Translate

Senin, 11 Januari 2021

 Sekelumit Insting Pria masa Pedekate

Pria akan mengambil peran sebagai orang yang perhatian untuk mendapatkan hati seorang perempuan yang disukainya, apalagi dalam masa pendekatan. Pria akan memperlihatkan komunikasi (berhubungan) yang baik dari awal hingga akhirnya perempuan itu akan dijadikannya teman hidup. 

Ia akan terus berusaha agar dipandang baik dari keluarga perempuan, dan berusaha selalu melangkah di jalur yang benar dengan membuang sifat otoriternya terhadap perempuan atau berusaha untuk tidak memonopoli perempuannya.

Harapan pria adalah pandangan perempuan terhadap dirinya pria pilihan terbaik, secara langsung dari sikap ia memperlihatkan kebaikannya sebagai pelindung dan akan membuat perempuannya bahagia bila berada didekatnya. Ini wajar adanya karena pria memang memiliki keinginan, sikap dan sifat demikian.

Pria merupakan pengatur/penentu jalan hidup dirinya sendiri dan penentu arah kebahagiaan keluarganya nanti karena ia diciptakan sebagai kepala rumah tangga, ia diharuskan mampu mengatur dan bertahan walau dalam keadaan sesulit apapun. 

Perempuan dianggap memiliki insting (naluri) yang kuat terhadap pola perilaku pria. Hal ini tidak dipelajari tapi sebagai mahluk yang melahirkan, hati mereka mudah berreaksi terhadap sikap/perlakuan pria terhadapnya, maka mereka mudah menentukan pilihan hatinya, namun tidak menutup kemungkinan insting mereka kadang salah.

Pria akan memperlihatkan daya tariknya ketika mendekati perempuan yang ia sukai, haruslah emosinya tidak naik turun, ia harus bisa mempengaruhi suasana hati perempuan agar komunikasi mereka efektif. Ia harus menjadi pria yang stabil, harus mampu menempati posisi sebagai pria berhati kuat, bukan pria yang mudah rapuh. Diterima atau tidak, bukan masalah bagi pria berhati kuat.

Semua pria adalah mewakili tabiat pria yang lain, demikian juga para perempuan, karena itulah bagi sebagian orang yang pernah dikecewakan mengutarakan kalimat, "semua laki-laki sama saja." Atau, "semua wanita sama saja." Persepsi manusia itu mengenali/menafsirkan sesuatu informasi mahluk hidup dari gambaran yang sudah pernah terjadi pada dirinya atau dari kisah-kisah orang terdekatnya, atau sudah dialaminya pada satu atau dua orang. Jadi tiap diri secara tidak langsung mewakili individu yang lain.

Tidak banyak pria yang berani terus berjuang mendapati perempuan, bahkan mereka rela bersaing. Pastinya pria yang mundur sopan dalam persaingan adalah yang terbaik. Ia bukan pengecut namun memandang perempuan bukanlah mahluk yang harus diperebutkan. Cinta hadir dari hati, namun  jodoh berasal atas usaha dan doa (doa tanpa usaha percuma, usaha tanpa doa tersesat).

Dalam masalah memperebutkan hati perempuan, itu dilakukan oleh orang-orang yang suka unjuk kekuatan, biasanya unjuk kekuatan harta. Ia yang kaya raya pastinya di pandang lebih unggul karena harta adalah bagian dari "pandangan cinta duniawi," dan cinta duniawi kalah oleh kasih sayang.

Tidak semua pria berjalan mulus mendapat pasangan hidupnya, ada yang sulit menjalani komunikasi/hubungan, terhenti di tengah jalan karena tidak ada restu, ditikung orang, di tolak dan sebagainya. Namun walau mengalami hal tidak baik itu, tidak baik juga membuat hati sendiri lumpuh.

Perbedaan agama, permasalahan keluarga dan etnis juga kadang menjadi alasan pasangan manusia tidak menyatu. Jika ditelusuri, permasalahan keluarga, etnis dan agama dapat terselesaikan dengan mudah bagi mereka yang masih mencintai "duniawi", jawaban yang umum saja, yaitu "ekonomi yang mapan". Ekonomi dapat mempengaruhi mereka dan tidak mengindahkan apa itu sosial, budaya, dan agama.

Titik krusial (genting) pada pria yang selalu beralasan "saya belum sukses/mapan," pastinya ini menyangkut keuangan, bisa jadi caranya membuka lapangan pekerjaan bagi diri sendiri dan pengelolaan keuangannya yang kurang tepat. Jika ada yang beranggapan perempuan itu boros dalam keuangan, malah pria juga boros. Pria masa-masa berkembang dalam pendapatan, pada sewaktu-waktu tidak mengetahui uangnya habis untuk apa. Namun kebanyakan mereka habiskan untuk memenuhi kegemarannya (hobi). Hobi terus berkembang mengikuti besaran pendapatannya.

Mudah atau tidaknya mendapatkan pasangan juga ditentukan oleh cara berkomunikasi. Tingkat tertinggi dalam pergaulan tidak ditentukan latar belakang harta, budaya, agama dan etnis tapi berdasarkan lingkaran emosional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar