Translate

Senin, 11 Januari 2021

 Sekelumit Insting Pria masa Pedekate

Pria akan mengambil peran sebagai orang yang perhatian untuk mendapatkan hati seorang perempuan yang disukainya, apalagi dalam masa pendekatan. Pria akan memperlihatkan komunikasi (berhubungan) yang baik dari awal hingga akhirnya perempuan itu akan dijadikannya teman hidup. 

Ia akan terus berusaha agar dipandang baik dari keluarga perempuan, dan berusaha selalu melangkah di jalur yang benar dengan membuang sifat otoriternya terhadap perempuan atau berusaha untuk tidak memonopoli perempuannya.

Harapan pria adalah pandangan perempuan terhadap dirinya pria pilihan terbaik, secara langsung dari sikap ia memperlihatkan kebaikannya sebagai pelindung dan akan membuat perempuannya bahagia bila berada didekatnya. Ini wajar adanya karena pria memang memiliki keinginan, sikap dan sifat demikian.

Pria merupakan pengatur/penentu jalan hidup dirinya sendiri dan penentu arah kebahagiaan keluarganya nanti karena ia diciptakan sebagai kepala rumah tangga, ia diharuskan mampu mengatur dan bertahan walau dalam keadaan sesulit apapun. 

Perempuan dianggap memiliki insting (naluri) yang kuat terhadap pola perilaku pria. Hal ini tidak dipelajari tapi sebagai mahluk yang melahirkan, hati mereka mudah berreaksi terhadap sikap/perlakuan pria terhadapnya, maka mereka mudah menentukan pilihan hatinya, namun tidak menutup kemungkinan insting mereka kadang salah.

Pria akan memperlihatkan daya tariknya ketika mendekati perempuan yang ia sukai, haruslah emosinya tidak naik turun, ia harus bisa mempengaruhi suasana hati perempuan agar komunikasi mereka efektif. Ia harus menjadi pria yang stabil, harus mampu menempati posisi sebagai pria berhati kuat, bukan pria yang mudah rapuh. Diterima atau tidak, bukan masalah bagi pria berhati kuat.

Semua pria adalah mewakili tabiat pria yang lain, demikian juga para perempuan, karena itulah bagi sebagian orang yang pernah dikecewakan mengutarakan kalimat, "semua laki-laki sama saja." Atau, "semua wanita sama saja." Persepsi manusia itu mengenali/menafsirkan sesuatu informasi mahluk hidup dari gambaran yang sudah pernah terjadi pada dirinya atau dari kisah-kisah orang terdekatnya, atau sudah dialaminya pada satu atau dua orang. Jadi tiap diri secara tidak langsung mewakili individu yang lain.

Tidak banyak pria yang berani terus berjuang mendapati perempuan, bahkan mereka rela bersaing. Pastinya pria yang mundur sopan dalam persaingan adalah yang terbaik. Ia bukan pengecut namun memandang perempuan bukanlah mahluk yang harus diperebutkan. Cinta hadir dari hati, namun  jodoh berasal atas usaha dan doa (doa tanpa usaha percuma, usaha tanpa doa tersesat).

Dalam masalah memperebutkan hati perempuan, itu dilakukan oleh orang-orang yang suka unjuk kekuatan, biasanya unjuk kekuatan harta. Ia yang kaya raya pastinya di pandang lebih unggul karena harta adalah bagian dari "pandangan cinta duniawi," dan cinta duniawi kalah oleh kasih sayang.

Tidak semua pria berjalan mulus mendapat pasangan hidupnya, ada yang sulit menjalani komunikasi/hubungan, terhenti di tengah jalan karena tidak ada restu, ditikung orang, di tolak dan sebagainya. Namun walau mengalami hal tidak baik itu, tidak baik juga membuat hati sendiri lumpuh.

Perbedaan agama, permasalahan keluarga dan etnis juga kadang menjadi alasan pasangan manusia tidak menyatu. Jika ditelusuri, permasalahan keluarga, etnis dan agama dapat terselesaikan dengan mudah bagi mereka yang masih mencintai "duniawi", jawaban yang umum saja, yaitu "ekonomi yang mapan". Ekonomi dapat mempengaruhi mereka dan tidak mengindahkan apa itu sosial, budaya, dan agama.

Titik krusial (genting) pada pria yang selalu beralasan "saya belum sukses/mapan," pastinya ini menyangkut keuangan, bisa jadi caranya membuka lapangan pekerjaan bagi diri sendiri dan pengelolaan keuangannya yang kurang tepat. Jika ada yang beranggapan perempuan itu boros dalam keuangan, malah pria juga boros. Pria masa-masa berkembang dalam pendapatan, pada sewaktu-waktu tidak mengetahui uangnya habis untuk apa. Namun kebanyakan mereka habiskan untuk memenuhi kegemarannya (hobi). Hobi terus berkembang mengikuti besaran pendapatannya.

Mudah atau tidaknya mendapatkan pasangan juga ditentukan oleh cara berkomunikasi. Tingkat tertinggi dalam pergaulan tidak ditentukan latar belakang harta, budaya, agama dan etnis tapi berdasarkan lingkaran emosional

Selasa, 05 Januari 2021

Kambing Hitam
ilustrasi (foto:agusyaman)

Ironis saat seseorang mengkambing hitamkan oleh orang lain. Padahal dalam proses sosial, masyarakat dikehendaki untuk hidup secara netral, profesional, jujur dan bertanggungjawab.

Tidak perlu mencari tahu kenapa orang rela menciptakan pengkambing hitaman orang lain, tindakan yang menyatakan orang lain/kelompok orang yang bertanggungjawab atas berbagai masalah. pastinya untuk menjaga nama baiknya, takut disalahkan dan karena harta benda.

Pertanyaannya adalah apakah untuk menjaga nama baik ia mengkambing hitamkan orang lain yang tidak bersalah?, dan semakin menambah buruk nama baiknya?, atau seseorang rela dikambing hitamkan karena bayaran?

Orang-orang yang curang ini harus diakui jika peran mereka sebagai orang yang memonopoli nasib orang lain sangat berani. Biasanya ia melakukan kepada orang-orang yang berada di bawah tingkatnya.

Kambing hitam atau orang yang dipilih untuk dituduh sebagai penyebab atas suatu bencana muncul akibat/dibentuk berdasarkan ketakutan yang amat sangat. 

Perasaan takut disalahkan atau takut di hukum. Mengaku bersalah tidak akan tercipta dalam dirinya jika perasaan untuk jujur belum terbangun. 

Untuk itu, masalah kejujuran seperti kalimat "saya bersalah" merupakan komponen/unsur dari ajaran agama. Unsur terpenting inilah yang mampu menciptakan kenyamanan bagi banyak orang. Namun unsur ini pula yang sangat sulit keluar dari mulut manusia.

Jika seseorang berkata, "saya bersalah", maka ia tidak boleh diabaikan begitu saja, karena ia membutuhkan keberanian untuk mengutarakannya. 

Tercipta dari kesungguhan hati, dan jangan di jawab dengan kalimat "percuma" karena bisa saja menjadi bumerang atau karma pada diri kita. Maafkan ia dan serahkan semua kesalahannya pada hukum dunia dan akhirat.

Kejujuran adalah suatu konsep dalam rangka menciptakan hubungan antar manusia dalam bermasyarakat. 

Namun kejujuran sebagian orang di anggap hanya konsep "kebaikan dari ajaran agama" dan tidak berlaku untuk menjadi kaya dan bahagia di dunia. Bahkan kejujuran itu tanpa makna tatkala seseorang tidak mau mengambilnya sebagai pelajaran hidup menuju hari tuanya.

Dalam hidup bermasyarakat, tingkat kejujuran adalah salah satu nilai sosial yang tertinggi, karena jika tidak dibangun/dipertahankan kejujuran itu, maka kejahatanlah berada di tingkat tertingginya yang pastinya merugikan kita semua dan ini harus menjadi fokus utama bagi kita semua untuk terus berlaku jujur.

Metafora kambing hitam yang terbangun sejak dulu selalu memunculkan sensitivitas terhadap kehidupan sosial, apalagi pengkambing hitaman agama, etnis, dan region, ini sangat rentan akan perselisihan. Harus lebih kita perhatikan agar kita tidak tersulut emosi yang pastinya merugikan kita dalam waktu yang panjang.

HALAMAN :

Kamis, 06 Februari 2020

TARI KEDIDI

Tari Tradisional Kedidi
Video terakhir Almarhum Bpk Kamarulzaman menari Kedidi sebagai pewaris terakhir Tari Kedidi

Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan berbagai suku yang memiliki seni budaya yang sangat beragam. Keragaman seni budaya ini lahir dari masing-masing masyarakat di tiap daerah dan menjadi kekayaan Bangsa Indonesia. Interaksi manusia dengan isi alam menjadi suatu kegiatan masyarakat dan menjadi tanda sebagai lambang budaya atau nilai yang tertanam di dalam masyarakat, termasuk didalamnya cerita rakyat.
Cerita rakyat tiap daerah memiliki pesan dan makna yang berbeda dan menjadi identitas daerah itu sendiri setelah ia dikenal masyarakat luas, sehingga orang mengenal masyarakat suatu daerah itu dapat dari cerita-cerita rakyatnya yang kemudian menjadi identitas seni budayanya.
Cerita rakyat suatu kelompok masyarakat akan ditambah dengan bahasa, simbol busana atau seni budaya masyarakatnya, yang berarti menjadi bagian kebudayaan itu sendiri. Cerita rakyat di dalam kelompok masyarakat kemudian di adopsi pada seni tari tradisional (klasik maupun kerakyatan), berpedoman atau berpijak pada akar budayanya dari cerita-cerita rakyat terdahulu, dipelajari secara turun temurun dan mengikuti kebiasaan yang dianut oleh masyarakat yang memiliki tari tersebut.
Peran cerita rakyat dalam seni tradisional sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat, dimanfaatkan untuk prosesi acara sesuai kepentingannya, seperti keperluan kepercayaan, kepentingan sosial maupun upacara pernikahan atau upacara adat.
Bentuk dan fungsi cerita rakyat yang terkandung dalam seni tari tradisional menjadi bagian dari kehidupan sosial-budaya masyarakat, cerita-cerita dan makna yang ada di dalam seni tradisional merupakan pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat, dapat berupa bentuk gerak maupun bentuk kegiatan masyarakat itu sendiri, seperti simbol-simbol, tanda-tanda ataupun lambang-lambang yang berhubungan dengan kelahiran, pertumbuhan, kematian, air, tanah, tanaman dan adat-kepercayaan.
Makna dalam cerita rakyat dapat menggambarkan objek atau peristiwa di daerah tempat tinggal masyarakatnya, mewakili alam didaerahnya dan kebudayaannya. Cerita rakyat dalam tari tradisional ini turun temurun di masyarakatnya. Seperti di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ada tari tradisional yang dinamakan Tari Kedidi. Seni tari ini ada di Desa Menduk Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang di angkat dari kehidupan burung Kedidi dan pelaku memberi nama Tari Kedidi sebagai tanda atau lambang kehidupan hewan didaerahnya.
Menurut cerita rakyat Menduk, burung Kedidi banyak hidup di muara sungai Menduk dan rawa-rawa, sering ditemui nelayan. Gerakan burung ini lucu, terutama gerakan ekornya ketika meloncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain di atas pelepah nipah yang mengapung di atas air.
Sungai Menduk yang menjadi tempat ditemukannya burung Kedidi

aktivitas sehari-hari masyarakat Menduk

kampung Menduk

Sungai Menduk

Terbentuknya tari tradisional Kedidi ini dapat disimpulkan sebagai hasil dari gambaran manusia terhadap alam sekitarnya, makna tari Kedidi hasil penggambaran masyarakat terhadap kehidupan dilingkungannya, kemudian makna gambaran itu disempurnakan bersama dengan anggota masyarakat dan diajarkan secara turun temurun, sehingga tari Kedidi dapat bertahan hingga sekarang ini.
Fenomena yang ada di masyarakat Desa Menduk adalah salah satu anggota masyarakatnya telah dipercaya sebagai ahli waris gerak tari Kedidi adalah Bapak Juhar (43). Beliau adalah murid almarhum dari Bapak Komarullzaman (1935-2009) yang diyakini masyarakat setempat sebagai pewaris tari Kedidi dari pendahulunya.Tari tradisional tersebut diciptakan orang-orang terdahulu yang terinspirasi dari alam lingkungannya lalu menciptakan tanda-tanda atau simbol-simbol, kemudian cerita, makna, pesan tari Kedidi dipelajari secara turun temurun dan pada tiap generasi.
Adapun informan pendukung lain selain Bapak Juhar ada Bapak Khoiri (50) seorang petani berprofesi sebagai pemain gambus tari Kedidi dan juga Bapak Kudung (48) seorang petani dan pengurus kelompok seni Mekar Sari desa Menduk. 
Menurut cerita mereka, tari Kedidi diangkat dari gerakan burung Kedidi yang banyak dijumpai penduduk pada masa lalu, melambangkan gerak-gerik burung Kedidi yang konon banyak terdapat di sepanjang sungai Menduk. Burung Kedidi sejenis burung yang suka berkelompok serta mempunyai keunikan terutama saat bermain-main dengan sesama jenisnya, serta tingkahnya ketika mencari makanan seperti kepiting kecil hitam di tepian sungai. Tari Kedidi pada dasarnya bersifat pelipur lara, dan nelayan Menduk mereka mendapat inspirasi dari burung Kedidi yang hidup di muara sungai dan rawa-rawa, sering ditemui nelayan disepanjang tepian sungai, dan gerakannya lucu, terutama gerakan ekornya ketika meloncat di atas pohon-pohon atau akar-akar kering dan pelepah nipah yang mengapung di atas air.
Burung Kedidi ini hidup di alam terbuka dan telah memberi inspirasi kepada nelayan desa Menduk untuk menghibur diri bermain menirukan gerakan burung Kedidi, kemudian menyusun tariannya, dan iringan musik pada mulanya dari bahan-bahan yang ditemukan di alam sekitar seperti; kayu-kayu, batok kelapa dan lain-lain. kemudian perkembangan tarian ini terinspirasi pada gerak-gerak kepiting yang menjadi makanan burung Kedidi. Apabila perahu sedang berlayar mereka memukul dinding perahu sebagai penghias iramanya.
Penulis pernah menelusuri tepi sungai tersebut dan menunggu datangnya burung Kedidi untuk diduplikasikan namun tidak menemukan apa-apa, salah satu teman mengatakan kalau burung Kedidi mungkin masuk dalam kategori burung migrasi, yaitu burung merujuk pada perjalanan musiman yang dilakukan oleh banyak spesies burung, karena burung melakukan perjalanan panjang dengan terbang.
Sebagai bentuk kesenian, tari Kedidi ini kemudian menjadi lebih menarik ketika diiringi dengan alat musik dambus. Pada perkembangan selanjutnya memasukkan unsur silat dan gerakan pedang berukuran kecil. Pada masa lalu tari dan silat Kedidi ini sering dipertandingkan atau dipertontonkan antar desa di Bangka sehingga memicu improvisasi gerak serta kepandaian dalam mengembangkan gaya masing-masing, pada tiap desanya tapi dasar gerak burung Kedidi tetap dominan yang dapat memberi nuansa lincah, lembut, genit, maupun gagah dengan unsur silatnya.
Pada acara workshop Tari Kedidi pada tahun 2007, penulis juga hadir pada waktu itu, dan acara yang diselenggarakan Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Bangka di Pondok Mulia Sungailiat tersebut menghadirkan bapak Kamarullzaman sebagai tokoh budaya pewaris Tari Kedidi yang lahir pada tahun 1935 di desa Menduk dari orang tua Mat Ali dan H. Sopiyah. Di waktu muda almarhum seorang petani kadang sebagai nelayan karena desa Menduk bersebelahan dengan sungai Menduk, selain itu ia suka menari Kedidi dan bisa bermain musik, mengisi hiburan panen raya dan perayaan desa lainnya.
Almarhum belajar menari dan belajar memukul gendang dari orangtua-orangtua tetangganya yang bernama Marimin dan Haji Asnawi. Menurut cerita Marimin dan Haji Asnawi, dulu ada seorang bernama Abu Latief yang pertama menciptakan tari Kedidi dengan bermain-main dipantai dan mendapat inspirasi dari gerak burung Kedidi dan terus dicoba-coba perkembangan gerak tariannya. Abu Latief ini juga yang telah menciptakan iringan musik dari bahan alami dan ketukan gendangnya dengan memukul-mukul dinding perahu. Bapak Komarullzaman tidak mengenal Abu Latief, tapi menurutnya diperkirakan hidup pada zaman kesultanan Palembang berkuasa atas Bangka.
Setelah Bapak Komarullzaman meninggal dunia pada tahun 2009, ahli waris yang ditunjuk oleh almarhum Bapak Komarullzaman adalah Bapak Juhar, salah satu murid silatnya dan murid yang telah diajarnya tari Kedidi. Hal ini diketahui setelah peneliti mendapat keterangan dari anak perempuan almarhum Bapak Komarullzaman yang bernama Jamma Annah (54 tahun):
Foto bersama penulis dengan Ibu Jamma Annah (anak bpk Kamarulzaman)
rumah peninggalan almarhum Bpk Kamarulzaman

"Pada tahun 2009 bapak Komarullzaman meninggal dunia. Dengan disaksikan saya (anak perempuannya), murid-murid Bapak Komarullzaman, masyarakat Menduk dan Juhar. Sebelum meninggal, bapak menitipkan pesan kalau tari Kedidi ia wariskan kepada Juhar. Juhar lah yang mengetahui tentang tari Kedidi".
Penulis kemudian menemui Bapak Juhar dan Bapak Kudung dan melakukan wawancara dengan mereka, dan menurut penuturan Bapak Juhar:
"Sejak dulu Almarhum bapak Komarullzaman sudah membentuk komunitas silat Ma'rifat di desa Menduk, dan sudah banyak murid-muridnya di Desa Menduk hingga di luar Desa Menduk. Pada tahun 1992, pada malam hari disaat kami berempat, yaitu: saya, Bujang, Sahak dan Hamzah sedang duduk berkumpul bersama almarhum bapak Komarullzaman di rumah bapak Kudung. Disaat kami membicarakan tentang tari-tarian yang ada di Bangka, tiba-tiba almarhum bapak Komarullzaman teringat disaat beliau masih muda dulu pernah belajar tari Kedidi dengan paman-paman sekampungnya. Di malam itu juga kami belajar gerak tari Kedidi".

penulis saat wawancara dengan Juhar

Bapak Kudung menambahkan keterangannya:
"Sebelum tari Kedidi diungkapkan bapak Komarullzaman ada di Desa Menduk, kami sebelum tahun 1992 membentuk grup kesenian di Menduk, tapi saat itu kami hanya mementaskan tari-tari Bangka seperti; bedincak (menari) dengan alunan gambus atau mementaskan musik dambus Abu Samah, dan saat itu tari Kedidi belum terbentuk di Desa kami, jadi disaat bapak Komarullzaman melihat grup kami bedincak. Tercetuslah ungkapan dari bapak Komarullzaman kalau di daerah Bangka ini ada tari yang paling unik, tapi karena bapak Komarullzaman tidak bisa memperagakannya karena faktor usia dan faktor kesehatan, jadi diajarilah tari itu kepada Juhar, Sahak, Hamzah dan Bujang. Seperti yang kita ketahui, orang tua di Bangka ini ilmunya tentang tari Kedidi tidak dikeluarkannya, tapi pencak silat yang dikeluarkannya. Jadi tari Kedidi itu sebenarnya sudah lama, tapi mengajarkan tari Kedidi itu tahun 1992. Beliau hanya mengajarkan pencak silat tapi karena kami disaat itu mempelajari bedincak dan bedambus, jadi dikeluarkannya tari Kedidi. Saat itu kami semua berkumpul dan beliau memperagakannya dengan duduk dilantai sambil mengatakan kalau tari Kedidi ini sudah tidak dipentaskan lagi saat beliau masih remaja, karena tidak ada lagi anggota masyarakat yang seumur beliau yang bisa menari Kedidi, karena teman-teman penari Kedidi seumuran beliau sudah meninggal dunia, seperti; atok (kakek) sanui, atok Noha dan bapak Komarullzaman". 
Almarhum Bapak Komarullzaman mengajarkan gerak tari Kedidi kepada Juhar, Bujang, Hamzah dan Sahak dalam keadaan sudah tua, dan tidak kuat lagi memperagakan gerak tari Kedidi, akibatnya Juhar dan kawan-kawan mempelajari gerak tari Kedidi tersebut selama berbulan-bulan dengan pengawasan langsung dari Bapak Komarullzaman.
Usai latihan di rumah Kudung
Juhar menambahkan keterangannya:
"Sejak tahun 1992, tari Kedidi tidak pernah dipentaskan, hingga pada tahun 2006 tari ini dipentaskan di acara peresmian Gedung Serba Guna di lingkungan Taman Hiburan Rakyat Sungailiat Bangka. Gerak tari Kedidi ini cukup sulit dipelajari, oleh karena itu, gerak tari Kedidi ini tidak mudah dikuasai, sampai kami benar-benar siap dan betul-betul menguasai tari Kedidi baru kami siap pentas, dan untuk pertama kalinya pentas di acara peresmian Gedung Serba Guna tersebut". 
Pada tahun 2006 itu juga, penulis untuk pertama kalinya melihat tari Kedidi, karena selama ini penulis hanya melihat tari-tari daerah Bangka seperti tari Campak, Rodat, tari sambut Bangka dan tari Gambus yang dipentaskan pada acara-acara pagelaran daerah, dan sudah dianggap sebagai tari tradisional daerah Bangka Belitung.
Menurut penuturan Bapak Kudung;
"Setelah pentas di peresmian Gedung Serba Guna tersebut, barulah tari Kedidi sering dipentaskan pada acara-acara hiburan rakyat di luar desa Menduk, dan yang menjadi penari Kedidi pada saat itu adalah Juhar, Hamzah, Bujang dan Sahak".
Almarhum Bapak Komarullzaman telah mengajarkan tari kedidi dan silat kepada keempat muridnya tersebut. Silat yang diajarkan kepada mereka kemudian menjadi bagian dari gerak tari Kedidi. Keempat muridnya sudah mengembangkan tari Kedidi kepada karakternya masing-masing dan telah memiliki pola-pola lantai yang di atur dalam seni pertunjukan.
Walaupun gerak keempat muridnya berbeda-beda namun memiliki dasar gerak tari Kedidi yang sama, dan gerak keempat murid tersebut cukup berbeda dengan bapak Komarullzaman sebagai generasi tua yang gerak tari Kedidinya lebih halus, klasik dan stabil dibandingkan dengan murid-muridnya. Pengembangan yang dilakukan ke empat muridnya terlihat pada variasi ke gerak pinggul, bahu dan kepala sehingga kekuatan gaya pribadi yang dimodifikasi keterpaduannya ke dalam gerak dasar tari Kedidinya masing-masing.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang makna tari Kedidi, penulis hendak mengetahui bagaimana tentang tari Kedidi lebih jauh lagi. Bapak Juhar menerangkan;
"Burung Kedidi itu memang ada, dan gerak burung Kedidi itu ditirukan oleh Abu Latief dan diperagakannya. Burung Kedidi ini hidup disungai. Sedangkan bapak Komarullzaman bukan belajar tari Kedidi dari Abu Latief, tapi Abu Latief masih memiliki keturunan-keturunan yang mewarisi tari Kedidi, jadi Bapak Komarullzaman belajar dari keturunan-keturunan itu".
Bapak Kudung menambahkan keterangan;
"Abu Latief memiliki keturunan-keturunan yang mempelajari tari Kedidi, seperti; Abu Noha, Atok Noh, Atok duku, Atok Likur dan Atok Sanui. Atok Sanui ini dengan Bapak Komarullzaman seperguruan, seperti Juhar dan Hamzah, sama-sama bisa nari Kedidi".
Menurut penjelasan almarhum Bapak Komarullzaman. Ia belajar menari dari orangtua-orangtua tetangga sekampungnya di Menduk dengan ikut-ikutan menari Kedidi layaknya anak kecil, baik dalam tari maupun musiknya. Paman-paman tersebut yang semuanya sudah almarhum antara lain bernama Marimin dan Haji Asnawi. Menurut cerita paman-pamannya, dulu ada seorang bernama Abu Latief yang pertama menciptakan tari Kedidi dengan bermain-main ditepi sungai Menduk dan mendapat inspirasi dari gerak indah dan lucu dari burung Kedidi dan terus dicoba-coba perkembangan gerak tarinya.
Abu Latief juga telah menciptakan iringan musik dari bahan alami yang ditemuinya dan ketukan gendang ketika memukul-mukul dinding perahu. Beliau diperkirakan hidup masa jaman kesultanan Palembang saat berkuasa atas Bangka.
Sekarang ini ahli waris tari Kedidi Bapak Komarullzaman telah meninggal dunia dan untuk memperkuat bahasan mengenai siapa yang yang menjadi ahli waris tari Kedidi berikutnya yang ditunjuk langsung oleh almarhum Bapak Komarullzaman sebagai penerus tari Kedidi adalah Bapak Juhar.
Penulis menyimpulkan, Bapak Juhar yang ditunjuk langsung sebagai penerus tari Kedidi dikarenakan usia Bapak Juhar lebih muda dibandingkan murid lainnya, dan gerak tari yang diperagakan Bapak Juhar lebih teratur dan lebih halus dibandingkan yang lain, dan hal tersebut dapat terlihat saat Bapak Juhar menarikan tari Kedidi bersama ketiga temannya, dan Bapak Juhar dapat menjelaskan tiap makna pesan gerak tari Kedidi.
Juhar saat memperaktekkan gerak tari Kedidi

Bapak Juhar menerangkan;
"Dulu, sebelum belajar tari Kedidi, saya adalah murid silat Bapak Komarullzaman dan saya diajari tari Kedidi oleh Bapak Komarullzaman sejak tahun 1992. Jadi bertahun-tahun Bapak Komarullzaman dalam keadaan kurang sehat mengajari tari Kedidi itu dalam keadaan duduk, jadi saya menarinya dengan diperagakan tangan dan kaki saja oleh bapak Komarullzaman. Saya mengikuti apa kata beliau, kata beliau jongkok saya jongkok, kata beliau berdiri saya berdiri, kata beliau tangannya melambai saya melambai. Berbulan-bulan diajari beliau gerak itu-itu saja, sampai saya bisa dan meresapi gerakan tersebut. Setelah saya menguasai semua gerakannya, baru saya peragakan didepan beliau semaksimal mungkin. Saat saya tanya benar atau tidak yang saya peragakan, beliau katakan benar semua yang saya peragakan, tidak ada yang salah sedikitpun. Saya teringat wasiat almarhum, "Juhar, apabila setelah saya meninggal, kamu harus ikuti apa kata-kata saya, jangan kamu tinggalkan. Jangan tinggalkan perguruan pencak silat dan tari Kedidi, dan jangan kamu hilangkan kepada generasi-generasi yang akan datang, harus kamu kembangkan". Pada waktu itu, disaksikan oleh anak Bapak Komarullzaman, orang-orang dari dinas Pariwisata dan warga Desa Menduk. Sejak itu saya memegang amanah beliau dan kemudian saya ajari anak-anak di desa Menduk sekitar 15 anak. Dalam jangka waktu 2 bulan setiap malam saya ajari anak-anak itu tari Kedidi".
"Pada awal belajar tari Kedidi, kami diajarkan gerak kaki, dengan tumit kaki naik turun berulang-ulang sampai kami terbiasa dengan gerakan tersebut. Setelah itu baru kami diajarkan tiap gerak tari Kedidi dengan menggunakan pedang ditangan kanan. Simbol dari pedang ini adalah jepit (sepit) kepiting, selain sebagai simbol sepit kepiting, pedang ini juga sebagai ciri khas penari kedidi untuk begamen yang artinya untuk bercanda sesama penari. Sedangkan tangan kiri melambai-lambai bermakna sayap burung kedidi. Gerak kepala yang sesekali  bergoyang-goyang kekanan kiri dan turun naik menggambarkan kepala burung Kedidi yang bermain di air, seperti kepala burung yang masuk ke air dan mengibas-ngibaskan kepala untuk mengeringkan air dikepalanya". 
Bapak Kudung menambahkan keterangannya:
"Gerak kaki yang mengenjit bergantian kaki kanan dan kiri bermakna sebagai gerakan kaki burung Kedidi yang seolah-olah berjalan menjinjit diatas air sungai. Diantaranya berjalan diatas papan, diatas dahan-dahan nipah yang hanyut diatas air. Dalam tari Kedidi, pada awal gerak yang menurunkan pedang dengan kaki kanan bertekuk dilantai dengan pedang diletakkan dihadapan kaki bermakna sebagai menghormati para tetamu atau persembahan awal untuk para tetamu, demikian juga dengan akhir tarian ditutup dengan penghormatan meletakkan pedang dilantai dan merapatkan kedua telapak tangan dan memberi penghormatan kepada para tetamu".
Semua gerakan Kedidi pada dasarnya adalah gerakan yang diulang-ulang menurut batas waktu yang mereka tentukan yang tentunya dengan mengikuti irama musik. Gerakan tari Kedidi ini juga telah mereka berikan komposisi agar tarian ini menjadi lebih menarik dan menjadi tari hiburan rakyat dan menjadi seni pertunjukan masyarakat Desa Menduk.  Hingga pada tahun 2007 mereka membentuk kelompok seni budaya di Desa Menduk dengan nama kelompok Mekar Sari yang terdiri dari masyarakat-masyarakat Desa Menduk.
Pada tahun 2017 kelompok ini dikelola oleh Bapak Kudung, sekaligus telah mengalami perubahan dalam personil, dikarenakan personil yang lama sudah banyak yang meninggal dunia dan sudah tidak sanggup lagi terjun ke dunia seni karena dalam keadaan fisik yang lemah dan sakit, termasuk penari Kedidi yaitu;  Bapak Hamzah dan Bujang yang sudah sakit-sakitan.
Menurut Bapak Kudung sebagai pengelola kelompok Mekar Sari;
"Bapak Komarullzaman sejak masih bujangan (lajang) sudah belajar tari Kedidi, dan sampai beliau tua mengajar silat kepada orang-orang Desa Menduk dan murid-murid beliau juga banyak dari luar Desa, dan masih banyak yang masih hidup sampai sekarang ini. Desa-Desa tersebut seperti: Desa Kota Kapur, Desa Payak Benue, Desa Rukem dan lain-lain, kesemuanya belajar silat, namun tidak ada yang belajar tari Kedidi, sedangkan yang belajar tari Kedidi hanya orang-orang di Desa Menduk. Saat mereka belajar silat dan sebelum belajar tari Kedidi, mereka sudah menggunakan pedang yang sekarang digunakan sebagai properti tari Kedidi, selain itu juga menggunakan tembung (toya/kayu panjang). Nama perguruannya Pateh Teset dengan nama silat Ma'rifatullah".
Kudung termasuk orang yang cukup berperan penting dalam terjadinya proses interaksi antara Bapak Juhar dan Bapak Komarullzaman dalam mempelajari tari Kedidi, karena mereka belajar tari Kedidi di rumah Bapak Kudung. Hal ini telah dikemukakan oleh anak perempuan almarhum Bapak Komarullzaman.
"Bapak mengajarkan tari Kedidi dirumah Pak Kudung dan mengajar silat di lapangan-lapangan yang ada di kampung ini. Murid-murid Bapak terbatas, sekitar 40 sampai 50 orang. Tapi kalau masalah tari Kedidi saya tidak bisa menceritakannya, karena Bapak tidak pernah cerita kepada kami seperti apa dan bagaimana tari Kedidi itu, tapi kalau masalah tari Kedidi tanya saja kepada Juhar, dia mengerti masalah tari Kedidi. Jadi Bapak telah mengatakan kalau yang mewarisi tari Kedidi adalah Juhar". 
Oleh karena itu, penulis lebih banyak meneliti tari Kedidi dari Bapak Juhar sebagai orang yang berinteraksi langsung dengan almarhum Bapak Komarullzaman dan mempelajari makna tari Kedidi.
Perbedaan dalam gerak dan pola lantai Tari Kedidi dari keempat murid almarhum Bapak Komarullzaman dengan Bapak Komarullzaman terlihat saat peneliti melakukan observasi ke desa Menduk pada tahun 2007. Dalam video tari Kedidi yang ditarikan almarhum Bapak Komarullzaman dan empat muridnya Juhar, Hamzah, Sahak, dan Bujang, terdapat perbedaan gerak tari Kedidi. Almarhum Bapak Komarullzaman menarikan tari Kedidi dengan unsur silat dengan arah pedang lebih banyak menangkis dan menusuk, namun gerak kaki tetap pada langkah tari Kedidi dan penutup tarian dengan gerakan hormat dengan meletakkan pedang di tanah/lantai dan bersedekap tangan.
Selain mengajar tari Kedidi, almarhum Bapak Komarullzaman juga mengajarkan silat kepada murid-muridnya yang berarti perpaduan antara silat dan tari merupakan kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam gerak tari Kedidi yang diperagakan oleh almarhum Bapak Komarullzaman, lebih banyak menggunakan unsur silat, sedangkan keempat muridnya lebih kepada gerak tari Kedidi yang bersifat menghibur, karena keempat muridnya sudah melakukan pola-pola lantai yang teratur, gerak kaki, tangan, bahu, pinggul dan kepala sudah terarah pada komposisi tarian.
Perbedaan gerak keempat murid tersebut dengan almarhum Bapak Komarullzaman adalah; almarhum Bapak Komarullzaman menarikan tari Kedidi dengan unsur silat yang lebih banyak dibandingkan keempat muridnya.
Setelah melihat gerak, komposisi dan pola lantai dari keempat murid almarhum Bapak Komarullzaman, namun persamaan gerak keempat muridnya dengan almarhum Bapak Komarullzaman adalah karakter jinjit kaki, gerak tangan yang memegang pedang, dan mengangkat kaki dengan tumit diletakkan dilutut kaki yang lain. Selain itu, persamaannya adalah gerak penutup dengan meletakkan pedang di lantai. Dari gerak ini dapat dilihat gerak silat telah diadopsi ke dalam gerak tari Kedidi, dan ini merupakan penggabungan seni silat ke dalam tari Kedidi.
Gerak tari Kedidi terlihat monoton dan diulang-ulang, namun dalam gerak tersebut terdapat makna pesan yang ingin disampaikan.
Bapak Juhar menambahkan keterangannya;
"Pada akhir tarian ada gerakan meletakkan pedang di lantai di depan penari yang berjongkok, dan ke empat penari memberi hormat setelah iringan musik selesai. Penghormatan disini sebagai akhir dari pertunjukan tarian dan penggabungan antara hormat silat melayu dan menggambarkan kesopanan masyarakat Menduk setelah menari menghibur para tetamu dan masyarakat/penonton".
Sekarang ini, keempat murid almarhum Bapak Komarullzaman kecuali Bapak Juhar, sudah semakin tua dan sudah sakit-sakitan, diantaranya adalah Bapak Hamzah dan Bapak Bujang. Keduanya sudah tidak mampu lagi untuk menari Kedidi, sedangkan Bapak Sahak sudah pindah ke desa Labu dan mengajarkan tari Kedidi kepada generasi muda di desa Labu. Sedangkan Bapak Juhar masih tinggal di Desa Menduk dan masih mampu untuk menari Kedidi di desa Menduk, dan sudah mengajari tari Kedidi kepada beberapa generasi muda.
Penulis kemudian mengkaji bagaimana musik kedidi dapat terbentuk di dalam tari Kedidi dalam menyesuaikan gerak dan musik sesuai dengan jawaban Bapak Khoiri sebagai pemain Gambus. Sebagai bentuk kesenian atau sebagai tari hiburan rakyat tari Kedidi ini kemudian di iringi dengan alat musik Dambus, gendang nduk dan anak (besar dan kecil), dan gong. Dalam musik tari Kedidi, terdapat syair yang mengikuti alunan dambus, syair lagu tradisional tersebut berupa pesan-pesan bagi pendengarnya. Berikut ini syair lagu yang terdapat dari Bapak Khoiri;

Tinggi Bawang
Nek setinggi-tinggilah bawang (Mau setinggi-tingginya daun bawang)
Berkembang boleh bedaun jangan (Berbunga boleh berdaun jangan)
Nek menarilah kau dayang (Mau menari menarilah kau gadis)
Berkembang boleh besundung jangan (Berbunga boleh saling iri jangan)
Buah cempedak daun sejajar (Buah cempedak daun sejajar)
Lain dengan si buah padi (Berbeda dengan si buah padi)
Kami budak baru belajar (Kami anak-anak baru belajar)
Budaya kita tari Kedidi (Budaya kita Tari Kedidi)
Anak katak di batang padi (Anak katak di batang padi)
Nek ditangkap melangkah pagar (Mau ditangkap melangkah pagar)
Langkah pencak Tari Kedidi (Langkah pencak Tari Kedidi)
Marilah kita semua belajar (Marilah kita semua belajar)
Hari teduh ngelambur layang (Hari teduh menaikkan layangan)
Putus tali dilambung angin (Putus tali dibawa angin)
Kawan jauh di bayang-bayang (Kawan jauh di bayang-bayang)
Datang kemari kita bermain (Datang kemari kita bermain)
Mari datang membawa dulang (Mari datang membawa tempat makanan)
Gi ke sungai mencuci muka (Pergi ke sungai mencuci muka)
Hari petang kami nek pulang (Hari petang kami mau pulang)
Pulang berimbai di aik mata (Pulang berlinang si air mata)
Dalam musik tari Kedidi ini, syair lagu adalah berupa pantun yang isinya pesan-pesan moral, sindiran dan lain-lain. demikian juga dengan syair dalam tari Kedidi. Bait demi bait syair merupakan pantun dengan dua bait akhiran yang sama.
Menurut penjelasan Bapak Khoiri selaku pemain gambus dan penyanyi lagu tari Kedidi, beliau mengatakan;
"Syair dalam lagu tari Kedidi merupakan pantun berbahasa Bangka, bukan bahasa khusus desa Menduk, karena bahasa Bangka lebih mudah dimengerti oleh masyarakat Bangka seluruhnya. Sedangkan lagu Tinggi Bawang ini, menurut almarhum Bapak Komarullzaman, Tinggi Bawang itu berarti seorang gadis maupun pria yang sudah mulai dewasa. Dalam syair nek setinggi-tinggilah bawang, yang bermakna mau beranjak dewasa, dewasalah. Berkembang boleh bedaun jangan, maknanya adalah diantara dua orang teman, dan salah satunya ada yang menikah dan mendapatkan satu anak, maka giliran teman yang satunya yang belum menikah untuk menikah dan tidak saling melarang-larang. Nek menarilah kau dayang, artinya selagi masih gadis mau menari, maka menarilah. Berkembang boleh besundung jangan. Dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada teman yang lain untuk menikah dan memiliki anak juga. Disini terdapat perjanjian diantara kedua teman".
"buah cempedak daun sejajar. Bait syair ini hanya sebuah awal pantun yang kemudian dilanjutkan dengan bait kedua, lain dengan si buah padi. Kedua pantun tersebut hanya memberi pesan perbedaan dua buah, lalu baik ke tiga dan ke empat yang menjadi isi dari pantung. Kami budak baru belajar, budaya kita tari Kedidi. Bait ini memberi makna jika penari-penari tari Kedidi hanyalah anak kecil yang baru belajar menari tari Kedidi untuk memperkenalkan budaya tari Kedidi daerah Menduk".
 "anak katak di batang padi, nek ditangkap melangkah pagar, bait-bait syair ini juga merupakan pengawal pantun yang kemudian akan dilanjutkan dengan isi dari pantung. Langkah pencak tari kedidi, marilah kita semua belajar. Makna syair disini adalah gerak tarian Kedidi berisi langkah-langkah dari pencak Kedidi yang berarti tari Kedidi berhubungan erat dengan pencak silat dan yang menari kedidi baiknya juga mengajak semua orang untuk belajar tari Kedidi".
 "Hari teduh ngelambur layang, memiliki makna disaat cuaca siang hari dan tidak ada angin yang berhembus, layang-layang kenapa harus dinaikkan. Putus tali dilambung angin, saat tali layang-layang putus, angin pun melambungkan layang-layang. Dua bait syair ini juga merupakan pembuka pantung untuk menyampaikan maksud dari isi pantun yaitu; kawan jauh di bayang-bayang, datang kemari kita bermain. Teman yang tinggal jauh dari kami masih ada dalam kenangan, seandainya dapat datang ketempat asalnya bisa bermain-main tari Kedidi bersama-sama".
"mari datang membawa dulang, arti dari pantun ini adalah ajakan bersama-sama membawa dulang (wadah/tempat makanan tradisional yang biasa digunakan untuk membawa makanan ke masjid-masjid untuk makan bersama). Gi ke sungai mencuci muka. Sama artinya dengan pergi kesungai untuk mencuci muka. Dua syair ini juga merupakan pantun pembuka untuk menyampaikan makna dari syair berikutnya, hari petang kami nek pulang, pulang berimbai di aik mata. Setelah semua kegiatan menari Kedidi dan semua kegiatan masyarakat setelah hari mulai sore menuju malam, penari Kedidi sudah harus pulang dan pulang dengan suka duka penuh keharuan karena sudah bisa menghibur masyarakat yang menonton tarian mereka". 
"Sebenarnya, lagu atau syair dalam tari Kedidi ini tidak harus lagu Tinggi Bawang, bisa lagu-lagu atau syair-syair pantun lainnya, karena lagu tari Kedidi adalah tergantung musim untuk dijadikan lagu tari Kedidi. Musim disini diartikan disaat menari tari Kedidi pada musim panen masyarakat, maka lagu tari Kedidi akan membicarakan tentang panen masyarakat. Demikian juga ketika menari Kedidi saat musim menanam, musim menghibur, musim merayakan hari besar agama, dan musim-musim lainnya. Jadi pantun di dalam lagu tari Kedidi dapat berubah-ubah menurut keinginan kelompok seni tari Kedidi tersebut. Namun ciri khas dari lagu tari Kedidi adalah lagu Tinggi Bawang. Tapi, tari Kedidi tidak berpatokan pada lagu Tinggi Bawang saja, diperbolehkan menggunakan syair lagu bangka lainnya, akan tetapi tetap berisikan pantun nasehat maupun pantun kelakar, dengan iringan musik dambus dan alat-alat musik tari Kedidi, dengan pukulan gendang, gong yang telah ditentukan. Tidak ada patokan harus menggunakan syair lagu Tinggi Bawang".
Pesan-pesan berupa sindiran, pesan moral dan nasehat tersebut mengikuti alunan Dambus yang mengiringi tari Kedidi. Tujuan dari pesan dalam syair tersebut adalah untuk para penari, penonton atau para pendengarnya.
Bapak Khoiri menjelaskan;
"Dalam tari Kedidi, gambus merupakan alat yang paling dominan, dan saat gambus di petik di awal musik atau sebelum seluruh alat musik dimainkan, biasanya penari terlebih dahulu menjinjit-jinjit naik turun untuk mencari irama tubuh mereka dengan alunan gambus, dan setelah semua musik dimainkan, barulah penari bergerak menarikan tari Kedidi. Biasanya kami mengakhiri tari Kedidi dengan musik tari Kedidi itu bersama-sama atau selesainya serempak, dan itu sekitar 15 menit lebih. Namun ada saat tertentu dimana panitia penyelenggara biasanya meminta kami untuk menarikan tari Kedidi sekitar lima menit atau tujuh menit, maka kami sebagai pemusik akan saling berkomunikasi dengan penari Kedidi bagian-bagian mana dari tari Kedidi tersebut yang akan kami kurangi dan syair lagu pun kita persingkat atau tidak diulang-ulang, karena lagu gambus biasanya dinyanyikan secara berulang-ulang".
Komunikasi antara Bapak Juhar dan Bapak Khoiri tentang batasan-batasan dan tempo-tempo musik atau mengurangi dan menambah gerak maupun musik merupakan bagian dari interaksi antara dua orang untuk diterapkan dalam kelompok, agar dalam menyampaikan simbol-simbol tari Kedidi tersebut tetap bermakna dan dapat dimengerti penonton. Dalam hal ini, peran seluruh penari maupun pemusik sangat penting, dan harus mengerti apa yang menjadi keinginan penata tari dan penata musik.
Bapak Juhar untuk menyempurnakan tanda dan makna-makna dalam musik dan syair yang ingin disampaikan. Syair dan pukulan alat musik merupakan pendukung tari Kedidi, dan ini merupakan kesenian masyarakat yang bersifat produk sosial masyarakat.
Musik Kedidi adalah unsur penting dalam mendukung tari Kedidi hingga menciptakan seni budaya daerah yang hanya dimiliki oleh daerah tersebut, dan para pemusik harus saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya agar tercapai kesepakatan. Selain itu, penari dan pemain musik tari Kedidi diharuskan mengetahui dan hafal setiap detail tari dan musik Kedidi.
Bapak Khoiri menambahkan;
 "Selain gambus, gendang nduk (ibu) berperan penting, ditambah dengan gendang anak. Dalam tari Kedidi, diawali oleh petikan gambus pembuka, dan saat gambus mulai masuk dalam musik tari dengan diikuti gendang, barulah tari Kedidi ditarikan. Biasanya tari yang mengikuti pukulan gendang dan gong, sedangkan ketukan gendang merupakan irama dari gerak tari Kedidi. Alat musik utama tari Kedidi adalah gambus, sedangkan gendang nduk dan gendang anak adalah penyeimbang antara musik dan gerak tari, dan gendang nduk dan anak ini akan bersahut-sahutan atau saling mengisi satu sama lainnya. Untuk itu diperlukan latihan yang panjang untuk saling menyatukan antara satu dengan lainnya, antara pemusik dengan penari". 
"Sedangkan lagu Tinggi Bawang adalah menggunakan bahasa Bangka, secara umum masyarakat Bangka mengetahui makna dari pantun-pantun lagu tari Kedidi, tapi lagu Kedidi tidak wajib lagu Tinggi Bawang, dapat juga menggunakan pantun-pantun lain yang sifatnya menghibur dan isi dari lagu tersebut dapat berubah-ubah menurut keinginan dari pemain gambus".
Penulis juga ingin mengetahui bagaimana busana dan properti tari Kedidi dapat terbentuk di dalam tari Kedidi  dengan perkembangan zaman. Jawaban dari informan yang diperoleh peneliti adalah sebagai berikut;
Menurut penjelasan Bapak Juhar;
"Dari dulu kita tidak memiliki penata rias maupun busana, jadi kita secara kelompok saling menata busana apa yang baik untuk tari Kedidi ini, dan sudah seharusnya kami menggunakan busana melayu yang ada di Bangka Belitung ini, seperti; celana panjang, baju teluk belanga (baju melayu pria Bangka), kain sarung dipinggang yang digulung hingga diatas lutut (orang melayu menyebut kain tersebut "rumpak"), dan ikat kepala atau bisa juga digunakan kopiah resam atau kopiah hitam biasa. Namun indentitas busana tari Kedidi dari desa Menduk sendiri adalah ikat kepala, baju teluk belanga, celana panjang dan ada cuken juga. Cuken adalah sebutan kain yang menghiasi bagian luar antara baju dan celana, yang digulung hingga diatas lutut".
"Menurut ungkapan Bapak Komarullzaman dulu yang disampaikan kepada penari Kedidi, makna dari ikat kepala itu sendiri adalah sebagai pria Menduk melambangkan pekerja tani maupun nelayan, jadi disaat bekerja dan disaat matahari terik, ikat kepala tersebut dapat dibuat sebagai penutup kepala melindungi dari sinar matahari. Selain itu, kami menyebut kain sarung adalah kain cuken yang dapat kami gunakan sebagai telesan (penutup tubuh) disaat mandi di sungai, dan dapat dijadikan sebagai kain untuk beribadah, sedangkan ikat kepala dapat kami gunakan sebagai alas untuk sholat. Karena kami sebagai pekerja adakalanya kami berada ditengah hutan dalam keadaan terdesak untuk melakukan ibadah".
"Pada intinya tidak ada busana yang menjadi identitas tari Kedidi, namun busana tari Kedidi dari dulu hingga sekarang ini yang digunakan tersebut memiliki kegunaan untuk keperluan sehari-hari kita, karena masyarakat Menduk adalah masyarakat pekerja tani dan nelayan, jadi busana dalam tari Kedidi tidak memiliki busana yang tetap atau baku". 
Sedangkan properti dalam dari tari Kedidi menggunakan pedang yang selalu digenggam di tangan kanan, dan menurut penjelasan Bapak Juhar;
"Pedang pendek/kecil yang digunakan dalam tari Kedidi digambarkan sebagai sepit Kepiting. Burung Kedidi senantiasa mencari makan disungai Menduk. Kepiting kecil berwarna hitam merupakan makanan kesukaan burung Kedidi. Oleh karena itu, pedang dimaknakan sebagai Kepiting yang melawan burung Kedidi, dan inilah kami anggap sebagai permainan antara burung Kedidi dan kepiting. Sedangkan burung Kedidi yang berkelompok mengitari sungai dianggap mencari-cari kepiting."
pedang tari Kedidi

Pada tari Kedidi, ada busana dan properti sebagai pelengkap dalam suatu seni pertunjukan, dan menjadi bagian dari makna sebuah tarian. Hasil interaksi antara bapak Juhar dengan pemusik maupun penata busana dan properti menciptakan kesempurnaan dalam makna pesan tari Kedidi seutuhnya. Selain itu, perkembangan sosial masyarakat desa Menduk juga akan mempengaruhi pengembangan dalam pernak-pernik maupun asesoris dalam busana tari tersebut, karena perkembangan masyarakat memiliki peran penting dalam interaksi sosial dan pengembangan tari Kedidi.
Makna dalam asesoris tari Kedidi tersebut akan bereaksi terhadap perkembangan sosial masyarakat, walaupun masih tetap berdasarkan makna pesan yang telah diajarkan pendahulu tari Kedidi. Sedangkan Bapak Juhar dan Bapak Khoiri sebagai komunikator tari Kedidi membatasi pengembangan tarian Kedidi demi menjaga nilai-nilai yang ada dalam tari Kedidi itu sendiri, namun tidak menutup kepada generasi muda untuk mengembangkan kreativitas tari daerah yang berpijak pada tari Kedidi.
syuting tari Kedidi oleh generasi muda sanggar Rebang Emas untuk dokumentasi daerah



Selasa, 17 September 2019

Panorama Desa Menduk Kec. Mendo Barat Kabupaten Bangka. Prov. Kep. Bangka Belitung.




Desa paling ujung di Pulau Bangka, hingga jalan desa itu terputus oleh sungai Menduk yang tembus hingga laut.
— Agus Yaman
Desa ini sangat terpencil, jauh dari kota dan pembangunannya pun masih sangat kurang.
Masyarakatnya sangat bersahaja, bersahabat, ramah dan selalu menawarkan makanan bila ada tamu datang dari jauh walau mereka bekerja sebagai petani, nelayan. Jiwa gotong royong mereka sangat tinggi, jiwa kebersamaan mereka tidak perlu diragukan lagi.
Desa Menduk inilah yang pertama dan satu-satunya memelihara tari tradisional Kedidi. Dari sungai Menduk inilah terciptanya tari Kedidi, tari yang terinspirasi dari burung Kedidi yang sering nelayan jumpai di tepi rawa-rawa sungai Menduk. Menurut keterangan yang didapat dari penari Kedidi desa Mendukk yaitu bapak Juhar, tari ini diangkat dari gerakan burung Kedidi yang banyak dijumpai penduduk saat mulai membuka ladang hingga menunggu musim panen tiba. Pada waktu malam hari sambil melepas lelah setelah seharian bekerja, penduduk desa menghibur diri dengan bermain musik Dambus sambil bedincak dan menari Kedidi. Tari kedidi melambangkan gerak-gerik burung Kedidi yang konon banyak terdapat di sepanjang pantai pulau Bangka. Burung Kedidi sejenis burung yang suka berkelompok serta mempunyai keunikan dalam pola kehidupannya, terutama saat bermain-main dengan sesama temannya, serta ulah tingkahnya ketika mereka mencari makanan di tepi pantai. Saya pernah menunggu datangnya burung tersebut namun tidak pernah ia lihat seperti gambaran yang diterangkan mereka, dan saya mendapat masukan dari teman kalau burung itu bisa jadi sedang berimigrasi ke sungai Menduk pada bulan-bulan tertentu, karena gambaran burung Kedidi tidak sama dengan gambaran burung Kedidi yang ada dipantai-pantai Bangka pada umumnya.
Burung Kedidi ini hidup di alam terbuka, tidak bisa ditangkap untuk dipelihara dan telah memberi inspirasi kepada nelayan, menghibur diri bermain menirukan gerakan burung Kedidi, kemudian mereka menyusun tariannya, dan iringan musik pada mulanya diusahakan dari bahan-bahan yang ditemukan di alam sekitar seperti; kayu-kayu, batok kelapa dan lain-lain. kemudian perkembangan inspirasi tertuju pada gerak-gerak kepiting. Apabila perahu sedang berlayar mereka memukul perahu sebagai penghias iramanya. Tarian ini kemudian berkembang menjadi hiburan muda mudi dengan sebanyak empat atau lima orang pada bulan purnama tanggal 13, 14, 15 setiap bulan. Tari Kedidi pada dasarnya bersifat pelipur lara, dan mereka mendapat inspirasi dari burung Kedidi yang hidup di muara sungai dan rawa-rawa, sering ditemui nelayan disepanjang tepian sungai, dan gerakannya lucu, terutama gerakan ekornya ketika meloncat dari satu tempat ke tempat lain, dari batu ke batu atau di atas batang pelepah nipah yang mengapung di atas air. Sebagai bentuk kesenian tari Kedidi ini kemudian menjadi lebih menarik ketika diiringi dengan dambus. Perkembangan variasi selanjutnya memasukkan unsur silat dan gerak pedang. Tari dan silat ini sering dipertandingkan atau dipertontonkan di desa-desa sekitar sehingga memicu improvisasi gerak dan komposisi serta kepandaian dalam mengembangkan gaya pribadi. Namun demikian dasar gerak burung Kedidi tetap dominan yang dapat memberi nuansa lincah, lembut, genit, maupun gagah dengan unsur silatnya.
Terbentuknya tari tradisional Kedidi dapat disimpulkan sebagai hasil dari gambaran manusia terhadap alam sekitarnya, makna pesan tari Kedidi hasil penggambaran masyarakat terhadap kehidupan dilingkungannya, kemudian makna gambaran itu disempurnakan bersama dengan anggota masyarakat dan diajarkan secara turun temurun, sehingga tari Kedidi dapat bertahan hingga sekarang ini.
Fenomena yang ada di masyarakat Desa Menduk adalah salah satu anggota masyarakatnya telah dipercaya sebagai ahli waris gerak tari Kedidi adalah Bapak Juhar (43). Beliau adalah murid almarhum dari Bapak Komarullzaman (1935-2009) yang diyakini masyarakat sebagai pewaris tari Kedidi dari pendahulunya. Bapak Juhar selain sebagai penari Kedidi, juga aktif sebagai pengajar tari Kedidi di Desa Menduk.
Selain tari Kedidi, Mendo Barat juga memiliki warna budaya atau kebiasaan yang ditentukan dengan sedikit – banyak jumlah penduduk. Yang membedakan antara suku juga berdasarkan atas mata pencahariannya seperti: Masyarakat Pemburu dan Peramu makanan, Masyarakat Peternak, Masyarakat Peladang, Petani Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan atau Kompleks. Mereka juga memiliki ciri-ciri tertentu, dengan logat bahasa yang berbeda. Dalam waktu yang lama perbedaan suku tersebut terjadi pencampuran, dari percampuran itu akan membuat kebudayaan baru.


Masyarakat Mendo Barat adalah masyarakat yang beragama islam. Banyak yang beranggapan kalau masyarakat melayu adalah orang-orang beragama islam. Dan masyarakat melayu biasanya dilihat dari ciri khasnya atau beradat istiadat, menempati kawasan yang sudah dikenal dan memperlihatkan budaya yang identik dengan lemah lembut, karena penganut agama islam memperaktikan adat istiadat melayu dalam kehidupan sehari-harinya. Demikian juga masyarakat Jawa, Batak, Sunda, dan lainnya yang ada di Mendo Barat.  Masyarakat jawa dikenal dengan beragam seni budayanya, beragam warna kulit, bentuk wajah, logat bicara, busana dan beragam agama dan kepercayaan, namun di kecamatan Mendo Barat, orang Jawa tidak begitu dominan. Saat kami turun ke lapangan, orang Jawa bekerja sebagai guru sekolah dan ada juga sebagai penjual es keliling menggunakan sepeda motor. Sedangkan orang sunda yang dikenal lembut, baik hati, putih bersih dan cara bicaranya yang disukai banyak orang, mereka dikenali karena berjualan siomay, batagor dan nasi kuning, karena di gerobak mereka tertulis daerah asalnya, contohnya : “Siomay Bandung”.


BAHASA
Bahasa melayu Bangka sudah menjadi bahasa Mendo Barat, dengan irama yang bergelombang dan penekanan yang cukup dalam, contohnya : “kami = kamen”, “pergi = gie”, dan sebagainya. Walaupun Pulau Bangka memiliki bermacam-macam suku, bahasa, busana, budaya dan sebagainya, Bangka secara turun-temurun telah menetapkan bahasa melayu adalah bahasa masyarakat Bangka. Walaupun sebagian kecamatan dan desa memiliki dialek masing-masing sehingga bahasa Bangka memiliki berbagai macam warna. Masyarakat Mendo Barat dianggap masyarakat desa (kampung), dianggap masyarakat melayu dan memiliki ciri bertempat tinggal berdempetan (sejajar) mengikuti panjang jalan, namun di zaman sekarang masyarakat Mendo Barat telah berkembang maju, modern dan tidak gaptek. Mereka yang lebih modern tinggal di kota, remaja-remajanya pun sekolah di kota Pangkalpinang dan Sungailiat serta kuliah di kota-kota besar di luar daerah dan menikah dengan orang-orang luar hingga masyarakat Mendo Barat menjadi masyarakat multikultural, sehingga bahasa pun mengalami perubahan, namun masih bisa mengerti makna yang disampaikan oleh masyarakatnya.
PENDATANG ETNIS BUGIS DAN PADANG DI MENDO BARAT
Bagaimana orang Bugis bisa berada di Mendo Barat? Orang maritim yang paling terkenal adalah dari Suku Bugis, karena mereka bertebaran diseluruh perairan. Orang Bugis ini menyebar ke daerah lain menggunakan perahu untuk mencari kehidupan baru di daerah lain, mereka lebih memilih tinggal dipesisir karena lebih mudah ke laut,  karena disebabkan oleh perang saudara pada masa dulu. Dan setelah menyebar orang bugis tetap berpegang pada tradisi budaya mereka yang diajarkan oleh para orangtua mereka dimanapun mereka menetap. Sebagian orang perpikiran kalau orang bugis itu berkulit gelap karena seringnya terkena sinar matahari saat melaut dan memiliki logat bicara yang kasar, padahal tidak semua demikian itu, sama dengan daerah lain, masyarakat bugis juga ada yang berkulit putih, bersikap lembut, baik hati juga cantik. Minangkabau atau biasa kita sebut orang Padang atau orang-orang yang suka merantau. Orang minang ada dimana-mana, banyak pepatah mengatakan orang minang memberi makan semua suku nusantara, bahkan seluruh bangsa di dunia. Orang minang pun ada di bulan ‘diungkapkan dalam banyak buku dan artikel-artikel’. Mengapa orang minang relatif aman di daerah orang, merantau jauh dari asalnya, hampir seluruh dunia, ada yang pulang dan menetap. Pada masa Presiden Soekarno, orang minang banyak di kirim ke luar negeri, saat orde lama habis, kebanyakan orang minang tidak kembali ke Indonesia. Orang minang aman di luar negeri karena mereka adalah orang-orang yang hebat. Mereka tidak menjadi beban bagi semua daerah yang mereka tempati, mereka bukan menjadi kuli atau kerja yang sejenisnya, mereka kebanyakan membuka rumah makan sehingga bagi daerah lain bahkan bagi orang luar negeri maupun dalam negri, orang minang tidak merugikan.
KEKUATAN BUDAYA MENDO BARAT
Masyarakatnya saling memahami untuk mencintai daerahnya sendiri. Sehingga dengan pernyataan pendapat dan kesadaran, secara sosiologis, ide, pikiran, motif, kesadaran masyarakat selalu dihubungkan dengan lingkungan yang konkret dari situasi kemasyarakatan, terbentuklah persaudaraan yang erat dan kuat. Ciri khas tersebut terlihat pada saat :
  1. Menyambut tamu-tamu pemerintahan. Masyarakat dan anak-anak sekolah berbondong-bondong dengan bendera kecil merah-putih ditangan, budaya, bahasa, adat dan tradisi local menyambut hangat tamu-tamu penting dari pemerintah daerah.
  2. Pengakuan terhadap para pendatang sebagai masyarakat yang sama dan menyunjung harkat kemanusiaan yang universal.
  3. Terbuka secara kultural dan religi, karena masyarakat Mendo Barat tidak menutup diri dan merupakan pertemuan dari beraneka ragam budaya dan agama.
  4. Percaya diri, dengan menjalin komunikasi dengan tetangga dan masyarakat luar daerah.




SEJARAH SENI TARI TRADISI KEDIDI
Pada tanggal 4 – 7 Juli 2007 penulis bersama-sama peneliti Dr. Julianti Parani, Dosen Senior IKJ. Wawancara bapak Kamarulzaman terlaksanakan dalam rangka pengumpulan data revitalisasi kesenian Kedidi bertempat di desa Mendo kecamatan Mendo Barat di pulau Bangka, tulisan ini meringkas wawancara dilengkapi dengan kesan sejenak dari observasi tari kedidi itu sendiri dalam turun lapangan ke desa Mendo beserta referensi sekelumit sejarah Bangka sekitar kisah pak Kamarulzaman. •Salah satu anggota masyarakat Mendo Barat yang dikemukakan pada kesempatan ini adalah Bapak Kamarulzaman pewaris tari Kedidi, yang lahir tahun 1935 di desa Mendo dari orang tua Mat Ali dan H. Sopiyah. Sebagai orang Bangka bapak Kamarulzaman telah mengalami tiga zaman periodisasi sejarah Indonesia dari zaman penjajahan Belanda kemudian penjajahan Jepang dan akhirnya zaman Kemerdekaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pak Kamarulzaman juga telah terserao dalam proses multikultural Bangka. Kakeknya dari pihak ibu adalah Cong A Tet, seorang kepala parit yang berasal dari Hongkong, sedangkan neneknya orang dari desanya sendiri.


almarhum bpk Komarullzaman
Dimasa mudanya mulai belajar silat dari seorang pendatang dari Hongkong pula bernama Bong A Tet. Pernah berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia seperti Aceh sebelum tsunami tahun ’69, Jakarta dengan keluarga yang tinggal di Slipi-Tanah Abang, Kalimantan Selatan, Surabaya dll. Menurut penjelasannya, atas keperluan keluarga. Namun demikian ia tetap seorang Mendo Barat yang arif, penuh perhatian pada perkembangan desanya, sederhana, polos dalam keterangannya, dan tetap konsisten terhadap kepentingan kesenian. Sebagaimana penduduk Mendo, dimasa mudanya ia pekerja tani,  ada kalanya sebagai nelayan, disamping suka menari kedidi dan pandai pula mengiringi dengan menyanyi dan bermain musik kedidi, mengisi hiburan panen dan berbagai perayaan desa. Kini di masa senja kehidupan di kala kondisi fisik sudah menurun, ia telah dapat membina beberapa generasi muda yang akan dapat meneruskan kesenian kedidi. Menurut penjelasannya tari kedidi yang pada dasarnya bersifat pelipur lara mendapat inspirasi dari burung kedidi yang berbulu putih berparuh semacam betet dan berekor lucu kalau digerakkan.
Burung kedidi yang banyak hidup di muara sungai dan rawa-rawa, sering ditemui nelayan dan gerakannya lucu, terutama gerakan ekornya ketika loncat dari satu tempat ketempat lain, dari batu ke batu, diatas batang pelepah yang mengapung di atas air. Burung ini yang hidup di alam terbuka, tidak bisa ditangkap untuk dipelihara, telah memberi inspirasi kepada nelayan, menghibur diri bermain-main menirukan gerak-geraknya dalam menyusun tarian, kemudian iringannya pada mulanya diusahakan dari bahan-bahan yang ditemukan di alam sekitarnya, seperti kayu-kayu, batok kelapa dan lain-lain. Apabila perahu sedang melaut kemudian memukul perahu sebagai penghias iramanya. Tarian ini berkembang menjadi hiburan muda-mudi antara empat atau lima orang kalau lagi bulan purnama tanggal 13, 14, 15 setiap bulan. Sebagai bentuk kesenian tari kedidi ini kemudian menjadi lebih menarik ketika diiringi dengan Gambus. Perkembangan variasi selanjutnya adalah memasukkan unsur silat dan gerak pedang. Menurut berita sering kali dipertandingkan, dengan demikian memicu improvisasi gerak dan komposisi serta kepandaian dalam mengembangkan gaya pribadi. Namun demikian dasar gerak burung kedidi tetap dominan yang dapat memberi nuansa lincah, lembut, genit, maupun gagah kejantanan dengan unsur silatnya.
KESIMPULAN
Upaya pembangunan dan pembinaan mental serta membuka diri dalam komunikasi antar budaya ini sangat penting, karena pada hakekatnya jiwa nasionalis tidak lain menunjukkan tingkat kuatnya persatuan dan kesatuan bangsa yang diinginkan. Dapat lebih menjamin terwujudnya negara yang makmur, aman dan tentram. Komunikasi antar budaya erat kaitannya dengan identitas masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Mendo Barat pada khususnya, menguatkan akar dari Identitas daerah yang sedang dibangun.