Tari Tradisional Kedidi
Video terakhir Almarhum Bpk Kamarulzaman menari Kedidi sebagai pewaris terakhir Tari Kedidi
Indonesia
terdiri dari ribuan pulau dan berbagai suku yang memiliki seni budaya yang sangat
beragam. Keragaman seni budaya ini lahir dari masing-masing masyarakat di tiap
daerah dan menjadi kekayaan Bangsa Indonesia. Interaksi manusia dengan isi alam
menjadi suatu kegiatan masyarakat dan menjadi tanda sebagai lambang budaya atau
nilai yang tertanam di dalam masyarakat, termasuk didalamnya cerita rakyat.
Cerita
rakyat tiap daerah memiliki pesan dan makna yang berbeda dan menjadi identitas
daerah itu sendiri setelah ia dikenal masyarakat luas, sehingga orang mengenal
masyarakat suatu daerah itu dapat dari cerita-cerita rakyatnya yang kemudian
menjadi identitas seni budayanya.
Cerita
rakyat suatu kelompok masyarakat akan ditambah dengan bahasa, simbol busana
atau seni budaya masyarakatnya, yang berarti menjadi bagian kebudayaan itu
sendiri. Cerita rakyat di dalam kelompok masyarakat kemudian di adopsi pada
seni tari tradisional (klasik maupun kerakyatan), berpedoman atau berpijak pada
akar budayanya dari cerita-cerita rakyat terdahulu, dipelajari secara turun
temurun dan mengikuti kebiasaan yang dianut oleh masyarakat yang memiliki tari
tersebut.
Peran cerita
rakyat dalam seni tradisional sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat,
dimanfaatkan untuk prosesi acara sesuai kepentingannya, seperti keperluan
kepercayaan, kepentingan sosial maupun upacara pernikahan atau upacara adat.
Bentuk dan
fungsi cerita rakyat yang terkandung dalam seni tari tradisional menjadi bagian
dari kehidupan sosial-budaya masyarakat, cerita-cerita dan makna yang ada di
dalam seni tradisional merupakan pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada
masyarakat, dapat berupa bentuk gerak maupun bentuk kegiatan masyarakat itu
sendiri, seperti simbol-simbol, tanda-tanda ataupun lambang-lambang yang
berhubungan dengan kelahiran, pertumbuhan, kematian, air, tanah, tanaman dan
adat-kepercayaan.
Makna dalam
cerita rakyat dapat menggambarkan objek atau peristiwa di daerah tempat tinggal
masyarakatnya, mewakili alam didaerahnya dan kebudayaannya. Cerita rakyat dalam
tari tradisional ini turun temurun di masyarakatnya. Seperti di Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung, ada tari tradisional yang dinamakan Tari Kedidi.
Seni tari ini ada di Desa Menduk Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka,
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang di angkat dari kehidupan burung Kedidi
dan pelaku memberi nama Tari Kedidi sebagai tanda atau lambang kehidupan hewan
didaerahnya.
Menurut
cerita rakyat Menduk, burung Kedidi banyak hidup di muara sungai Menduk dan
rawa-rawa, sering ditemui nelayan. Gerakan burung ini lucu, terutama gerakan
ekornya ketika meloncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain di atas pelepah
nipah yang mengapung di atas air.
Sungai Menduk yang menjadi tempat ditemukannya burung Kedidi
aktivitas sehari-hari masyarakat Menduk
kampung Menduk
Sungai Menduk
Terbentuknya
tari tradisional Kedidi ini dapat disimpulkan sebagai hasil dari gambaran
manusia terhadap alam sekitarnya, makna tari Kedidi hasil penggambaran
masyarakat terhadap kehidupan dilingkungannya, kemudian makna gambaran itu
disempurnakan bersama dengan anggota masyarakat dan diajarkan secara turun
temurun, sehingga tari Kedidi dapat bertahan hingga sekarang ini.
Fenomena
yang ada di masyarakat Desa Menduk adalah salah satu anggota masyarakatnya
telah dipercaya sebagai ahli waris gerak tari Kedidi adalah Bapak Juhar (43).
Beliau adalah murid almarhum dari Bapak Komarullzaman (1935-2009) yang diyakini
masyarakat setempat sebagai pewaris tari Kedidi dari pendahulunya.Tari
tradisional tersebut diciptakan orang-orang terdahulu yang terinspirasi dari
alam lingkungannya lalu menciptakan tanda-tanda atau simbol-simbol, kemudian
cerita, makna, pesan tari Kedidi dipelajari secara turun temurun dan pada tiap
generasi.
Adapun informan
pendukung lain selain Bapak Juhar ada Bapak Khoiri (50) seorang petani
berprofesi sebagai pemain gambus tari Kedidi dan juga Bapak Kudung (48) seorang
petani dan pengurus kelompok seni Mekar Sari desa Menduk.
Menurut
cerita mereka, tari Kedidi diangkat dari gerakan burung Kedidi yang banyak
dijumpai penduduk pada masa lalu, melambangkan gerak-gerik burung Kedidi yang
konon banyak terdapat di sepanjang sungai Menduk. Burung Kedidi sejenis burung
yang suka berkelompok serta mempunyai keunikan terutama saat bermain-main
dengan sesama jenisnya, serta tingkahnya ketika mencari makanan seperti
kepiting kecil hitam di tepian sungai. Tari Kedidi pada dasarnya bersifat
pelipur lara, dan nelayan Menduk mereka mendapat inspirasi dari burung Kedidi
yang hidup di muara sungai dan rawa-rawa, sering ditemui nelayan disepanjang
tepian sungai, dan gerakannya lucu, terutama gerakan ekornya ketika meloncat di
atas pohon-pohon atau akar-akar kering dan pelepah nipah yang mengapung di atas
air.
Burung
Kedidi ini hidup di alam terbuka dan telah memberi inspirasi kepada nelayan
desa Menduk untuk menghibur diri bermain menirukan gerakan burung Kedidi,
kemudian menyusun tariannya, dan iringan musik pada mulanya dari bahan-bahan
yang ditemukan di alam sekitar seperti; kayu-kayu, batok kelapa dan lain-lain.
kemudian perkembangan tarian ini terinspirasi pada gerak-gerak kepiting yang
menjadi makanan burung Kedidi. Apabila perahu sedang berlayar mereka memukul
dinding perahu sebagai penghias iramanya.
Penulis
pernah menelusuri tepi sungai tersebut dan menunggu datangnya burung Kedidi
untuk diduplikasikan namun tidak menemukan apa-apa, salah satu teman mengatakan
kalau burung Kedidi mungkin masuk dalam kategori burung migrasi, yaitu burung
merujuk pada perjalanan musiman yang dilakukan oleh banyak spesies burung,
karena burung melakukan perjalanan panjang dengan terbang.
Sebagai
bentuk kesenian, tari Kedidi ini kemudian menjadi lebih menarik ketika diiringi
dengan alat musik dambus. Pada perkembangan selanjutnya memasukkan unsur silat
dan gerakan pedang berukuran kecil. Pada masa lalu tari dan silat Kedidi ini
sering dipertandingkan atau dipertontonkan antar desa di Bangka sehingga memicu
improvisasi gerak serta kepandaian dalam mengembangkan gaya masing-masing, pada
tiap desanya tapi dasar gerak burung Kedidi tetap dominan yang dapat memberi
nuansa lincah, lembut, genit, maupun gagah dengan unsur silatnya.
Pada acara
workshop Tari Kedidi pada tahun 2007, penulis juga hadir pada waktu itu, dan
acara yang diselenggarakan Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Bangka
di Pondok Mulia Sungailiat tersebut menghadirkan bapak Kamarullzaman sebagai
tokoh budaya pewaris Tari Kedidi yang lahir pada tahun 1935 di desa Menduk dari
orang tua Mat Ali dan H. Sopiyah. Di waktu muda almarhum seorang petani kadang
sebagai nelayan karena desa Menduk bersebelahan dengan sungai Menduk, selain
itu ia suka menari Kedidi dan bisa bermain musik, mengisi hiburan panen raya
dan perayaan desa lainnya.
Almarhum
belajar menari dan belajar memukul gendang dari orangtua-orangtua tetangganya
yang bernama Marimin dan Haji Asnawi. Menurut cerita Marimin dan Haji Asnawi,
dulu ada seorang bernama Abu Latief yang pertama menciptakan tari Kedidi dengan
bermain-main dipantai dan mendapat inspirasi dari gerak burung Kedidi dan terus
dicoba-coba perkembangan gerak tariannya. Abu Latief ini juga yang telah
menciptakan iringan musik dari bahan alami dan ketukan gendangnya dengan
memukul-mukul dinding perahu. Bapak Komarullzaman tidak mengenal Abu Latief,
tapi menurutnya diperkirakan hidup pada zaman kesultanan Palembang berkuasa
atas Bangka.
Setelah
Bapak Komarullzaman meninggal dunia pada tahun 2009, ahli waris yang ditunjuk
oleh almarhum Bapak Komarullzaman adalah Bapak Juhar, salah satu murid silatnya
dan murid yang telah diajarnya tari Kedidi. Hal ini diketahui setelah peneliti
mendapat keterangan dari anak perempuan almarhum Bapak Komarullzaman yang
bernama Jamma Annah (54 tahun):
Foto bersama penulis dengan Ibu Jamma Annah (anak bpk Kamarulzaman)
rumah peninggalan almarhum Bpk Kamarulzaman
"Pada
tahun 2009 bapak Komarullzaman meninggal dunia. Dengan disaksikan saya (anak
perempuannya), murid-murid Bapak Komarullzaman, masyarakat Menduk dan Juhar. Sebelum
meninggal, bapak menitipkan pesan kalau tari Kedidi ia wariskan kepada Juhar.
Juhar lah yang mengetahui tentang tari Kedidi".
Penulis
kemudian menemui Bapak Juhar dan Bapak Kudung dan melakukan wawancara dengan
mereka, dan menurut penuturan Bapak Juhar:
"Sejak
dulu Almarhum bapak Komarullzaman sudah membentuk komunitas silat Ma'rifat di
desa Menduk, dan sudah banyak murid-muridnya di Desa Menduk hingga di luar Desa
Menduk. Pada tahun 1992, pada malam hari disaat kami berempat, yaitu: saya,
Bujang, Sahak dan Hamzah sedang duduk berkumpul bersama almarhum bapak
Komarullzaman di rumah bapak Kudung. Disaat kami membicarakan tentang tari-tarian
yang ada di Bangka, tiba-tiba almarhum bapak Komarullzaman teringat disaat
beliau masih muda dulu pernah belajar tari Kedidi dengan paman-paman
sekampungnya. Di malam itu juga kami belajar gerak tari Kedidi".
penulis saat wawancara dengan Juhar
Bapak Kudung
menambahkan keterangannya:
"Sebelum
tari Kedidi diungkapkan bapak Komarullzaman ada di Desa Menduk, kami sebelum
tahun 1992 membentuk grup kesenian di Menduk, tapi saat itu kami hanya
mementaskan tari-tari Bangka seperti; bedincak (menari) dengan alunan gambus
atau mementaskan musik dambus Abu Samah, dan saat itu tari Kedidi belum
terbentuk di Desa kami, jadi disaat bapak Komarullzaman melihat grup kami
bedincak. Tercetuslah ungkapan dari bapak Komarullzaman kalau di daerah Bangka
ini ada tari yang paling unik, tapi karena bapak Komarullzaman tidak bisa
memperagakannya karena faktor usia dan faktor kesehatan, jadi diajarilah tari
itu kepada Juhar, Sahak, Hamzah dan Bujang. Seperti yang kita ketahui, orang
tua di Bangka ini ilmunya tentang tari Kedidi tidak dikeluarkannya, tapi pencak
silat yang dikeluarkannya. Jadi tari Kedidi itu sebenarnya sudah lama, tapi
mengajarkan tari Kedidi itu tahun 1992. Beliau hanya mengajarkan pencak silat
tapi karena kami disaat itu mempelajari bedincak dan bedambus, jadi
dikeluarkannya tari Kedidi. Saat itu kami semua berkumpul dan beliau memperagakannya
dengan duduk dilantai sambil mengatakan kalau tari Kedidi ini sudah tidak
dipentaskan lagi saat beliau masih remaja, karena tidak ada lagi anggota
masyarakat yang seumur beliau yang bisa menari Kedidi, karena teman-teman
penari Kedidi seumuran beliau sudah meninggal dunia, seperti; atok (kakek)
sanui, atok Noha dan bapak Komarullzaman".
Almarhum
Bapak Komarullzaman mengajarkan gerak tari Kedidi kepada Juhar, Bujang, Hamzah
dan Sahak dalam keadaan sudah tua, dan tidak kuat lagi memperagakan gerak tari
Kedidi, akibatnya Juhar dan kawan-kawan mempelajari gerak tari Kedidi tersebut
selama berbulan-bulan dengan pengawasan langsung dari Bapak Komarullzaman.
Usai latihan di rumah Kudung
Juhar
menambahkan keterangannya:
"Sejak
tahun 1992, tari Kedidi tidak pernah dipentaskan, hingga pada tahun 2006 tari
ini dipentaskan di acara peresmian Gedung Serba Guna di lingkungan Taman
Hiburan Rakyat Sungailiat Bangka. Gerak tari Kedidi ini cukup sulit dipelajari,
oleh karena itu, gerak tari Kedidi ini tidak mudah dikuasai, sampai kami
benar-benar siap dan betul-betul menguasai tari Kedidi baru kami siap pentas,
dan untuk pertama kalinya pentas di acara peresmian Gedung Serba Guna
tersebut".
Pada tahun
2006 itu juga, penulis untuk pertama kalinya melihat tari Kedidi, karena selama
ini penulis hanya melihat tari-tari daerah Bangka seperti tari Campak, Rodat,
tari sambut Bangka dan tari Gambus yang dipentaskan pada acara-acara pagelaran
daerah, dan sudah dianggap sebagai tari tradisional daerah Bangka Belitung.
Menurut
penuturan Bapak Kudung;
"Setelah
pentas di peresmian Gedung Serba Guna tersebut, barulah tari Kedidi sering
dipentaskan pada acara-acara hiburan rakyat di luar desa Menduk, dan yang
menjadi penari Kedidi pada saat itu adalah Juhar, Hamzah, Bujang dan
Sahak".
Almarhum
Bapak Komarullzaman telah mengajarkan tari kedidi dan silat kepada keempat
muridnya tersebut. Silat yang diajarkan kepada mereka kemudian menjadi bagian
dari gerak tari Kedidi. Keempat muridnya sudah mengembangkan tari Kedidi kepada
karakternya masing-masing dan telah memiliki pola-pola lantai yang di atur
dalam seni pertunjukan.
Walaupun
gerak keempat muridnya berbeda-beda namun memiliki dasar gerak tari Kedidi yang
sama, dan gerak keempat murid tersebut cukup berbeda dengan bapak Komarullzaman
sebagai generasi tua yang gerak tari Kedidinya lebih halus, klasik dan stabil
dibandingkan dengan murid-muridnya. Pengembangan yang dilakukan ke empat
muridnya terlihat pada variasi ke gerak pinggul, bahu dan kepala sehingga
kekuatan gaya pribadi yang dimodifikasi keterpaduannya ke dalam gerak dasar
tari Kedidinya masing-masing.
Untuk
mengetahui lebih jauh tentang makna tari Kedidi, penulis hendak mengetahui
bagaimana tentang tari Kedidi lebih jauh lagi. Bapak Juhar menerangkan;
"Burung
Kedidi itu memang ada, dan gerak burung Kedidi itu ditirukan oleh Abu Latief
dan diperagakannya. Burung Kedidi ini hidup disungai. Sedangkan bapak
Komarullzaman bukan belajar tari Kedidi dari Abu Latief, tapi Abu Latief masih
memiliki keturunan-keturunan yang mewarisi tari Kedidi, jadi Bapak Komarullzaman
belajar dari keturunan-keturunan itu".
Bapak Kudung
menambahkan keterangan;
"Abu
Latief memiliki keturunan-keturunan yang mempelajari tari Kedidi, seperti; Abu
Noha, Atok Noh, Atok duku, Atok Likur dan Atok Sanui. Atok Sanui ini dengan
Bapak Komarullzaman seperguruan, seperti Juhar dan Hamzah, sama-sama bisa nari
Kedidi".
Menurut
penjelasan almarhum Bapak Komarullzaman. Ia belajar menari dari
orangtua-orangtua tetangga sekampungnya di Menduk dengan ikut-ikutan menari
Kedidi layaknya anak kecil, baik dalam tari maupun musiknya. Paman-paman
tersebut yang semuanya sudah almarhum antara lain bernama Marimin dan Haji
Asnawi. Menurut cerita paman-pamannya, dulu ada seorang bernama Abu Latief yang
pertama menciptakan tari Kedidi dengan bermain-main ditepi sungai Menduk dan
mendapat inspirasi dari gerak indah dan lucu dari burung Kedidi dan terus
dicoba-coba perkembangan gerak tarinya.
Abu
Latief juga telah menciptakan iringan musik dari bahan alami yang ditemuinya
dan ketukan gendang ketika memukul-mukul dinding perahu. Beliau diperkirakan
hidup masa jaman kesultanan Palembang saat berkuasa atas Bangka.
Sekarang ini
ahli waris tari Kedidi Bapak Komarullzaman telah meninggal dunia dan untuk
memperkuat bahasan mengenai siapa yang yang menjadi ahli waris tari Kedidi
berikutnya yang ditunjuk langsung oleh almarhum Bapak Komarullzaman sebagai
penerus tari Kedidi adalah Bapak Juhar.
Penulis
menyimpulkan, Bapak Juhar yang ditunjuk langsung sebagai penerus tari Kedidi
dikarenakan usia Bapak Juhar lebih muda dibandingkan murid lainnya, dan gerak
tari yang diperagakan Bapak Juhar lebih teratur dan lebih halus dibandingkan
yang lain, dan hal tersebut dapat terlihat saat Bapak Juhar menarikan tari
Kedidi bersama ketiga temannya, dan Bapak Juhar dapat menjelaskan tiap makna
pesan gerak tari Kedidi.
Juhar saat memperaktekkan gerak tari Kedidi
Bapak Juhar
menerangkan;
"Dulu,
sebelum belajar tari Kedidi, saya adalah murid silat Bapak Komarullzaman dan
saya diajari tari Kedidi oleh Bapak Komarullzaman sejak tahun 1992. Jadi
bertahun-tahun Bapak Komarullzaman dalam keadaan kurang sehat mengajari tari
Kedidi itu dalam keadaan duduk, jadi saya menarinya dengan diperagakan tangan
dan kaki saja oleh bapak Komarullzaman. Saya mengikuti apa kata beliau, kata
beliau jongkok saya jongkok, kata beliau berdiri saya berdiri, kata beliau
tangannya melambai saya melambai. Berbulan-bulan diajari beliau gerak itu-itu
saja, sampai saya bisa dan meresapi gerakan tersebut. Setelah saya menguasai
semua gerakannya, baru saya peragakan didepan beliau semaksimal mungkin. Saat
saya tanya benar atau tidak yang saya peragakan, beliau katakan benar semua
yang saya peragakan, tidak ada yang salah sedikitpun. Saya teringat wasiat
almarhum, "Juhar, apabila setelah saya meninggal, kamu harus ikuti apa
kata-kata saya, jangan kamu tinggalkan. Jangan tinggalkan perguruan pencak
silat dan tari Kedidi, dan jangan kamu hilangkan kepada generasi-generasi yang
akan datang, harus kamu kembangkan". Pada waktu itu, disaksikan oleh anak
Bapak Komarullzaman, orang-orang dari dinas Pariwisata dan warga Desa Menduk.
Sejak itu saya memegang amanah beliau dan kemudian saya ajari anak-anak di desa
Menduk sekitar 15 anak. Dalam jangka waktu 2 bulan setiap malam saya ajari
anak-anak itu tari Kedidi".
"Pada
awal belajar tari Kedidi, kami diajarkan gerak kaki, dengan tumit kaki naik
turun berulang-ulang sampai kami terbiasa dengan gerakan tersebut. Setelah itu
baru kami diajarkan tiap gerak tari Kedidi dengan menggunakan pedang ditangan
kanan. Simbol dari pedang ini adalah jepit (sepit) kepiting, selain sebagai
simbol sepit kepiting, pedang ini juga sebagai ciri khas penari kedidi untuk
begamen yang artinya untuk bercanda sesama penari. Sedangkan tangan kiri
melambai-lambai bermakna sayap burung kedidi. Gerak kepala yang sesekali
bergoyang-goyang kekanan kiri dan turun naik menggambarkan kepala burung
Kedidi yang bermain di air, seperti kepala burung yang masuk ke air dan
mengibas-ngibaskan kepala untuk mengeringkan air dikepalanya".
Bapak Kudung
menambahkan keterangannya:
"Gerak
kaki yang mengenjit bergantian kaki kanan dan kiri bermakna sebagai gerakan
kaki burung Kedidi yang seolah-olah berjalan menjinjit diatas air sungai.
Diantaranya berjalan diatas papan, diatas dahan-dahan nipah yang hanyut diatas
air. Dalam tari Kedidi, pada awal gerak yang menurunkan pedang dengan kaki
kanan bertekuk dilantai dengan pedang diletakkan dihadapan kaki bermakna
sebagai menghormati para tetamu atau persembahan awal untuk para tetamu,
demikian juga dengan akhir tarian ditutup dengan penghormatan meletakkan pedang
dilantai dan merapatkan kedua telapak tangan dan memberi penghormatan kepada
para tetamu".
Semua
gerakan Kedidi pada dasarnya adalah gerakan yang diulang-ulang menurut batas waktu
yang mereka tentukan yang tentunya dengan mengikuti irama musik. Gerakan tari
Kedidi ini juga telah mereka berikan komposisi agar tarian ini menjadi lebih
menarik dan menjadi tari hiburan rakyat dan menjadi seni pertunjukan masyarakat
Desa Menduk. Hingga pada tahun 2007 mereka membentuk kelompok seni budaya
di Desa Menduk dengan nama kelompok Mekar Sari yang terdiri dari
masyarakat-masyarakat Desa Menduk.
Pada tahun
2017 kelompok ini dikelola oleh Bapak Kudung, sekaligus telah mengalami
perubahan dalam personil, dikarenakan personil yang lama sudah banyak yang
meninggal dunia dan sudah tidak sanggup lagi terjun ke dunia seni karena dalam
keadaan fisik yang lemah dan sakit, termasuk penari Kedidi yaitu; Bapak
Hamzah dan Bujang yang sudah sakit-sakitan.
Menurut
Bapak Kudung sebagai pengelola kelompok Mekar Sari;
"Bapak
Komarullzaman sejak masih bujangan (lajang) sudah belajar tari Kedidi, dan
sampai beliau tua mengajar silat kepada orang-orang Desa Menduk dan murid-murid
beliau juga banyak dari luar Desa, dan masih banyak yang masih hidup sampai
sekarang ini. Desa-Desa tersebut seperti: Desa Kota Kapur, Desa Payak Benue,
Desa Rukem dan lain-lain, kesemuanya belajar silat, namun tidak ada yang
belajar tari Kedidi, sedangkan yang belajar tari Kedidi hanya orang-orang di
Desa Menduk. Saat mereka belajar silat dan sebelum belajar tari Kedidi, mereka
sudah menggunakan pedang yang sekarang digunakan sebagai properti tari Kedidi,
selain itu juga menggunakan tembung (toya/kayu panjang). Nama perguruannya
Pateh Teset dengan nama silat Ma'rifatullah".
Kudung
termasuk orang yang cukup berperan penting dalam terjadinya proses interaksi
antara Bapak Juhar dan Bapak Komarullzaman dalam mempelajari tari Kedidi,
karena mereka belajar tari Kedidi di rumah Bapak Kudung. Hal ini telah
dikemukakan oleh anak perempuan almarhum Bapak Komarullzaman.
"Bapak
mengajarkan tari Kedidi dirumah Pak Kudung dan mengajar silat di
lapangan-lapangan yang ada di kampung ini. Murid-murid Bapak terbatas, sekitar
40 sampai 50 orang. Tapi kalau masalah tari Kedidi saya tidak bisa
menceritakannya, karena Bapak tidak pernah cerita kepada kami seperti apa dan
bagaimana tari Kedidi itu, tapi kalau masalah tari Kedidi tanya saja kepada
Juhar, dia mengerti masalah tari Kedidi. Jadi Bapak telah mengatakan kalau yang
mewarisi tari Kedidi adalah Juhar".
Oleh karena
itu, penulis lebih banyak meneliti tari Kedidi dari Bapak Juhar sebagai orang
yang berinteraksi langsung dengan almarhum Bapak Komarullzaman dan mempelajari
makna tari Kedidi.
Perbedaan
dalam gerak dan pola lantai Tari Kedidi dari keempat murid almarhum Bapak
Komarullzaman dengan Bapak Komarullzaman terlihat saat peneliti melakukan
observasi ke desa Menduk pada tahun 2007. Dalam video tari Kedidi yang
ditarikan almarhum Bapak Komarullzaman dan empat muridnya Juhar, Hamzah, Sahak,
dan Bujang, terdapat perbedaan gerak tari Kedidi. Almarhum Bapak Komarullzaman
menarikan tari Kedidi dengan unsur silat dengan arah pedang lebih banyak
menangkis dan menusuk, namun gerak kaki tetap pada langkah tari Kedidi dan
penutup tarian dengan gerakan hormat dengan meletakkan pedang di tanah/lantai
dan bersedekap tangan.
Selain
mengajar tari Kedidi, almarhum Bapak Komarullzaman juga mengajarkan silat
kepada murid-muridnya yang berarti perpaduan antara silat dan tari merupakan
kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam gerak tari Kedidi yang diperagakan
oleh almarhum Bapak Komarullzaman, lebih banyak menggunakan unsur silat,
sedangkan keempat muridnya lebih kepada gerak tari Kedidi yang bersifat
menghibur, karena keempat muridnya sudah melakukan pola-pola lantai yang
teratur, gerak kaki, tangan, bahu, pinggul dan kepala sudah terarah pada
komposisi tarian.
Perbedaan
gerak keempat murid tersebut dengan almarhum Bapak Komarullzaman adalah;
almarhum Bapak Komarullzaman menarikan tari Kedidi dengan unsur silat yang
lebih banyak dibandingkan keempat muridnya.
Setelah
melihat gerak, komposisi dan pola lantai dari keempat murid almarhum Bapak
Komarullzaman, namun persamaan gerak keempat muridnya dengan almarhum Bapak
Komarullzaman adalah karakter jinjit kaki, gerak tangan yang memegang pedang,
dan mengangkat kaki dengan tumit diletakkan dilutut kaki yang lain. Selain itu,
persamaannya adalah gerak penutup dengan meletakkan pedang di lantai. Dari
gerak ini dapat dilihat gerak silat telah diadopsi ke dalam gerak tari Kedidi,
dan ini merupakan penggabungan seni silat ke dalam tari Kedidi.
Gerak tari
Kedidi terlihat monoton dan diulang-ulang, namun dalam gerak tersebut terdapat
makna pesan yang ingin disampaikan.
Bapak Juhar
menambahkan keterangannya;
"Pada
akhir tarian ada gerakan meletakkan pedang di lantai di depan penari yang
berjongkok, dan ke empat penari memberi hormat setelah iringan musik selesai.
Penghormatan disini sebagai akhir dari pertunjukan tarian dan penggabungan
antara hormat silat melayu dan menggambarkan kesopanan masyarakat Menduk
setelah menari menghibur para tetamu dan masyarakat/penonton".
Sekarang
ini, keempat murid almarhum Bapak Komarullzaman kecuali Bapak Juhar, sudah
semakin tua dan sudah sakit-sakitan, diantaranya adalah Bapak Hamzah dan Bapak
Bujang. Keduanya sudah tidak mampu lagi untuk menari Kedidi, sedangkan Bapak
Sahak sudah pindah ke desa Labu dan mengajarkan tari Kedidi kepada generasi
muda di desa Labu. Sedangkan Bapak Juhar masih tinggal di Desa Menduk dan masih
mampu untuk menari Kedidi di desa Menduk, dan sudah mengajari tari Kedidi
kepada beberapa generasi muda.
Penulis
kemudian mengkaji bagaimana musik kedidi dapat terbentuk di dalam tari Kedidi
dalam menyesuaikan gerak dan musik sesuai dengan jawaban Bapak Khoiri sebagai
pemain Gambus. Sebagai bentuk kesenian atau sebagai tari hiburan rakyat tari
Kedidi ini kemudian di iringi dengan alat musik Dambus, gendang nduk dan anak
(besar dan kecil), dan gong. Dalam musik tari Kedidi, terdapat syair yang
mengikuti alunan dambus, syair lagu tradisional tersebut berupa pesan-pesan
bagi pendengarnya. Berikut ini syair lagu yang terdapat dari Bapak Khoiri;
Tinggi
Bawang
Nek
setinggi-tinggilah bawang (Mau setinggi-tingginya daun bawang)
Berkembang
boleh bedaun jangan (Berbunga boleh berdaun jangan)
Nek
menarilah kau dayang (Mau menari menarilah kau gadis)
Berkembang
boleh besundung jangan (Berbunga boleh saling iri jangan)
Buah
cempedak daun sejajar (Buah cempedak daun sejajar)
Lain dengan
si buah padi (Berbeda dengan si buah padi)
Kami budak
baru belajar (Kami anak-anak baru belajar)
Budaya kita
tari Kedidi (Budaya kita Tari Kedidi)
Anak katak
di batang padi (Anak katak di batang padi)
Nek
ditangkap melangkah pagar (Mau ditangkap melangkah pagar)
Langkah
pencak Tari Kedidi (Langkah pencak Tari Kedidi)
Marilah kita
semua belajar (Marilah kita semua belajar)
Hari teduh
ngelambur layang (Hari teduh menaikkan layangan)
Putus tali
dilambung angin (Putus tali dibawa angin)
Kawan jauh
di bayang-bayang (Kawan jauh di bayang-bayang)
Datang
kemari kita bermain (Datang kemari kita bermain)
Mari datang
membawa dulang (Mari datang membawa tempat makanan)
Gi ke sungai
mencuci muka (Pergi ke sungai mencuci muka)
Hari petang
kami nek pulang (Hari petang kami mau pulang)
Pulang
berimbai di aik mata (Pulang berlinang si air mata)
Dalam musik
tari Kedidi ini, syair lagu adalah berupa pantun yang isinya pesan-pesan moral,
sindiran dan lain-lain. demikian juga dengan syair dalam tari Kedidi. Bait demi
bait syair merupakan pantun dengan dua bait akhiran yang sama.
Menurut
penjelasan Bapak Khoiri selaku pemain gambus dan penyanyi lagu tari Kedidi,
beliau mengatakan;
"Syair
dalam lagu tari Kedidi merupakan pantun berbahasa Bangka, bukan bahasa khusus
desa Menduk, karena bahasa Bangka lebih mudah dimengerti oleh masyarakat Bangka
seluruhnya. Sedangkan lagu Tinggi Bawang ini, menurut almarhum Bapak Komarullzaman,
Tinggi Bawang itu berarti seorang gadis maupun pria yang sudah mulai dewasa.
Dalam syair nek setinggi-tinggilah bawang, yang bermakna mau beranjak dewasa,
dewasalah. Berkembang boleh bedaun jangan, maknanya adalah diantara dua orang
teman, dan salah satunya ada yang menikah dan mendapatkan satu anak, maka
giliran teman yang satunya yang belum menikah untuk menikah dan tidak saling
melarang-larang. Nek menarilah kau dayang, artinya selagi masih gadis mau
menari, maka menarilah. Berkembang boleh besundung jangan. Dimaksudkan untuk
memberi kesempatan kepada teman yang lain untuk menikah dan memiliki anak juga.
Disini terdapat perjanjian diantara kedua teman".
"buah
cempedak daun sejajar. Bait syair ini hanya sebuah awal pantun yang kemudian
dilanjutkan dengan bait kedua, lain dengan si buah padi. Kedua pantun tersebut
hanya memberi pesan perbedaan dua buah, lalu baik ke tiga dan ke empat yang
menjadi isi dari pantung. Kami budak baru belajar, budaya kita tari Kedidi.
Bait ini memberi makna jika penari-penari tari Kedidi hanyalah anak kecil yang
baru belajar menari tari Kedidi untuk memperkenalkan budaya tari Kedidi daerah
Menduk".
"anak
katak di batang padi, nek ditangkap melangkah pagar, bait-bait syair ini juga
merupakan pengawal pantun yang kemudian akan dilanjutkan dengan isi dari
pantung. Langkah pencak tari kedidi, marilah kita semua belajar. Makna syair
disini adalah gerak tarian Kedidi berisi langkah-langkah dari pencak Kedidi
yang berarti tari Kedidi berhubungan erat dengan pencak silat dan yang menari
kedidi baiknya juga mengajak semua orang untuk belajar tari Kedidi".
"Hari
teduh ngelambur layang, memiliki makna disaat cuaca siang hari dan tidak ada
angin yang berhembus, layang-layang kenapa harus dinaikkan. Putus tali
dilambung angin, saat tali layang-layang putus, angin pun melambungkan
layang-layang. Dua bait syair ini juga merupakan pembuka pantung untuk
menyampaikan maksud dari isi pantun yaitu; kawan jauh di bayang-bayang, datang
kemari kita bermain. Teman yang tinggal jauh dari kami masih ada dalam
kenangan, seandainya dapat datang ketempat asalnya bisa bermain-main tari
Kedidi bersama-sama".
"mari
datang membawa dulang, arti dari pantun ini adalah ajakan bersama-sama membawa
dulang (wadah/tempat makanan tradisional yang biasa digunakan untuk membawa
makanan ke masjid-masjid untuk makan bersama). Gi ke sungai mencuci muka. Sama
artinya dengan pergi kesungai untuk mencuci muka. Dua syair ini juga merupakan
pantun pembuka untuk menyampaikan makna dari syair berikutnya, hari petang kami
nek pulang, pulang berimbai di aik mata. Setelah semua kegiatan menari Kedidi
dan semua kegiatan masyarakat setelah hari mulai sore menuju malam, penari
Kedidi sudah harus pulang dan pulang dengan suka duka penuh keharuan karena
sudah bisa menghibur masyarakat yang menonton tarian mereka".
"Sebenarnya,
lagu atau syair dalam tari Kedidi ini tidak harus lagu Tinggi Bawang, bisa
lagu-lagu atau syair-syair pantun lainnya, karena lagu tari Kedidi adalah
tergantung musim untuk dijadikan lagu tari Kedidi. Musim disini diartikan
disaat menari tari Kedidi pada musim panen masyarakat, maka lagu tari Kedidi
akan membicarakan tentang panen masyarakat. Demikian juga ketika menari Kedidi
saat musim menanam, musim menghibur, musim merayakan hari besar agama, dan
musim-musim lainnya. Jadi pantun di dalam lagu tari Kedidi dapat berubah-ubah
menurut keinginan kelompok seni tari Kedidi tersebut. Namun ciri khas dari lagu
tari Kedidi adalah lagu Tinggi Bawang. Tapi, tari Kedidi tidak berpatokan pada
lagu Tinggi Bawang saja, diperbolehkan menggunakan syair lagu bangka lainnya,
akan tetapi tetap berisikan pantun nasehat maupun pantun kelakar, dengan
iringan musik dambus dan alat-alat musik tari Kedidi, dengan pukulan gendang,
gong yang telah ditentukan. Tidak ada patokan harus menggunakan syair lagu
Tinggi Bawang".
Pesan-pesan
berupa sindiran, pesan moral dan nasehat tersebut mengikuti alunan Dambus yang
mengiringi tari Kedidi. Tujuan dari pesan dalam syair tersebut adalah untuk
para penari, penonton atau para pendengarnya.
Bapak Khoiri
menjelaskan;
"Dalam
tari Kedidi, gambus merupakan alat yang paling dominan, dan saat gambus di
petik di awal musik atau sebelum seluruh alat musik dimainkan, biasanya penari
terlebih dahulu menjinjit-jinjit naik turun untuk mencari irama tubuh mereka
dengan alunan gambus, dan setelah semua musik dimainkan, barulah penari
bergerak menarikan tari Kedidi. Biasanya kami mengakhiri tari Kedidi dengan
musik tari Kedidi itu bersama-sama atau selesainya serempak, dan itu sekitar 15
menit lebih. Namun ada saat tertentu dimana panitia penyelenggara biasanya
meminta kami untuk menarikan tari Kedidi sekitar lima menit atau tujuh menit,
maka kami sebagai pemusik akan saling berkomunikasi dengan penari Kedidi
bagian-bagian mana dari tari Kedidi tersebut yang akan kami kurangi dan syair
lagu pun kita persingkat atau tidak diulang-ulang, karena lagu gambus biasanya
dinyanyikan secara berulang-ulang".
Komunikasi
antara Bapak Juhar dan Bapak Khoiri tentang batasan-batasan dan tempo-tempo
musik atau mengurangi dan menambah gerak maupun musik merupakan bagian dari
interaksi antara dua orang untuk diterapkan dalam kelompok, agar dalam
menyampaikan simbol-simbol tari Kedidi tersebut tetap bermakna dan dapat
dimengerti penonton. Dalam hal ini, peran seluruh penari maupun pemusik sangat
penting, dan harus mengerti apa yang menjadi keinginan penata tari dan penata
musik.
Bapak Juhar
untuk menyempurnakan tanda dan makna-makna dalam musik dan syair yang ingin
disampaikan. Syair dan pukulan alat musik merupakan pendukung tari Kedidi, dan
ini merupakan kesenian masyarakat yang bersifat produk sosial masyarakat.
Musik Kedidi
adalah unsur penting dalam mendukung tari Kedidi hingga menciptakan seni budaya
daerah yang hanya dimiliki oleh daerah tersebut, dan para pemusik harus saling
berinteraksi antara satu dengan yang lainnya agar tercapai kesepakatan. Selain
itu, penari dan pemain musik tari Kedidi diharuskan mengetahui dan hafal setiap
detail tari dan musik Kedidi.
Bapak Khoiri
menambahkan;
"Selain
gambus, gendang nduk (ibu) berperan penting, ditambah dengan gendang anak.
Dalam tari Kedidi, diawali oleh petikan gambus pembuka, dan saat gambus mulai
masuk dalam musik tari dengan diikuti gendang, barulah tari Kedidi ditarikan.
Biasanya tari yang mengikuti pukulan gendang dan gong, sedangkan ketukan
gendang merupakan irama dari gerak tari Kedidi. Alat musik utama tari Kedidi
adalah gambus, sedangkan gendang nduk dan gendang anak adalah penyeimbang
antara musik dan gerak tari, dan gendang nduk dan anak ini akan
bersahut-sahutan atau saling mengisi satu sama lainnya. Untuk itu diperlukan
latihan yang panjang untuk saling menyatukan antara satu dengan lainnya, antara
pemusik dengan penari".
"Sedangkan
lagu Tinggi Bawang adalah menggunakan bahasa Bangka, secara umum masyarakat
Bangka mengetahui makna dari pantun-pantun lagu tari Kedidi, tapi lagu Kedidi
tidak wajib lagu Tinggi Bawang, dapat juga menggunakan pantun-pantun lain yang
sifatnya menghibur dan isi dari lagu tersebut dapat berubah-ubah menurut
keinginan dari pemain gambus".
Penulis juga
ingin mengetahui bagaimana busana dan properti tari Kedidi dapat terbentuk di
dalam tari Kedidi dengan perkembangan zaman. Jawaban dari informan yang
diperoleh peneliti adalah sebagai berikut;
Menurut
penjelasan Bapak Juhar;
"Dari
dulu kita tidak memiliki penata rias maupun busana, jadi kita secara kelompok
saling menata busana apa yang baik untuk tari Kedidi ini, dan sudah seharusnya
kami menggunakan busana melayu yang ada di Bangka Belitung ini, seperti; celana
panjang, baju teluk belanga (baju melayu pria Bangka), kain sarung dipinggang
yang digulung hingga diatas lutut (orang melayu menyebut kain tersebut
"rumpak"), dan ikat kepala atau bisa juga digunakan kopiah resam atau
kopiah hitam biasa. Namun indentitas busana tari Kedidi dari desa Menduk
sendiri adalah ikat kepala, baju teluk belanga, celana panjang dan ada cuken
juga. Cuken adalah sebutan kain yang menghiasi bagian luar antara baju dan
celana, yang digulung hingga diatas lutut".
"Menurut
ungkapan Bapak Komarullzaman dulu yang disampaikan kepada penari Kedidi, makna
dari ikat kepala itu sendiri adalah sebagai pria Menduk melambangkan pekerja
tani maupun nelayan, jadi disaat bekerja dan disaat matahari terik, ikat kepala
tersebut dapat dibuat sebagai penutup kepala melindungi dari sinar matahari.
Selain itu, kami menyebut kain sarung adalah kain cuken yang dapat kami gunakan
sebagai telesan (penutup tubuh) disaat mandi di sungai, dan dapat dijadikan
sebagai kain untuk beribadah, sedangkan ikat kepala dapat kami gunakan sebagai
alas untuk sholat. Karena kami sebagai pekerja adakalanya kami berada ditengah
hutan dalam keadaan terdesak untuk melakukan ibadah".
"Pada
intinya tidak ada busana yang menjadi identitas tari Kedidi, namun busana tari
Kedidi dari dulu hingga sekarang ini yang digunakan tersebut memiliki kegunaan
untuk keperluan sehari-hari kita, karena masyarakat Menduk adalah masyarakat
pekerja tani dan nelayan, jadi busana dalam tari Kedidi tidak memiliki busana
yang tetap atau baku".
Sedangkan
properti dalam dari tari Kedidi menggunakan pedang yang selalu digenggam di
tangan kanan, dan menurut penjelasan Bapak Juhar;
"Pedang
pendek/kecil yang digunakan dalam tari Kedidi digambarkan sebagai sepit
Kepiting. Burung Kedidi senantiasa mencari makan disungai Menduk. Kepiting
kecil berwarna hitam merupakan makanan kesukaan burung Kedidi. Oleh karena itu,
pedang dimaknakan sebagai Kepiting yang melawan burung Kedidi, dan inilah kami
anggap sebagai permainan antara burung Kedidi dan kepiting. Sedangkan burung
Kedidi yang berkelompok mengitari sungai dianggap mencari-cari kepiting."
pedang tari Kedidi
Pada tari
Kedidi, ada busana dan properti sebagai pelengkap dalam suatu seni pertunjukan,
dan menjadi bagian dari makna sebuah tarian. Hasil interaksi antara bapak Juhar
dengan pemusik maupun penata busana dan properti menciptakan kesempurnaan dalam
makna pesan tari Kedidi seutuhnya. Selain itu, perkembangan sosial masyarakat
desa Menduk juga akan mempengaruhi pengembangan dalam pernak-pernik maupun
asesoris dalam busana tari tersebut, karena perkembangan masyarakat memiliki
peran penting dalam interaksi sosial dan pengembangan tari Kedidi.
Makna dalam
asesoris tari Kedidi tersebut akan bereaksi terhadap perkembangan sosial
masyarakat, walaupun masih tetap berdasarkan makna pesan yang telah diajarkan
pendahulu tari Kedidi. Sedangkan Bapak Juhar dan Bapak Khoiri sebagai
komunikator tari Kedidi membatasi pengembangan tarian Kedidi demi menjaga
nilai-nilai yang ada dalam tari Kedidi itu sendiri, namun tidak menutup kepada
generasi muda untuk mengembangkan kreativitas tari daerah yang berpijak pada
tari Kedidi.
syuting tari Kedidi oleh generasi muda sanggar Rebang Emas untuk dokumentasi daerah