasa mudanya mulai belajar silat dari seorang pendatang dari Hongkong pula bernama Bong A Tet. Pernah berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia seperti Aceh sebelum tsunami tahun ’69, Jakarta dengan keluarga yang tinggal di Slipi-Tanah Abang, Kalimantan Selatan, Surabaya dll. Menurut penjelasannya, atas keperluan keluarga. Namun demikian ia tetap seorang Mendo Barat yang arif, penuh perhatian pada perkembangan desanya, sederhana, polos dalam keterangannya, dan tetap konsisten terhadap kepentingan kesenian. Sebagaimana penduduk Mendo, dimasa mudanya ia pekerja tani,  ada kalanya sebagai nelayan, disamping suka menari kedidi dan pandai pula mengiringi dengan menyanyi dan bermain musik kedidi, mengisi hiburan panen dan berbagai perayaan desa. Kini di masa senja kehidupan di kala kondisi fisik sudah menurun, ia telah dapat membina beberapa generasi muda yang akan dapat meneruskan kesenian kedidi. Menurut penjelasannya tari kedidi yang pada dasarnya bersifat pelipur lara mendapat inspirasi dari burung kedidi yang berbulu putih berparuh semacam betet dan berekor lucu kalau digerakkan.
Burung kedidi yang banyak hidup di muara sungai dan rawa-rawa, sering ditemui nelayan dan gerakannya lucu, terutama gerakan ekornya ketika loncat dari satu tempat ketempat lain, dari batu ke batu, diatas batang pelepah yang mengapung di atas air. Burung ini yang hidup di alam terbuka, tidak bisa ditangkap untuk dipelihara, telah memberi inspirasi kepada nelayan, menghibur diri bermain-main menirukan gerak-geraknya dalam menyusun tarian, kemudian iringannya pada mulanya diusahakan dari bahan-bahan yang ditemukan di alam sekitarnya, seperti kayu-kayu, batok kelapa dan lain-lain. Apabila perahu sedang melaut kemudian memukul perahu sebagai penghias iramanya. Tarian ini berkembang menjadi hiburan muda-mudi antara empat atau lima orang kalau lagi bulan purnama tanggal 13, 14, 15 setiap bulan. Sebagai bentuk kesenian tari kedidi ini kemudian menjadi lebih menarik ketika diiringi dengan Gambus. Perkembangan variasi selanjutnya adalah memasukkan unsur silat dan gerak pedang. Menurut berita sering kali dipertandingkan, dengan demikian memicu improvisasi gerak dan komposisi serta kepandaian dalam mengembangkan gaya pribadi. Namun demikian dasar gerak burung kedidi tetap dominan yang dapat memberi nuansa lincah, lembut, genit, maupun gagah kejantanan dengan unsur silatnya.
KESIMPULAN
Upaya pembangunan dan pembinaan mental serta membuka diri dalam komunikasi antar budaya ini sangat penting, karena pada hakekatnya jiwa nasionalis tidak lain menunjukkan tingkat kuatnya persatuan dan kesatuan bangsa yang diinginkan. Dapat lebih menjamin terwujudnya negara yang makmur, aman dan tentram. Komunikasi antar budaya erat kaitannya dengan identitas masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Mendo Barat pada khususnya, menguatkan akar dari Identitas daerah yang sedang dibangun.

Minggu, 01 September 2019

Tari Legenda Kota Kapur


Kedua kalinya namun berbeda bentuk tarian seniman-seniman tari dan musik dari Sanggar Seni Rebang Emas Sungailiat Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggarap tarian kreasi yang terinspirasi dari prasasti Kota Kapur yang dibuat pada masa kerajaan Sriwijaya. 
Dulu, pada pertama kalinya sanggar seni Rebang Emas membuat tari dari tema prasasti Kota Kapur dengan judul "Waisakha" yang mengisahkan terbentuknya prasasti Kota Kapur pada tahun saka. Kemudian tari yang kedua berjudul Legenda Kota Kapur yang menceritakan jika dusun Kota Kapur berada di pesisir barat Pulau Bangka merupakan tempat ditemukannya tiang batu bersurat yang merupakan prasasti pertama mengenai SriwijayaÅšrÄ«wijaya adalah nama sebuah kerajaan di Sumatra pada abad ke-7 Masehi, suatu kerajaan yang kuat dan pernah menguasai bagian barat Nusantara, Semenanjung Malaya, Thailand bagian selatan, menguasai bagian selatan Sumatra, Pulau Bangka Belitung dan LampungPrasasti ini menyebutkan bahwa Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menyerang "Bhumi Jawa" yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya.
Tari ini digarap kurang dari 2 bulan, tepatnya sejak tanggal 16 Juli 2019 s/d 29 Agustus 2019,  tarian ini masih butuh banyak perubahan dan pemantapan mulai dari properti, busana, asesoris, garapan tari dan musik, namun dalam pembuatan tari kurang dari 2 bulan tersebut sudah mereka pentaskan pada ajang festival "Bekesah" yang diselenggarakan kota Mentok, Kabupaten Bangka Barat dan mendapatkan predikat sebagai penyaji unggulan 1, penata tari terbaik, penata musik terbaik, dan penata rias dan busana terbaik. Tarian ini mereka katakan akan terus berproses hingga mencapai hasil yang maksimal sebagai tarian pertama di Bangka Belitung yang mengangkat kisah prasasti Kota Kapur kerajaan Sriwijaya dan siap bila ada permintaan untuk menarikan tarian ini dan siap bila ada festival-festival tari daerah lainnya dengan garapan dan versi terbarukan.
Walaupun tarian ini jauh dari kebiasaan sanggar-sanggar di Bangka Belitung dalam menggarap tarian, Sanggar Rebang Emas ingin keluar dari kebiasaan itu, mereka ingin mencoba sesuatu yang baru namun dalam gerakan tarian ini masih menggunakan beberapa tehnik gerak tari tradisional Kedidi dan silat Kedidi Bangka. Adapun sumber cerita tari ini dari BUKU PULAU BANGKA DAN BUDAYANYA, jilid 3, tahun 1986 dengan para penari 10 orang antara lain: Illiyyiin Dyanti, Dewi Dheandra Sonia, Laras Widya Lestari, Tinka Mutiara Putri, Hilda Sizzratin, Rio Fendy Leo Saputra, Devina Rahmawati Insani, Debby Dwi Amelia, Fildzah Kantari, Rino Al Zaidi. Para Pemusik 5 orang antara lain : Andhika putu Sunarya, Dodi Kurniawan, Guntur Gustika Arifiandi, Alfas Sandhy, Rendy Novian. Penanggung Jawab: M. Agus Yaman S.I.Kom. Dalam komunitas Sanggar Seni Rebang Emas.


Dikatakan oleh mereka untuk tetap latihan rutin dan tetap berproses dalam penyempurnaan tarian ini, puas itu adalah karena ide garapan sudah diakui namun garapannya masih jauh dari harapan, untuk itu diperlukan pembenahan-pembenahan agar mencapai hasil yang maksimal. Tak ada gading yang tak retak.

penulis: Agus Yaman

Rabu, 28 Agustus 2019

Penari


Menari

Setiap mahluk hidup di dunia ini adalah menari. Menari berupa gerak, gerak adalah tarian, tarian adalah gerak berdasarkan level. Gerakan pada posisi berbaring merupakan gerak tari level paling rendah, kemudian gerak duduk, jongkok, saat berada di kursi atau saat berdiri dan meloncat, semua merupakan gerakan menari, jadi tiap orang bisa menari dan sedang menari, namun menari pada tiap orang itu pada koridor yang berbeda, artinya tidak berada pada panggung pertunjukan dan bukan untuk dipertontonkan. 

Siapa yang bisa menari?

Seperti yang sudah dijelaskan siapa saja bisa menari, tapi pada tingkatan tertentu karena itu muncul kalimat seperti penari pemula, yunior, senior dan profesional bahkan sudah bermunculan sekolah tinggi seni yang memberi gelar kepada para penari sebagai Sarjana Seni. Mereka mempelajari teori-teori, praktek-praktek seni pertunjukan dan ujian-ujian.
Penari pemula, yunior, senior membutuhkan latihan yang rutin untuk menjadi penari profesional, mampu bergerak lentur dan mampu memainkan karakter orang lain. Biasanya penari profesional sudah banyak memiliki jam terbang dan sudah pentas pada acara-acara kecil maupun besar, sering diundang dan telah mengharumkan nama daerah dan bangsa.
Siapapun bisa menari, penari profesional itu kelenturan tubuhnya diatas rata-rata, mampu memerankan karakter siapapun, mampu ber make-up sendiri dan mampu mempertunjukkan maha karyanya dikhalayak ramai. Selain itu, penari profesional tidak harus lentur, namun mampu menciptakan karya besar adalah seorang profesional juga.

Kapan bisa menjadi Penari?

Tiap anak-anak sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak biasanya sudah diajarkan menari dengan irama musik ringan oleh guru-guru mereka, demikian juga saat Sekolah Dasar, dan cuma sebagian Sekolah Dasar saja yang membuka les menari. Kebanyakan anak-anak SD tidak diperkenalkan pada kegiatan ini begitu juga Sekolah Menengah Pertama dan Menengah Atas sangat sedikit membuka les tari. Tapi bagi anak-anak Sekolah Dasar/SMP/SMA yang suka menari jangan berkecil hati karena banyak sanggar-sanggar seni yang menerima anak-anak untuk menari dan akan mengajar bagaimana menari dengan baik dan benar. Keinginan anak-anak ini kadang terkendala karena jarak rumah jauh dan sistem full day school. Padahal menari merupakan olahraga yang menyehatkan fisik dan pikiran, sehat pikiran dan fisik akan memudahkan anak-anak belajar dan dapat menjadikan mereka lebih energik dan pintar.

Bagaimana menjadi Penari?

1. Niat
Niat adalah yang utama karena niatlah yang membangkitkan semangat untuk bisa menari, tapi tidak selalu harus bisa, terkadang anak-anak yang ikut-ikutan teman menari bahkan memiliki bakat terpendam dan dalam waktu singkat ia mampu menari dibanding teman-temannya.
2. Latihan
Latihan secara rutin akan memunculkan disiplin, tiap kedisiplinan pasti membuahkan hasil, disiplin dapat menimbulkan tanggung jawab pada diri sendiri. Rutinitas juga akan menciptakan profesionalisme. Seorang yang berpikir mau profesional pasti sukses.
3. Mengikuti petunjuk pengajar
Seorang pengajar pasti ingin muridnya cerdas, ingin muridnya memiliki keahlian di atas rata-rata. Jadi seorang murid diharuskan memiliki semangat yang tinggi dan mengikuti petunjuk-petunjuk yang benar dari pengajarnya.
4. Fisik.
Sudah pasti orang yang bisa menari adalah orang pada kondisi sehat jasmani, tapi seseorang yang cacat fisik bisa juga menari dan bisa dibuatkan tarian karena cacat fisik bukan penghalang utama untuk sebuah seni pertunjukan.

Jiwa seorang Penari

Seorang penari tidak harus bersikap seperti apa dan tidak harus seperti siapa, ia akan menjadi dirinya sendiri, walau kebanyakan orang melihat seorang seniman dengan penampilan yang nyentrik menjadi tertawaan orang-orang umum. Ada yang tingkah dan kelakuannya terlihat berlebihan, namun mereka hanya ingin menunjukkan inilah saya, saya suka seperti ini, saya lebih terlihat apa adanya.
Sampai saat ini saya tidak menemukan seorang penari berwatak licik, seniman itu berjiwa sosial tinggi, berkomunikasi pada siapapun, selalu terbuka, suka berbagi ilmu, suka nongkrong diwarung kopi, suka membahas masalah seni budaya, menyukai generasi muda dan bertoleransi tinggi. Mereka suka kebebasan dalam berpendapat, suka bebas melalang buana tanpa bisa dicegah.
Seorang penari menyukai tiap seni pertunjukan selalu ingin berkecimpung dalam proyek-proyek seni, selalu meminta kepada teman-temannya agar diajak pentas, jua penasaran pada karya tari orang lain dan sebagainya.

SALAM BUDAYA PADA SEMUA PENARI TANAH AIR,
HORMAT SAYA, 


AGUS YAMAN.


Senin, 26 Agustus 2019

Tak Kenal Menyerah


Membuat karya tari untuk sebuah perlombaan memiliki cara mudah dan simpel, yaitu; tidak memikirkan bagaimana caranya menang, tapi pikirkan bagaimana agar karya itu unik, sukses dan rapi dengan tetap pada memikirkan apa tema dari festival tersebut, kemudian berkaryalah menurut anda ide garapan yang anda pikirkan itu bagus.
Tiap festival pasti harus ada yang menang dan kalah, disinilah mental seorang seniman akan diuji dengan kemenangan dan kekalahan. Jika kalah apa anda menyerah? Tidak dan tidak akan pernah kecuali permasalahan itu untuk kepentingan bersama dan kepentingan seseorang karena ia lebih membutuhkan untuk keselamatan dan kebahagiaannya. Artinya; hak seseorang yang telah memenangkan perlombaan adalah haknya utuh, bisa saja ada rejeki orang banyak dalam tim orang tersebut, bisa jadi itu merupakan ujian bagi diri kita apa kita marah karena kalah? Jika memang sudah diatur panitia siapa yang menjadi pemenang, itu menjadi dosa mereka didunia dan diakhirat, kita cukup mengetahuinya saja dan cukup untuk bekerjasama dengannya karena Tuhan itu maha adil, hak Tuhan meletakkan mereka berada dimana nantinya (selalu berada dibawah atau selalu berada di atas) karena telah mempermainkan hak orang lain, mempermainkan aturan-aturan yang telah Tuhan buat pada tiap diri manusia. Cukup sekali kejadian itu terjadi, berusaha agar orang itu tidak mengulanginya lagi, dan kesalahan-kesalahan itu memiliki batas waktu, dan pasti ada waktunya kita berada diatas, jadi bersabarlah walau kita cukup sabar makan kita nanti berada diatas dan akan berada di bawah juga karena kesabaran itu tidak bisa diukur.
Pantang terucap kata menyerah!
Kalah dalam pertandingan itu biasa namun berlagak seolah dirinya menang adalah orang yang sebenarnya telah menyerah. Jika tidak menyerah tidak mungkin terucap kata-kata demikian dari mulut yang kalah, malah ia akan berfikir untuk lebih baik lagi dimasa mendatang. Jika mereka berfikir hanya mereka yang harus selalu menang artinya mereka telah kalah telak, karena menganggap dirinya abadi.
Tidak ada kata putus asa!
Tiap agama dan kepercayaan mengajarkan pengikutnya untuk tidak putus asa, hanya pengikut dedemit yang berputus asa, karena keburukan putus asa adalah menyerahkan diri tanpa perlawanan walau dirinya benar, rela diinjak-injak, rela dijadikan budak. Putus asa itu orang yang telah berada pada fase miskin hati dan pikiran, dan jangan sekali-kali melawan dengan kemarahan, lawanlah dengan pikiran.
Niat untuk menyerah?
Anda berada pada lingkaran gerombolan setan yang telah menggoda anda. Niat itu muncul dari pikiran karena tidak menemukan jalan keluar sedangkan hati bersiap menyetujui jalan pikiran, jadi niat itu bisa ditahan/cegah oleh keimanan yang akan melahirkan kesabaran. Keimanan ini lemah atau kuat tergantung dari cara menjalankan ibadah, jadi keimanan ini akan mencegah niat, setelah orang itu ingat pada Tuhannya maka si niat akan sirna kemudian hadirlah kesabaran. Inilah bagian penting dari orang-orang yang beriman.
Berteriak-teriak, protes pada hasil pertandingan, bahkan mengancam hanyalah pekerjaan yang sia-sia karena hasil pertandingan telah diumumkan, berfikirlah positif karena pemikiran para penilai pasti berbeda dengan jalan pikiran kita, dan tidaklah mungkin kita mengatakan karya kita jelek, sejelek apapun karya kita tetap kita mengatakan bagus. Dan penilaian itu adalah dari pandangan orang lain (orang banyak), maka terimalah apapun keputusan itu dengan lapang dada kemudian benahi kekurangan-kekurangan karya kita karena tidak ada manusia itu sempurna semua ada kekurangannya.
SELAMAT BERKARYA

Minggu, 25 Agustus 2019

Gebrakan penari di masa depan


Sebagai koreografer, komposer atau penata artistik ataupun seniman-seniman yang ahli dibidangnya bila memiliki murid-murid/generasi muda penyuka seni budaya ajarlah mereka dengan baik dan benar karena kita tidak akan tahu akan jadi apa mereka nanti. Jika mereka menjadi presiden Republik ini sudah pasti ia meningkatkan pembangunan di bidang seni budaya karena Indonesia ini kaya akan seni budayanya. Jika ia menjadi Menteri Kebudayaan maka akan lestari seni budaya kita, demikian juga ia menjadi gubernur atau bupati, bila ia tekun ia mampu menjadi seniman kelas dunia dan mempromosikan seni budaya Indonesia karena ia adalah aset bangsa.
Bisa saja kesukaan mereka pada bidang yang ia geluti sedari kecil akan menjadi penopang utama masa depannya, sebagai contoh menyukai bidang seni tari, maka semakin bertambah usianya semakin cinta ia pada seni tari dan ilmu pengetahuan seni budayanya akan bertambah.

Biasanya generasi muda di daerah-daerah terpencil selesai Sekolah Menengah Atas mereka bercita-cita ingin melanjutkan kuliah di Universitas atau Institut Kesenian di kota-kota besar Indonesia dan mengambil bidang seni tari atau seni pertunjukan lainnya. Dalam kurun waktu minimal 3,5 - 4 tahun ia dapat menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang baik beserta ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman yang ia dapatkan. Pengalaman ini ia dapat dari ujian praktek di universitas atau karena seringnya diajak teman-temannya untuk pentas seni pertunjukan. 

Selesai kuliah kebanyakan dari mereka akan kembali ke daerah asalnya mencari pekerjaan sebagai pegawai honorer, guru honorer dan ikut test PNS. Disinilah ia mulai belajar untuk mandiri, dalam mengisi hari-hari kosong ia bisa kembali menari kepada koreografernya yang dulu atau pun ia akan membangun karakter tariannya sendiri, dari ilmu yang ia dapatkan. Ini dilakukan sembari menunggu panggilan pekerjaan, bahkan mereka juga akan membangun sanggar seni sendiri, jika ini terjadi maka ia sudah menjadi saingan dalam bisnis hiburan seni didaerahnya, namun saya tidak mengajak anda untuk berfikiran negatif pada persaingan ini karena ini merupakan perkembangan dari pembangunan dan Sumber Daya Manusia. Ia akan membangkitkan semangat cinta seni budaya pada generasi-generasi muda lainnya dan ini akan memajukan seni budaya daerahnya.
Jika ada festival atau parade tari di daerahnya bisa saja dalam festival atau lomba tari tersebut ikut hadir sanggar seni yang pernah menaunginya, koreografer yang dulu pernah mengajarinya menjadi lawan dalam festival tersebut, dan disini saya yakin tidak ada kesombongan dalam dirinya walau harus melawan gurunya dulu. Disinilah ia akan menunjukkan ilmu-ilmu yang ia dapat dari sekolahnya dulu dan berikut ini suka duka saat menghadapi hal ini
1. Jika dulu koreografer berlaku baik kepadanya maka akan terjadi temu kangen, saling bertanya dan saling bercerita saling tertawa mengingat masa lalu dan pembicaraan untuk masa depan.
2. Akan terjadi sedikit ketegangan jika dulu koreografer tidak begitu memperdulikan dirinya, pertemuan akan sedikit hambar, hanya saling menyapa dan salaman kemudian tanding.
3. Ada rasa cemas sendiri dalam hati koreografer dan mantan muridnya tersebut apa yang menjadi hasil festival nanti. Sedangkan koreografer akan besar rasa penasarannya terhadap karya tari mantan muridnya karena sendikit banyak berkat dia lah muridnya menjadi seorang pecinta seni tari.
4. Mantan murid akan sedikt berasa enggan untuk berlomba dengan koreografernya dulu namun sedikit banyak ia ingin menunjukkan hasil sekolahnya selama ini, dan mungkin masih banyak suka duka yang akan terjadi.
Ada kejadian-kejadian unik yang terjadi didaerah-daerah, mantan penari menjadi juri pada festival tari yang diikuti sanggar-sanggar atau sekolahannya dulu, dan ini akan menjadi boomerang bagi juri, sedikit banyak si koreografer akan berharap mantan penari sanggarnya memenangkan dirinya. Namun hal ini tidak akan berlaku pada juri yang berjiwa keras, berjiwa seni tinggi, menjunjung kejujuran. Dan tak jarang pula kejadian menyakitkan akan terjadi pada para juri kala sanggar yang dulu pernah dibantunya kalah. Ungkapan-ungkapan kasar, perkataan yang tidak masuk diakal, cemoohan dan ejekan akan dilontarkan pada para juri padahal bila dilihat detail apa untungnya mengejek juri? Apa untungnya bagi juri menilai siapa yang menang dan kalah, lah honorarium sebagai juri tidak cukup untuk menghidupi kehidupan sehari-hari. Kebanggaan juri adalah saat menilai yang terbaik dari garapan yang terbaik, dan ilmu juri semakin bertambah dalam melihat karya-karya orang lain dan ini adalah pelajaran yang paling berharga dapat melihat garapan tari pada masa sekarang ini.
Dari segi pengalaman, koreografer lebih unggul membentuk orang yang dari tidak tahu apa-apa menari menjadi tahu menari dan mengenal seni tradisional daerahnya, demikian juga dalam menata tarian, gerakan-gerakan tradisional daerahnya, busana, properti dan sebagainya, namun tidak bisa menutup kemungkinan kecerdasan mantan murid bila di atas rata-rata, artinya ilmu pelajaran, lingkungan selama ini yang mengajarinya menjadi penari profesional memiliki kelebihan tertentu.

Perlu diingat, jaman memiliki peranan penting dalam seni pertunjukan. Mantan murid tersebut berada pada jamannya, mungkin demikian juga yang telah terjadi pada sang koreografer, guru sang koreografer mungkin pernah ia kalahkan dalam festval tari karena saat itu jamannya koreografer kala muda. Demikian juga sekarang, mantan penari itu berada pada jaman sekarang yang pastinya garapan tariannya mengacu pada keinginan di masa sekarang namun tidak meninggalkan karakter daerahnya. Namun jika berpatokan pada kalimat "Dunia ini berputar kadang dibawah kadang diatas" apapun bisa terjadi, pengalaman mengalahkan jaman dan jaman mengalahkan pengalaman.
Jadi penciptaan maha karya tari itu adalah peranan jaman juga, namun karena peninggalan jamanlah tari-tari dahulu menjadi tari tradisional dan maha karya itu mahal karena si penciptanya telah tiada atau ada yang berani membeli sebuah karya begitu mahal yang akhirnya membuat gempar dunia seni. Masih banyak dari sudut-sudut pandang dalam menilai sebuah karya tari dan semua diserahkan pada penonton dan penikmat seni.

Kamis, 22 Agustus 2019

MERANTAU



PERGILAH MERANTAU

Setelah lulus SMA baiknya kamu pergi sejauh-jauhnya dari orangtuamu atau saudara-saudaramu, merantaulah ketempat yang kamu suka walau keluar negri sekalipun. 
Berbuatlah sesuatu yang hebat untuk dirimu, lanjutkan pendidikanmu, bekerjalah karena kedua bagian tugas ini sangat penting untuk pengalaman dan masa depanmu, namun yang utama adalah ibadah. 
Apapun yang akan kamu lalui itu adalah garis hidup yang kamu buat sendiri, merantau keluar negri adalah lebih baik, iklaskan pada Tuhanmu keselamatan dan kesehatan, yang terpenting adalah sekolahlah dan bekerjalah, bila tidak sanggup membiayai keberangkatanmu, menabunglah dari sekarang atau kejarlah tawaran-tawaran beasiswa yang ada disekolah atau di media sosial, bila tak mampu juga keluar negri merantaulah di dalam negeri saja, lalu menabunglah sedikit demi sedikit tunggu beberapa tahun kemudian hingga uangmu terkumpul untuk berangkat keluar negri.
Jangan takut untuk merantau jauh, karena pengalaman dan usahamu akan membuahkan hasil, tapi jangan melakukan hal yang negatif, jangan berpikiran untuk mencari jalan pintas agar kaya karena itu tidak akan berguna sama sekali, bahkan kesengsaraannya 1 milyar kali lipat dari kebahagiaan. Tentukan sampai berapa tahun kamu menetap di luar negri agar kamu kembali ke tanah air dan membuka usaha di negaramu sendiri tapi apabila kamu iklaskan berapa tahun menetap di luar negri itu ada baiknya berarti kamu memiliki suatu semangat untuk merantau tanpa batas waktu.
Jangan sekali-kali berpikiran negatif, jika ingin merantau jauhilah pikiran-pikiran dalam kerugian fisik dan mental karena merantau itu memperkuat pikiran, mental dan fisik namun tetap pada jalur yang posotif umpamanya beribadah dan perbanyak makan sayuran dan tidak memilih-milih makanan yang mahal kecuali di traktir atau kamu kebetulan bekerja direstoran. Jagalah tata krama sebagai orang Indonesia.
Jika sudah bulat tekadmu, lupakan masa lalu, lupakan memikirkan sekelilingmu, lupakan pacarmu, teman-temanmu dan kenangan-kenangan indahnya, berpikirlah positif apa yang terjadi saat merantau nanti. Pastinya tidak ada enaknya dalam merantau apalagi diawal-awal bulan namun demikianlah serunya hidup sendiri yang jauh dari perlindungan keluarga dan teman-teman, berpikirlah keuntungan pada masa mendatang. Kamu akan mengetahui betapa berartinya pengalamanmu nanti.
Masa sekarang ini, saat berada dilingkungan keluarga uang 1000 rupiah akan kamu anggap tiada artinya bahkan malas kamu simpan karena mata uang kita sangat teramat kecil, Tapi saat jauh dari keluarga, kamu akan merasakan betapa berartinya 1000 rupiah itu bahkan kamu berusaha untuk menyimpannya uang itu, kecuali keluargamu milyuner. Jika keluargamu kaya kamu tidak akan butuh bekerja sambil sekolah, benar demikian?. Disini kita bicarakan masalah keinginan untuk merantau sejauh-jauhnya tanpa memandang seberapa kaya keluargamu.
Beruntungnya jika setelah bertahun-tahun kamu diluar negri kamu kemudian mengajak keluargamu jalan-jalan dinegeri itu, kamu akan merasakan betapa bermanfaatnya kamu merantau, mengajak teman-temanmu yang gagal total yang pengangguran untuk bekerja diusahamu, percayalah itu sedekah terbesarmu di dunia ini.
Jika kamu tidak sanggup merantau, menetaplah dan berusahalah membangun kehidupanmu sendiri, sekolah dan bekerjalah jangan selalu bergantung pada orangtuamu karena bagaimanapun juga mereka tetap membantu dan mendukungmu.
Jika kamu tidak sanggup bekerja bukalah usaha sendiri, berusahalah berdiri sendiri walau itu berat itu berupa cobaan bagimu.
Jika kamu tidak sanggup melakukan itu karena keadaan fisik, dapat kamu terapkan pada adik atau saudara-saudaramu, bantu ia dengan semangat dan perlihatkan padanya video-video di Youtube tentang orang-orang yang sukses dalam perantauannya dan ajari ia agar kuat tanpa menyerah saat merantau nanti.
Menuju kearah arah mana jalanmu adalah kamu yang menentukan, dan Tuhan hanya mempermudah dan menunjukkan arah yang benar, agamamu mengajarkan bagaimana cara melakukan kebaikan dan cara berpikir positif. Selanjutnya keputusan ada di tanganmu...

SELAMAT MERANTAU...

Rabu, 14 Agustus 2019

Aku bukan Kreator



AKU BUKAN KREATOR

Aku bukan pencipta juga bukan kreator, aku hanya menyebut profesiku sebagai seniman karena hanya ungkapan itu yang layak aku sandang. Aku seorang seniman tari/seni pertunjukan walau aku tidak profesional dalam menari dan hanya sebatas bisa membuat karya tari. Aku lebih suka mencipta tarian dengan apa adanya, tidak terlalu bergelut untuk mencari-cari gerak, apalagi meniru gerak tarian yang sudah ada kecuali hanya untuk referensi. Aku hanya mengikuti keinginan dan kehendak hati namun tetap berada pada batasan-batasannya, dan aku selalu berfikir untuk 'kembali ke alam' walau itu hanya properti atau latar penari. Apapun garapan tariannya pasti properti atau busana saya manfaatkan bendanya dari alam artinya benda-benda yang tidak diolah, kecuali celana atau baju.
Asesoris yang aku gunakan pada awalnya adalah bambu pancing (bambu kecil) yang aku potong sepanjang jari kelingking kemudian saya satukan dengan senar pancing dan aku tempel dikain kemudian di ikat di pergelangan tangan.
Sedangkan busana wanita pada awalnya aku menggunakan kain tirai jendela yang tebak berwarna hijau tua motif hijau muda, jalur motif aku hias menggunakan potongan bambu dan aku jahit mengikuti motif yang ada.
Setelah itu muncul ide lain untuk memperkaya asesoris, dengan menggunakan buah pohon karet, menggunakan senar pancing agar buah karet tersebut menyatu kemudian aku jahit ke celana, sebelumnya sudah pasti isi buah karet menambah berat asesoris, dan aku harus mencari cara praktis untuk membuang isi buah tersebut, cukup sulit membuang isi buah karet tanpa dipecahkan, akhirnya aku menemukan cara, yaitu: menusuk ujung kepala buah lalu meletakkannya di tanah dekat sarang semut merah, tunggu hingga 1 atau 2 minggu, biarkan semut merah memakan isi buah itu hingga habis.
Penyatuan busana pria dan wanita tersebut belum rampung, untuk melihat kesan sebagai orang daerah aku menambahkan kalung buatan sendiri memanfaatkan tali karung dan batu kuarsa yang banyak di Bangka. Ide ini muncul begitu saja karena teringat kalau rakyat Indonesia pada suku-suku pedalaman suka mengenakan kalung dari bahan alam.
Aku biasanya juga menggunakan topeng untuk pelengkap tarian, jika tarian tersebut bertemakan hewan burung, karena burung-burung di Indonesia ini beragam jadi aku meniru burung yang ada di pulau Bangka saja seperti burung cebok (burung hantu berbulu coklat loreng), burung kramincung konon burung elang takut dengan burung ini, dan meniru bentuk kepala dari burung Kedidi yang gerakan burung ini menjadi inspirasi para pendahulu menjadi tari kedidi.
Pada awalnya dengan meniru bentuk kepala burung cebok tanpa modal besar aku menggunting celana katun hitam aku kemudian dijahit membentuk topeng kemudian ku ambil kemoceng bulu ayam dirumah, cabut bulu ayam lalu rekatkan ke topeng membentuk wajah burung hantu. Inilah pertama kalinya aku membuat topeng untuk tarian dan mendapat respon positif dari para penilai. Lama kelamaan aku terus berinovasi dari alam dan dari hasil pengerajin tradisional, menggunakan tikar purun (tikar dari ayaman daun purun) sebagai sayap burung, kemudian asesoris kaki dan lengan saya menggunakan buah karet yang sebelumnya sudah kuceritakan. Celana hitam penari aku menggunakan celana silat milik para penari, kemudian aku mencari kain bekas berwarna kuning, kugunting dan tempel mengikuti motif yang saya inginkan kemudian dan jahit serapi-rapinya.
Pada akhirnya muncul ide untuk membuat busana burung kramincung. Untuk membuat seluruh tubuh tertutup menyerupai burung ini belum mungkin buat karena membutuhkan dana yang besar dan membutuhkan waktu yang lama dan toko yang menjual bahan-bahan di daerah Bangka pun belumlah lengkap, sedangkan aku membutuhkan waktu yang cepat dan menghindari pembuatan baju yang indah-indah yang bahan dan upah jahitnya mahal di daerah Bangka ini. Beruntung salah satu penari ku ternyata punya bakat membuat topeng dan properti tarian. Pada awalnya ia hanya memperhatikan keinginan ku membuat topeng dan properti tarian dari bahan-bahan yang ada, dan ia ternyata membuat topeng burung kramincung dirumahnya, pada hari berikutnya ia membawa hasil buatannya dan memperlihatkan pada ku, aku terkesima melihat hasil ukirannya, topeng itu sangat artistik untuk ukuran orang kampung seperti kami apalagi daerahku tidak memiliki properti topeng untuk tari-tarian tradisional jadi hanya mengikuti insting saja. Walau topeng tersebut dibuat dari papan bekas (kotak perkakas buah-buahan dipasar) hasilnya mengesankan, dan topeng burung kramincung itupun pernah kita bawa pentas di Belanda pada acara Pasar Malam Indonesia 2012.


Kreativitasku semakin tertantang, di tahun kemudian aku menggunakan benang wol dan menambah kayu agar topeng burung kedidi menjadi lebih besar dan indah. Menambah lagi potongan bambu kecil agar menjuntai2 seperti rambut gimbal dan diselingi buah karet. Topeng ini pun pernah ikut dalam karnaval internasional di seychelles island. Namun sayang, topeng itu pun sekarang tidak tahu lagi keberadaannya dimana sejak pulang ke Bangka, topeng itu sering dipinjam kakak kandungku, saat dibalikin topeng itu mulai rusak, kemudian teman-teman seniman lain yang mengajar pawai budaya juga meminjam topeng tersebut untuk anak-anak sekolah, sedikit banyak aku menyesal memberi pinjaman tersebut namun apa yang dapat dikata aku membantu orang yang membutuhkan bantuan, akhirnya aku tidak memproduksi topeng itu lagi.
Aku kemudian fokus meneliti dan mencari properti-properti kreasi baru dari bahan-bahan alam dan aku belum menemukannya hingga sekarang ini, karena aku fokus pada tarian tradisional Kedidi, tari ini membutuhkan seorang kreator agar gerakannya tetap terjaga dan berkembang. Fokus ini membuatku terhenti memproduksi properti tari.
Gerak tari kedidi aku kembangkan menjadi gerak tradisional kedidi versi Sungailiat sedangkan kedidi itu sendiri berasal dari desa Menduk kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka. Tari kedidi ini pun telah di buku kan menjadi tari tradisional milik Bangka Belitung. Selain itu tari dan silat Kedidi ada juga di daerah Tempilang dan Puding Besar, kemiripan tari ini tidak bisa dipungkiri lagi, karena satu daerah dan satu seperguruan atau satu guru pada masa lalunya karena bapak Komarulzaman pernah mengatakan kalau adik dan teman seperguruannya juga murid Abdul Latief hampir ribuan yang sudah tersebar diseluruh Bangka dan besar kemungkinan Tari dan Silat Kediidi merupakan satu keturunan. Aku belajar tari kedidi ini sejak tahun 2006 dari pewaris tari kedidi Almarhum bapak Komarulzaman, dan aku ucapkan terima kasih kepada Almarhum atas kebaikannya aku dapat menjaga dan mengembangkan tari kedidi dan terima kasih juga kepada Juhar murid kesayangan almarhum juga kepada penari-penari dan pemusik kedidi desa Menduk yang menjaga tari tradisional yang indah ini.
Sampai saat ini aku masih aktif berkesenian, mengajar generasi muda menari, membuka sanggar sejak tahun 2010, menjadi juri di festival-festival daerah Babel, juri FLS2N SD, SMP dan SMA di daerah Bangka Belitung.
Aku juga memberikan kesempatan kepada penari-penariku untuk menciptakan gerakan-gerakan tari dari diri mereka sendiri, bergerak mengikuti kehendak hatinya dan memberikan kesempatan mereka membuat tarian. Hal ini kulakukan untuk menumbuhkembangkan percaya diri mereka, juga aku ingin melihat apa yang mereka dapat setelah sekian lama mereka melihat caraku membuat tarian.


penulis: Agus Yaman

Senin, 12 Agustus 2019

Cara Singkat Mencipta Tarian



MENCIPTA TARIAN

Membuat seni pertunjukan, seperti: tari kreasi, drama tari, seni kontemporer, kolosal, berpasangan dan sebagainya dapat di awali dari pembuatan gerak atau musik, dapat juga dari ide garapan, melihat kehidupan masyarakat, melihat alam, melihat binatang, melihat busana orang lain, menemukan tema dan sebagainya, itu menurut mood sang kreator, seperti saat kreator sedang bersedih, bahagia, kalem dan sebagainya, ia menemukan idenya menurut keadaan mood.
Menciptakan tarian itu mudah tapi sulit, sulit tapi mudah, itu yang dikatakan kebanyakan seniman dan menurut kegunaan dan pemanfaatan untuk apa tarian itu ia buat, untuk itu tarian tidak boleh dianggap enteng dan tidak bisa dibuat asal-asalan, harus ada konsep atau tema, demikian dikatakan seniman. Seperti tari tradisional yang ada didaerah-daerah tercipta karena kebiasaan dari kegiatan masyarakatnya, ada yang tercipta karena kebiasaan nelayan yang melewati jalur sungai dan melihat sekelompok burung yang mencari kepiting untuk dimakan, dari melihat kehidupan ini nelayan menirukan kebiasaan burung itu dan membentuknya jadi tarian yang diiringi ketukan-ketukan pada badan perahu. Contoh lainnya kebiasaan pesta setelah panen raya yang dihibur oleh musik dan masyarakatnya menari-nari, kebiasaan-kebiasaan ini menciptakan tari tradisional.
Demikian juga jaman sekarang, sang kreator membuat tarian menurut kebiasaannya, jika  tidak menemukan ide ia tidak akan membuat tariannya. Biasanya koreografer membuatnya dari konsep, bisa juga saat mendengar musik, dari busana, atau darimana saja yang ia kehendaki. Kemudian dialah yang mencocokkan musik, properti dan busana yang ia inginkan. Untuk itulah ia membutuhkan komposer dan penata busana untuk bekerjasama dan membantu pemikirannya agar keinginannya tercapai.

PERBEDAAN TARIAN UNTUK ANAK HINGGA ORANG DEWASA

TAMAN KANAK-KANAK

Tarian anak-anak Preschool/TK/PAUD/Rumah Bermain dan semacamnya di usia  2 - 4 tahun sangat berbeda dengan tarian-tarian SD, SMP, SMA dan umum dalam mengajarkan tarian atau membuat tarian. Namun tidak menutup kemungkinan anak kecil ini mampu menari seperti tingkat umum. Anak-anak ini jelas lebih suka bermain, tariannya pun baiknya tidaklah terlalu berat, bisa membuatnya menjinjit-jinjit kecil, gerak2 tangan kanan kiri, goyang kepala, pola lantai yang simpel lebih membuat mereka bergembira dan bila lebih meriah jika tarian sambil bernyanyi, dengan busana segar seperti busana hewan-hewan, topi kelinci, busana peri, malaikat, pohon dan sebagainya agar pementasan anak-anak tersebut terlihat segar. Hal seperti ini dapat anda lihat pada film-film keluarga di televisi. Tiap orang pasti menyukai anak kecil apalagi anak-anak ini pentas pada panggung pertunjukan dengan membawa tema dunianya anak-anak, jangan membuat karya anak-anak menjadi dunia orang dewasa karena sudah pasti banyak yang tidak menyukainya.


ANAK SEKOLAH DASAR

Anak-anak sekolah dasar berusia 5 - 11 tahunan mulai menanjak dalam membuat tarian dan kepenariannya pun dapat di atas rata-rata, karena tarian untuk anak SD ini sudah bisa mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Festival ini berjenjang, mulai dari gugus di kecamatan, bila juara 1 maka berhak ikut FLS2N tingkat Kabupaten, kemudian provinsi lalu Nasional. Lomba seperti ini dipastikan dapat meningkatkan percaya diri anak dan mereka semakin mengasah kemampuan bakatnya dan sudah pasti bermanfaat bagi mereka.
Tarian anak SD ini interaktif, koreografer membuat tarian ini disertai permainan-permainan layaknya permainan anak-anak, contohnya bila tema tentang berkebun/bertani maka tarian diselingi senda gurau anak-anak yang bercocok tanam sambil bermain-main, lempar-lemparan, tertawa-tawa dengan memanfaatkan properti yang ada diperkebunan itu. Contoh lainnya, saat mendorong kereta dorong yang ada dikebun dijadikannya alat bermain, dan sebagainya. Interaktif-interaktif ini menjadikan tarian anak SD ini menjadi segar layaknya dunia anak-anak tanpa meninggalkan kesan menari yang kompak. Perkiraan persentase nya adalah 50 % - 50%, untuk permainan dan kekompakan, karena tarian ini lebih menonjolkan dunia anak-anak. Dimasa sekarang cukup banyak koreografer mencari atau memanfaatkan anak-anak yang pandai senam lantai dan akrobatik di sekolahnya, hal ini untuk memperkuat garapannya.



ANAK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Garapan tari anak SMP ini sudah pada tahap pembentukan kepenarian anak remaja, artinya keseriusan pada pola lantai, gerak, karakter diharapkan diatas anak SD. Kebanyakan koreografer sudah memaksakan diri agar anak SMP ini sudah menjadi penari handal layaknya penari-penari profesional atau tidak ada yang bermain-main kecuali menyesuaikan pada tema garapan, dan ini pun lebih sedikit dibanding gerakan kompak sekitar 30 % - 70% namun semua hak pada koreografer ingin menggarap berapa persen permainannya. Baiknya saya sarankan 30 % permainan atau karakter anak-anak, ini agar garapan tetap segar dan dapat dilihat anak-anak yang tumbuh menjadi remaja. Panitia FLS2N pun sudah menetapkan tiap tahunnya tema-tema yang sesuai untuk anak SMP ini, seperti: Tema kepahlawan, kepedulian terhadap mahluk hidup yang ada disekitar dan sebagainya. 

Piagam penghargaan atau pun sertifikat sebagai peserta maupun sebagai juara festival tari tingkat umum maupun remaja suatu saat akan berguna bagi mereka tapi sayang panitia sering melupakan piagam ini, hanya mempersiapkan piala dan uang pembinaan, padahal piagam adalah penghargaan yang nantinya dapat mereka pergunakan untuk melanjutkan sekolah, untuk keperluan kuliah, beasiswa dan sebagainya. Untuk itu saya tekankan kepada panitia penyelenggara festival-festival seni budaya baiknya memberikan piagam penghargaan kepada tiap peserta.


ANAK SEKOLAH MENENGAH ATAS

Untuk anak SMA dan SMK atau yang sederajat, garapan tarian lebih dewasa dan tidak kekanak-kanakan seperti anak SD, namun tarian anak-anak SD boleh bergerak dengan gerakan anak SMP maupun SMA bahkan boleh berkarakter bapak-bapak ibu-ibu kakek atau nenek, sedangkan anak SMA atau umum seperti bapak-bapak ibu-ibu janggal jika memerankan peran anak kecil kecuali karakternya memang sesuai tema penyelenggaraan menjadi anak-anak jika dibutuhkan seperti acara humor atau lawak-lawakan lainnya agar perannya lebih lucu. 
Biasanya tarian anak SMA ini 80%s sampai 100% gerakan full serius, pemantapan gerak dan pola lantai serapi-rapinya kecuali tema yang disodorkan koreografer lebih atraktif atau tema yang ia kehendaki lebih kreatif atau humor. Hak berada sepenuhnya milik koreografer.
Pada FLS2N pun tema-tema yang disodorkan panita berbeda dari tema SD dan SMP tentang kebersamaan terhadap sesama, perlindungan terhadap alam, dan sebagainya.
Jadi panitia FLS2N sudah memilah-milah kecocokan tema anak SD, SMP dan SMA, jadi disini panitia menghendaki perbedaan garapan terhadap tingkatan sekolah tersebut.




UMUM

Nah, kalau tingkat umum benar-benar dirasakan kebebasannya oleh koreografer dalam berkesenian, namun tetap pada etika dan norma-norma yang ada dalam rakyat Indonesia. Kebebasan menggarap tarian itu diperbolehkan bagi anak SD, SMP, SMA, perguruan tinggi atau siapapun yang berminat mengikuti festival ditingkat umum. Sedangkan tema garapan tetap ditentukan oleh panitia penyelenggara. 
Gerakan, komposisi/pola lantai, busana serta properti menjadi kebebasan koreografer untuk menggarap tarian, dan tarian-tarian itu boleh dikembangkan olehnya dengan intelektualnya, seperti garapan yang berlandaskan tari tradisional, mengkreasikan tarian yang sudah ada atau membuat gerakan sendiri serta mencetus ide-ide baru Demikian juga dengan komposer maupun penata busana, mereka boleh meneliti mengkreasikan musik-musik tradisional daerah mengkolaborasikan dengan alat musik modern atau membuat musik untuk dijaman sekarang.


penulis : Agus Yaman