Sekelumit Insting Pria masa Pedekate
Pria akan mengambil peran sebagai orang yang perhatian
untuk mendapatkan hati seorang perempuan yang disukainya, apalagi dalam masa
pendekatan. Pria akan memperlihatkan komunikasi (berhubungan) yang baik dari
awal hingga akhirnya perempuan itu akan dijadikannya teman hidup.
Ia akan terus berusaha agar
dipandang baik dari keluarga perempuan, dan berusaha selalu melangkah di jalur
yang benar dengan membuang sifat otoriternya terhadap perempuan atau berusaha
untuk tidak memonopoli perempuannya.
Harapan pria adalah pandangan
perempuan terhadap dirinya pria pilihan terbaik, secara langsung dari sikap ia
memperlihatkan kebaikannya sebagai pelindung dan akan membuat perempuannya
bahagia bila berada didekatnya. Ini wajar adanya karena pria memang memiliki
keinginan, sikap dan sifat demikian.
Pria merupakan pengatur/penentu jalan hidup dirinya sendiri dan penentu arah
kebahagiaan keluarganya nanti karena ia diciptakan sebagai kepala rumah tangga,
ia diharuskan mampu mengatur dan bertahan walau dalam keadaan sesulit
apapun.
Perempuan dianggap memiliki
insting (naluri) yang kuat terhadap pola perilaku pria. Hal ini tidak
dipelajari tapi sebagai mahluk yang melahirkan, hati mereka mudah berreaksi
terhadap sikap/perlakuan pria terhadapnya, maka mereka mudah menentukan pilihan
hatinya, namun tidak menutup kemungkinan insting mereka kadang salah.
Pria akan memperlihatkan daya
tariknya ketika mendekati perempuan yang ia sukai, haruslah emosinya tidak naik
turun, ia harus bisa mempengaruhi suasana hati perempuan agar komunikasi mereka
efektif. Ia harus menjadi pria yang stabil, harus mampu menempati posisi
sebagai pria berhati kuat, bukan pria yang mudah rapuh. Diterima atau tidak,
bukan masalah bagi pria berhati kuat.
Semua pria adalah mewakili
tabiat pria yang lain, demikian juga para perempuan, karena itulah bagi
sebagian orang yang pernah dikecewakan mengutarakan kalimat, "semua
laki-laki sama saja." Atau, "semua wanita sama saja." Persepsi
manusia itu mengenali/menafsirkan sesuatu informasi mahluk hidup dari gambaran
yang sudah pernah terjadi pada dirinya atau dari kisah-kisah orang terdekatnya,
atau sudah dialaminya pada satu atau dua orang. Jadi tiap diri secara tidak
langsung mewakili individu yang lain.
Tidak banyak pria yang berani
terus berjuang mendapati perempuan, bahkan mereka rela bersaing. Pastinya pria
yang mundur sopan dalam persaingan adalah yang terbaik. Ia bukan pengecut namun
memandang perempuan bukanlah mahluk yang harus diperebutkan. Cinta hadir dari hati, namun
jodoh berasal atas usaha dan doa (doa tanpa usaha percuma, usaha tanpa
doa tersesat).
Dalam masalah memperebutkan
hati perempuan, itu dilakukan oleh orang-orang yang suka unjuk kekuatan,
biasanya unjuk kekuatan harta. Ia yang kaya raya pastinya di pandang lebih
unggul karena harta adalah bagian dari "pandangan cinta duniawi," dan
cinta duniawi kalah oleh kasih sayang.
Tidak semua pria berjalan
mulus mendapat pasangan hidupnya, ada yang sulit menjalani komunikasi/hubungan,
terhenti di tengah jalan karena tidak ada restu, ditikung orang, di tolak dan
sebagainya. Namun walau mengalami hal tidak baik itu, tidak baik juga membuat
hati sendiri lumpuh.
Perbedaan agama, permasalahan
keluarga dan etnis juga kadang menjadi alasan pasangan manusia tidak menyatu.
Jika ditelusuri, permasalahan keluarga, etnis dan agama dapat terselesaikan
dengan mudah bagi mereka yang masih mencintai "duniawi", jawaban yang
umum saja, yaitu "ekonomi yang mapan". Ekonomi dapat mempengaruhi
mereka dan tidak mengindahkan apa itu sosial, budaya, dan agama.
Titik krusial (genting) pada
pria yang selalu beralasan "saya belum sukses/mapan," pastinya ini
menyangkut keuangan, bisa jadi caranya membuka lapangan pekerjaan bagi diri
sendiri dan pengelolaan keuangannya yang kurang tepat. Jika ada yang
beranggapan perempuan itu boros dalam keuangan, malah pria juga boros. Pria
masa-masa berkembang dalam pendapatan, pada sewaktu-waktu tidak mengetahui
uangnya habis untuk apa. Namun kebanyakan mereka habiskan untuk memenuhi
kegemarannya (hobi). Hobi terus berkembang mengikuti besaran pendapatannya.
Mudah atau tidaknya
mendapatkan pasangan juga ditentukan oleh cara berkomunikasi. Tingkat tertinggi
dalam pergaulan tidak ditentukan latar belakang harta, budaya, agama dan etnis
tapi berdasarkan lingkaran emosional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar