Translate

Kamis, 06 Februari 2020

TARI KEDIDI

Tari Tradisional Kedidi
Video terakhir Almarhum Bpk Kamarulzaman menari Kedidi sebagai pewaris terakhir Tari Kedidi

Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan berbagai suku yang memiliki seni budaya yang sangat beragam. Keragaman seni budaya ini lahir dari masing-masing masyarakat di tiap daerah dan menjadi kekayaan Bangsa Indonesia. Interaksi manusia dengan isi alam menjadi suatu kegiatan masyarakat dan menjadi tanda sebagai lambang budaya atau nilai yang tertanam di dalam masyarakat, termasuk didalamnya cerita rakyat.
Cerita rakyat tiap daerah memiliki pesan dan makna yang berbeda dan menjadi identitas daerah itu sendiri setelah ia dikenal masyarakat luas, sehingga orang mengenal masyarakat suatu daerah itu dapat dari cerita-cerita rakyatnya yang kemudian menjadi identitas seni budayanya.
Cerita rakyat suatu kelompok masyarakat akan ditambah dengan bahasa, simbol busana atau seni budaya masyarakatnya, yang berarti menjadi bagian kebudayaan itu sendiri. Cerita rakyat di dalam kelompok masyarakat kemudian di adopsi pada seni tari tradisional (klasik maupun kerakyatan), berpedoman atau berpijak pada akar budayanya dari cerita-cerita rakyat terdahulu, dipelajari secara turun temurun dan mengikuti kebiasaan yang dianut oleh masyarakat yang memiliki tari tersebut.
Peran cerita rakyat dalam seni tradisional sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat, dimanfaatkan untuk prosesi acara sesuai kepentingannya, seperti keperluan kepercayaan, kepentingan sosial maupun upacara pernikahan atau upacara adat.
Bentuk dan fungsi cerita rakyat yang terkandung dalam seni tari tradisional menjadi bagian dari kehidupan sosial-budaya masyarakat, cerita-cerita dan makna yang ada di dalam seni tradisional merupakan pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat, dapat berupa bentuk gerak maupun bentuk kegiatan masyarakat itu sendiri, seperti simbol-simbol, tanda-tanda ataupun lambang-lambang yang berhubungan dengan kelahiran, pertumbuhan, kematian, air, tanah, tanaman dan adat-kepercayaan.
Makna dalam cerita rakyat dapat menggambarkan objek atau peristiwa di daerah tempat tinggal masyarakatnya, mewakili alam didaerahnya dan kebudayaannya. Cerita rakyat dalam tari tradisional ini turun temurun di masyarakatnya. Seperti di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ada tari tradisional yang dinamakan Tari Kedidi. Seni tari ini ada di Desa Menduk Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang di angkat dari kehidupan burung Kedidi dan pelaku memberi nama Tari Kedidi sebagai tanda atau lambang kehidupan hewan didaerahnya.
Menurut cerita rakyat Menduk, burung Kedidi banyak hidup di muara sungai Menduk dan rawa-rawa, sering ditemui nelayan. Gerakan burung ini lucu, terutama gerakan ekornya ketika meloncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain di atas pelepah nipah yang mengapung di atas air.
Sungai Menduk yang menjadi tempat ditemukannya burung Kedidi

aktivitas sehari-hari masyarakat Menduk

kampung Menduk

Sungai Menduk

Terbentuknya tari tradisional Kedidi ini dapat disimpulkan sebagai hasil dari gambaran manusia terhadap alam sekitarnya, makna tari Kedidi hasil penggambaran masyarakat terhadap kehidupan dilingkungannya, kemudian makna gambaran itu disempurnakan bersama dengan anggota masyarakat dan diajarkan secara turun temurun, sehingga tari Kedidi dapat bertahan hingga sekarang ini.
Fenomena yang ada di masyarakat Desa Menduk adalah salah satu anggota masyarakatnya telah dipercaya sebagai ahli waris gerak tari Kedidi adalah Bapak Juhar (43). Beliau adalah murid almarhum dari Bapak Komarullzaman (1935-2009) yang diyakini masyarakat setempat sebagai pewaris tari Kedidi dari pendahulunya.Tari tradisional tersebut diciptakan orang-orang terdahulu yang terinspirasi dari alam lingkungannya lalu menciptakan tanda-tanda atau simbol-simbol, kemudian cerita, makna, pesan tari Kedidi dipelajari secara turun temurun dan pada tiap generasi.
Adapun informan pendukung lain selain Bapak Juhar ada Bapak Khoiri (50) seorang petani berprofesi sebagai pemain gambus tari Kedidi dan juga Bapak Kudung (48) seorang petani dan pengurus kelompok seni Mekar Sari desa Menduk. 
Menurut cerita mereka, tari Kedidi diangkat dari gerakan burung Kedidi yang banyak dijumpai penduduk pada masa lalu, melambangkan gerak-gerik burung Kedidi yang konon banyak terdapat di sepanjang sungai Menduk. Burung Kedidi sejenis burung yang suka berkelompok serta mempunyai keunikan terutama saat bermain-main dengan sesama jenisnya, serta tingkahnya ketika mencari makanan seperti kepiting kecil hitam di tepian sungai. Tari Kedidi pada dasarnya bersifat pelipur lara, dan nelayan Menduk mereka mendapat inspirasi dari burung Kedidi yang hidup di muara sungai dan rawa-rawa, sering ditemui nelayan disepanjang tepian sungai, dan gerakannya lucu, terutama gerakan ekornya ketika meloncat di atas pohon-pohon atau akar-akar kering dan pelepah nipah yang mengapung di atas air.
Burung Kedidi ini hidup di alam terbuka dan telah memberi inspirasi kepada nelayan desa Menduk untuk menghibur diri bermain menirukan gerakan burung Kedidi, kemudian menyusun tariannya, dan iringan musik pada mulanya dari bahan-bahan yang ditemukan di alam sekitar seperti; kayu-kayu, batok kelapa dan lain-lain. kemudian perkembangan tarian ini terinspirasi pada gerak-gerak kepiting yang menjadi makanan burung Kedidi. Apabila perahu sedang berlayar mereka memukul dinding perahu sebagai penghias iramanya.
Penulis pernah menelusuri tepi sungai tersebut dan menunggu datangnya burung Kedidi untuk diduplikasikan namun tidak menemukan apa-apa, salah satu teman mengatakan kalau burung Kedidi mungkin masuk dalam kategori burung migrasi, yaitu burung merujuk pada perjalanan musiman yang dilakukan oleh banyak spesies burung, karena burung melakukan perjalanan panjang dengan terbang.
Sebagai bentuk kesenian, tari Kedidi ini kemudian menjadi lebih menarik ketika diiringi dengan alat musik dambus. Pada perkembangan selanjutnya memasukkan unsur silat dan gerakan pedang berukuran kecil. Pada masa lalu tari dan silat Kedidi ini sering dipertandingkan atau dipertontonkan antar desa di Bangka sehingga memicu improvisasi gerak serta kepandaian dalam mengembangkan gaya masing-masing, pada tiap desanya tapi dasar gerak burung Kedidi tetap dominan yang dapat memberi nuansa lincah, lembut, genit, maupun gagah dengan unsur silatnya.
Pada acara workshop Tari Kedidi pada tahun 2007, penulis juga hadir pada waktu itu, dan acara yang diselenggarakan Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Bangka di Pondok Mulia Sungailiat tersebut menghadirkan bapak Kamarullzaman sebagai tokoh budaya pewaris Tari Kedidi yang lahir pada tahun 1935 di desa Menduk dari orang tua Mat Ali dan H. Sopiyah. Di waktu muda almarhum seorang petani kadang sebagai nelayan karena desa Menduk bersebelahan dengan sungai Menduk, selain itu ia suka menari Kedidi dan bisa bermain musik, mengisi hiburan panen raya dan perayaan desa lainnya.
Almarhum belajar menari dan belajar memukul gendang dari orangtua-orangtua tetangganya yang bernama Marimin dan Haji Asnawi. Menurut cerita Marimin dan Haji Asnawi, dulu ada seorang bernama Abu Latief yang pertama menciptakan tari Kedidi dengan bermain-main dipantai dan mendapat inspirasi dari gerak burung Kedidi dan terus dicoba-coba perkembangan gerak tariannya. Abu Latief ini juga yang telah menciptakan iringan musik dari bahan alami dan ketukan gendangnya dengan memukul-mukul dinding perahu. Bapak Komarullzaman tidak mengenal Abu Latief, tapi menurutnya diperkirakan hidup pada zaman kesultanan Palembang berkuasa atas Bangka.
Setelah Bapak Komarullzaman meninggal dunia pada tahun 2009, ahli waris yang ditunjuk oleh almarhum Bapak Komarullzaman adalah Bapak Juhar, salah satu murid silatnya dan murid yang telah diajarnya tari Kedidi. Hal ini diketahui setelah peneliti mendapat keterangan dari anak perempuan almarhum Bapak Komarullzaman yang bernama Jamma Annah (54 tahun):
Foto bersama penulis dengan Ibu Jamma Annah (anak bpk Kamarulzaman)
rumah peninggalan almarhum Bpk Kamarulzaman

"Pada tahun 2009 bapak Komarullzaman meninggal dunia. Dengan disaksikan saya (anak perempuannya), murid-murid Bapak Komarullzaman, masyarakat Menduk dan Juhar. Sebelum meninggal, bapak menitipkan pesan kalau tari Kedidi ia wariskan kepada Juhar. Juhar lah yang mengetahui tentang tari Kedidi".
Penulis kemudian menemui Bapak Juhar dan Bapak Kudung dan melakukan wawancara dengan mereka, dan menurut penuturan Bapak Juhar:
"Sejak dulu Almarhum bapak Komarullzaman sudah membentuk komunitas silat Ma'rifat di desa Menduk, dan sudah banyak murid-muridnya di Desa Menduk hingga di luar Desa Menduk. Pada tahun 1992, pada malam hari disaat kami berempat, yaitu: saya, Bujang, Sahak dan Hamzah sedang duduk berkumpul bersama almarhum bapak Komarullzaman di rumah bapak Kudung. Disaat kami membicarakan tentang tari-tarian yang ada di Bangka, tiba-tiba almarhum bapak Komarullzaman teringat disaat beliau masih muda dulu pernah belajar tari Kedidi dengan paman-paman sekampungnya. Di malam itu juga kami belajar gerak tari Kedidi".

penulis saat wawancara dengan Juhar

Bapak Kudung menambahkan keterangannya:
"Sebelum tari Kedidi diungkapkan bapak Komarullzaman ada di Desa Menduk, kami sebelum tahun 1992 membentuk grup kesenian di Menduk, tapi saat itu kami hanya mementaskan tari-tari Bangka seperti; bedincak (menari) dengan alunan gambus atau mementaskan musik dambus Abu Samah, dan saat itu tari Kedidi belum terbentuk di Desa kami, jadi disaat bapak Komarullzaman melihat grup kami bedincak. Tercetuslah ungkapan dari bapak Komarullzaman kalau di daerah Bangka ini ada tari yang paling unik, tapi karena bapak Komarullzaman tidak bisa memperagakannya karena faktor usia dan faktor kesehatan, jadi diajarilah tari itu kepada Juhar, Sahak, Hamzah dan Bujang. Seperti yang kita ketahui, orang tua di Bangka ini ilmunya tentang tari Kedidi tidak dikeluarkannya, tapi pencak silat yang dikeluarkannya. Jadi tari Kedidi itu sebenarnya sudah lama, tapi mengajarkan tari Kedidi itu tahun 1992. Beliau hanya mengajarkan pencak silat tapi karena kami disaat itu mempelajari bedincak dan bedambus, jadi dikeluarkannya tari Kedidi. Saat itu kami semua berkumpul dan beliau memperagakannya dengan duduk dilantai sambil mengatakan kalau tari Kedidi ini sudah tidak dipentaskan lagi saat beliau masih remaja, karena tidak ada lagi anggota masyarakat yang seumur beliau yang bisa menari Kedidi, karena teman-teman penari Kedidi seumuran beliau sudah meninggal dunia, seperti; atok (kakek) sanui, atok Noha dan bapak Komarullzaman". 
Almarhum Bapak Komarullzaman mengajarkan gerak tari Kedidi kepada Juhar, Bujang, Hamzah dan Sahak dalam keadaan sudah tua, dan tidak kuat lagi memperagakan gerak tari Kedidi, akibatnya Juhar dan kawan-kawan mempelajari gerak tari Kedidi tersebut selama berbulan-bulan dengan pengawasan langsung dari Bapak Komarullzaman.
Usai latihan di rumah Kudung
Juhar menambahkan keterangannya:
"Sejak tahun 1992, tari Kedidi tidak pernah dipentaskan, hingga pada tahun 2006 tari ini dipentaskan di acara peresmian Gedung Serba Guna di lingkungan Taman Hiburan Rakyat Sungailiat Bangka. Gerak tari Kedidi ini cukup sulit dipelajari, oleh karena itu, gerak tari Kedidi ini tidak mudah dikuasai, sampai kami benar-benar siap dan betul-betul menguasai tari Kedidi baru kami siap pentas, dan untuk pertama kalinya pentas di acara peresmian Gedung Serba Guna tersebut". 
Pada tahun 2006 itu juga, penulis untuk pertama kalinya melihat tari Kedidi, karena selama ini penulis hanya melihat tari-tari daerah Bangka seperti tari Campak, Rodat, tari sambut Bangka dan tari Gambus yang dipentaskan pada acara-acara pagelaran daerah, dan sudah dianggap sebagai tari tradisional daerah Bangka Belitung.
Menurut penuturan Bapak Kudung;
"Setelah pentas di peresmian Gedung Serba Guna tersebut, barulah tari Kedidi sering dipentaskan pada acara-acara hiburan rakyat di luar desa Menduk, dan yang menjadi penari Kedidi pada saat itu adalah Juhar, Hamzah, Bujang dan Sahak".
Almarhum Bapak Komarullzaman telah mengajarkan tari kedidi dan silat kepada keempat muridnya tersebut. Silat yang diajarkan kepada mereka kemudian menjadi bagian dari gerak tari Kedidi. Keempat muridnya sudah mengembangkan tari Kedidi kepada karakternya masing-masing dan telah memiliki pola-pola lantai yang di atur dalam seni pertunjukan.
Walaupun gerak keempat muridnya berbeda-beda namun memiliki dasar gerak tari Kedidi yang sama, dan gerak keempat murid tersebut cukup berbeda dengan bapak Komarullzaman sebagai generasi tua yang gerak tari Kedidinya lebih halus, klasik dan stabil dibandingkan dengan murid-muridnya. Pengembangan yang dilakukan ke empat muridnya terlihat pada variasi ke gerak pinggul, bahu dan kepala sehingga kekuatan gaya pribadi yang dimodifikasi keterpaduannya ke dalam gerak dasar tari Kedidinya masing-masing.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang makna tari Kedidi, penulis hendak mengetahui bagaimana tentang tari Kedidi lebih jauh lagi. Bapak Juhar menerangkan;
"Burung Kedidi itu memang ada, dan gerak burung Kedidi itu ditirukan oleh Abu Latief dan diperagakannya. Burung Kedidi ini hidup disungai. Sedangkan bapak Komarullzaman bukan belajar tari Kedidi dari Abu Latief, tapi Abu Latief masih memiliki keturunan-keturunan yang mewarisi tari Kedidi, jadi Bapak Komarullzaman belajar dari keturunan-keturunan itu".
Bapak Kudung menambahkan keterangan;
"Abu Latief memiliki keturunan-keturunan yang mempelajari tari Kedidi, seperti; Abu Noha, Atok Noh, Atok duku, Atok Likur dan Atok Sanui. Atok Sanui ini dengan Bapak Komarullzaman seperguruan, seperti Juhar dan Hamzah, sama-sama bisa nari Kedidi".
Menurut penjelasan almarhum Bapak Komarullzaman. Ia belajar menari dari orangtua-orangtua tetangga sekampungnya di Menduk dengan ikut-ikutan menari Kedidi layaknya anak kecil, baik dalam tari maupun musiknya. Paman-paman tersebut yang semuanya sudah almarhum antara lain bernama Marimin dan Haji Asnawi. Menurut cerita paman-pamannya, dulu ada seorang bernama Abu Latief yang pertama menciptakan tari Kedidi dengan bermain-main ditepi sungai Menduk dan mendapat inspirasi dari gerak indah dan lucu dari burung Kedidi dan terus dicoba-coba perkembangan gerak tarinya.
Abu Latief juga telah menciptakan iringan musik dari bahan alami yang ditemuinya dan ketukan gendang ketika memukul-mukul dinding perahu. Beliau diperkirakan hidup masa jaman kesultanan Palembang saat berkuasa atas Bangka.
Sekarang ini ahli waris tari Kedidi Bapak Komarullzaman telah meninggal dunia dan untuk memperkuat bahasan mengenai siapa yang yang menjadi ahli waris tari Kedidi berikutnya yang ditunjuk langsung oleh almarhum Bapak Komarullzaman sebagai penerus tari Kedidi adalah Bapak Juhar.
Penulis menyimpulkan, Bapak Juhar yang ditunjuk langsung sebagai penerus tari Kedidi dikarenakan usia Bapak Juhar lebih muda dibandingkan murid lainnya, dan gerak tari yang diperagakan Bapak Juhar lebih teratur dan lebih halus dibandingkan yang lain, dan hal tersebut dapat terlihat saat Bapak Juhar menarikan tari Kedidi bersama ketiga temannya, dan Bapak Juhar dapat menjelaskan tiap makna pesan gerak tari Kedidi.
Juhar saat memperaktekkan gerak tari Kedidi

Bapak Juhar menerangkan;
"Dulu, sebelum belajar tari Kedidi, saya adalah murid silat Bapak Komarullzaman dan saya diajari tari Kedidi oleh Bapak Komarullzaman sejak tahun 1992. Jadi bertahun-tahun Bapak Komarullzaman dalam keadaan kurang sehat mengajari tari Kedidi itu dalam keadaan duduk, jadi saya menarinya dengan diperagakan tangan dan kaki saja oleh bapak Komarullzaman. Saya mengikuti apa kata beliau, kata beliau jongkok saya jongkok, kata beliau berdiri saya berdiri, kata beliau tangannya melambai saya melambai. Berbulan-bulan diajari beliau gerak itu-itu saja, sampai saya bisa dan meresapi gerakan tersebut. Setelah saya menguasai semua gerakannya, baru saya peragakan didepan beliau semaksimal mungkin. Saat saya tanya benar atau tidak yang saya peragakan, beliau katakan benar semua yang saya peragakan, tidak ada yang salah sedikitpun. Saya teringat wasiat almarhum, "Juhar, apabila setelah saya meninggal, kamu harus ikuti apa kata-kata saya, jangan kamu tinggalkan. Jangan tinggalkan perguruan pencak silat dan tari Kedidi, dan jangan kamu hilangkan kepada generasi-generasi yang akan datang, harus kamu kembangkan". Pada waktu itu, disaksikan oleh anak Bapak Komarullzaman, orang-orang dari dinas Pariwisata dan warga Desa Menduk. Sejak itu saya memegang amanah beliau dan kemudian saya ajari anak-anak di desa Menduk sekitar 15 anak. Dalam jangka waktu 2 bulan setiap malam saya ajari anak-anak itu tari Kedidi".
"Pada awal belajar tari Kedidi, kami diajarkan gerak kaki, dengan tumit kaki naik turun berulang-ulang sampai kami terbiasa dengan gerakan tersebut. Setelah itu baru kami diajarkan tiap gerak tari Kedidi dengan menggunakan pedang ditangan kanan. Simbol dari pedang ini adalah jepit (sepit) kepiting, selain sebagai simbol sepit kepiting, pedang ini juga sebagai ciri khas penari kedidi untuk begamen yang artinya untuk bercanda sesama penari. Sedangkan tangan kiri melambai-lambai bermakna sayap burung kedidi. Gerak kepala yang sesekali  bergoyang-goyang kekanan kiri dan turun naik menggambarkan kepala burung Kedidi yang bermain di air, seperti kepala burung yang masuk ke air dan mengibas-ngibaskan kepala untuk mengeringkan air dikepalanya". 
Bapak Kudung menambahkan keterangannya:
"Gerak kaki yang mengenjit bergantian kaki kanan dan kiri bermakna sebagai gerakan kaki burung Kedidi yang seolah-olah berjalan menjinjit diatas air sungai. Diantaranya berjalan diatas papan, diatas dahan-dahan nipah yang hanyut diatas air. Dalam tari Kedidi, pada awal gerak yang menurunkan pedang dengan kaki kanan bertekuk dilantai dengan pedang diletakkan dihadapan kaki bermakna sebagai menghormati para tetamu atau persembahan awal untuk para tetamu, demikian juga dengan akhir tarian ditutup dengan penghormatan meletakkan pedang dilantai dan merapatkan kedua telapak tangan dan memberi penghormatan kepada para tetamu".
Semua gerakan Kedidi pada dasarnya adalah gerakan yang diulang-ulang menurut batas waktu yang mereka tentukan yang tentunya dengan mengikuti irama musik. Gerakan tari Kedidi ini juga telah mereka berikan komposisi agar tarian ini menjadi lebih menarik dan menjadi tari hiburan rakyat dan menjadi seni pertunjukan masyarakat Desa Menduk.  Hingga pada tahun 2007 mereka membentuk kelompok seni budaya di Desa Menduk dengan nama kelompok Mekar Sari yang terdiri dari masyarakat-masyarakat Desa Menduk.
Pada tahun 2017 kelompok ini dikelola oleh Bapak Kudung, sekaligus telah mengalami perubahan dalam personil, dikarenakan personil yang lama sudah banyak yang meninggal dunia dan sudah tidak sanggup lagi terjun ke dunia seni karena dalam keadaan fisik yang lemah dan sakit, termasuk penari Kedidi yaitu;  Bapak Hamzah dan Bujang yang sudah sakit-sakitan.
Menurut Bapak Kudung sebagai pengelola kelompok Mekar Sari;
"Bapak Komarullzaman sejak masih bujangan (lajang) sudah belajar tari Kedidi, dan sampai beliau tua mengajar silat kepada orang-orang Desa Menduk dan murid-murid beliau juga banyak dari luar Desa, dan masih banyak yang masih hidup sampai sekarang ini. Desa-Desa tersebut seperti: Desa Kota Kapur, Desa Payak Benue, Desa Rukem dan lain-lain, kesemuanya belajar silat, namun tidak ada yang belajar tari Kedidi, sedangkan yang belajar tari Kedidi hanya orang-orang di Desa Menduk. Saat mereka belajar silat dan sebelum belajar tari Kedidi, mereka sudah menggunakan pedang yang sekarang digunakan sebagai properti tari Kedidi, selain itu juga menggunakan tembung (toya/kayu panjang). Nama perguruannya Pateh Teset dengan nama silat Ma'rifatullah".
Kudung termasuk orang yang cukup berperan penting dalam terjadinya proses interaksi antara Bapak Juhar dan Bapak Komarullzaman dalam mempelajari tari Kedidi, karena mereka belajar tari Kedidi di rumah Bapak Kudung. Hal ini telah dikemukakan oleh anak perempuan almarhum Bapak Komarullzaman.
"Bapak mengajarkan tari Kedidi dirumah Pak Kudung dan mengajar silat di lapangan-lapangan yang ada di kampung ini. Murid-murid Bapak terbatas, sekitar 40 sampai 50 orang. Tapi kalau masalah tari Kedidi saya tidak bisa menceritakannya, karena Bapak tidak pernah cerita kepada kami seperti apa dan bagaimana tari Kedidi itu, tapi kalau masalah tari Kedidi tanya saja kepada Juhar, dia mengerti masalah tari Kedidi. Jadi Bapak telah mengatakan kalau yang mewarisi tari Kedidi adalah Juhar". 
Oleh karena itu, penulis lebih banyak meneliti tari Kedidi dari Bapak Juhar sebagai orang yang berinteraksi langsung dengan almarhum Bapak Komarullzaman dan mempelajari makna tari Kedidi.
Perbedaan dalam gerak dan pola lantai Tari Kedidi dari keempat murid almarhum Bapak Komarullzaman dengan Bapak Komarullzaman terlihat saat peneliti melakukan observasi ke desa Menduk pada tahun 2007. Dalam video tari Kedidi yang ditarikan almarhum Bapak Komarullzaman dan empat muridnya Juhar, Hamzah, Sahak, dan Bujang, terdapat perbedaan gerak tari Kedidi. Almarhum Bapak Komarullzaman menarikan tari Kedidi dengan unsur silat dengan arah pedang lebih banyak menangkis dan menusuk, namun gerak kaki tetap pada langkah tari Kedidi dan penutup tarian dengan gerakan hormat dengan meletakkan pedang di tanah/lantai dan bersedekap tangan.
Selain mengajar tari Kedidi, almarhum Bapak Komarullzaman juga mengajarkan silat kepada murid-muridnya yang berarti perpaduan antara silat dan tari merupakan kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam gerak tari Kedidi yang diperagakan oleh almarhum Bapak Komarullzaman, lebih banyak menggunakan unsur silat, sedangkan keempat muridnya lebih kepada gerak tari Kedidi yang bersifat menghibur, karena keempat muridnya sudah melakukan pola-pola lantai yang teratur, gerak kaki, tangan, bahu, pinggul dan kepala sudah terarah pada komposisi tarian.
Perbedaan gerak keempat murid tersebut dengan almarhum Bapak Komarullzaman adalah; almarhum Bapak Komarullzaman menarikan tari Kedidi dengan unsur silat yang lebih banyak dibandingkan keempat muridnya.
Setelah melihat gerak, komposisi dan pola lantai dari keempat murid almarhum Bapak Komarullzaman, namun persamaan gerak keempat muridnya dengan almarhum Bapak Komarullzaman adalah karakter jinjit kaki, gerak tangan yang memegang pedang, dan mengangkat kaki dengan tumit diletakkan dilutut kaki yang lain. Selain itu, persamaannya adalah gerak penutup dengan meletakkan pedang di lantai. Dari gerak ini dapat dilihat gerak silat telah diadopsi ke dalam gerak tari Kedidi, dan ini merupakan penggabungan seni silat ke dalam tari Kedidi.
Gerak tari Kedidi terlihat monoton dan diulang-ulang, namun dalam gerak tersebut terdapat makna pesan yang ingin disampaikan.
Bapak Juhar menambahkan keterangannya;
"Pada akhir tarian ada gerakan meletakkan pedang di lantai di depan penari yang berjongkok, dan ke empat penari memberi hormat setelah iringan musik selesai. Penghormatan disini sebagai akhir dari pertunjukan tarian dan penggabungan antara hormat silat melayu dan menggambarkan kesopanan masyarakat Menduk setelah menari menghibur para tetamu dan masyarakat/penonton".
Sekarang ini, keempat murid almarhum Bapak Komarullzaman kecuali Bapak Juhar, sudah semakin tua dan sudah sakit-sakitan, diantaranya adalah Bapak Hamzah dan Bapak Bujang. Keduanya sudah tidak mampu lagi untuk menari Kedidi, sedangkan Bapak Sahak sudah pindah ke desa Labu dan mengajarkan tari Kedidi kepada generasi muda di desa Labu. Sedangkan Bapak Juhar masih tinggal di Desa Menduk dan masih mampu untuk menari Kedidi di desa Menduk, dan sudah mengajari tari Kedidi kepada beberapa generasi muda.
Penulis kemudian mengkaji bagaimana musik kedidi dapat terbentuk di dalam tari Kedidi dalam menyesuaikan gerak dan musik sesuai dengan jawaban Bapak Khoiri sebagai pemain Gambus. Sebagai bentuk kesenian atau sebagai tari hiburan rakyat tari Kedidi ini kemudian di iringi dengan alat musik Dambus, gendang nduk dan anak (besar dan kecil), dan gong. Dalam musik tari Kedidi, terdapat syair yang mengikuti alunan dambus, syair lagu tradisional tersebut berupa pesan-pesan bagi pendengarnya. Berikut ini syair lagu yang terdapat dari Bapak Khoiri;

Tinggi Bawang
Nek setinggi-tinggilah bawang (Mau setinggi-tingginya daun bawang)
Berkembang boleh bedaun jangan (Berbunga boleh berdaun jangan)
Nek menarilah kau dayang (Mau menari menarilah kau gadis)
Berkembang boleh besundung jangan (Berbunga boleh saling iri jangan)
Buah cempedak daun sejajar (Buah cempedak daun sejajar)
Lain dengan si buah padi (Berbeda dengan si buah padi)
Kami budak baru belajar (Kami anak-anak baru belajar)
Budaya kita tari Kedidi (Budaya kita Tari Kedidi)
Anak katak di batang padi (Anak katak di batang padi)
Nek ditangkap melangkah pagar (Mau ditangkap melangkah pagar)
Langkah pencak Tari Kedidi (Langkah pencak Tari Kedidi)
Marilah kita semua belajar (Marilah kita semua belajar)
Hari teduh ngelambur layang (Hari teduh menaikkan layangan)
Putus tali dilambung angin (Putus tali dibawa angin)
Kawan jauh di bayang-bayang (Kawan jauh di bayang-bayang)
Datang kemari kita bermain (Datang kemari kita bermain)
Mari datang membawa dulang (Mari datang membawa tempat makanan)
Gi ke sungai mencuci muka (Pergi ke sungai mencuci muka)
Hari petang kami nek pulang (Hari petang kami mau pulang)
Pulang berimbai di aik mata (Pulang berlinang si air mata)
Dalam musik tari Kedidi ini, syair lagu adalah berupa pantun yang isinya pesan-pesan moral, sindiran dan lain-lain. demikian juga dengan syair dalam tari Kedidi. Bait demi bait syair merupakan pantun dengan dua bait akhiran yang sama.
Menurut penjelasan Bapak Khoiri selaku pemain gambus dan penyanyi lagu tari Kedidi, beliau mengatakan;
"Syair dalam lagu tari Kedidi merupakan pantun berbahasa Bangka, bukan bahasa khusus desa Menduk, karena bahasa Bangka lebih mudah dimengerti oleh masyarakat Bangka seluruhnya. Sedangkan lagu Tinggi Bawang ini, menurut almarhum Bapak Komarullzaman, Tinggi Bawang itu berarti seorang gadis maupun pria yang sudah mulai dewasa. Dalam syair nek setinggi-tinggilah bawang, yang bermakna mau beranjak dewasa, dewasalah. Berkembang boleh bedaun jangan, maknanya adalah diantara dua orang teman, dan salah satunya ada yang menikah dan mendapatkan satu anak, maka giliran teman yang satunya yang belum menikah untuk menikah dan tidak saling melarang-larang. Nek menarilah kau dayang, artinya selagi masih gadis mau menari, maka menarilah. Berkembang boleh besundung jangan. Dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada teman yang lain untuk menikah dan memiliki anak juga. Disini terdapat perjanjian diantara kedua teman".
"buah cempedak daun sejajar. Bait syair ini hanya sebuah awal pantun yang kemudian dilanjutkan dengan bait kedua, lain dengan si buah padi. Kedua pantun tersebut hanya memberi pesan perbedaan dua buah, lalu baik ke tiga dan ke empat yang menjadi isi dari pantung. Kami budak baru belajar, budaya kita tari Kedidi. Bait ini memberi makna jika penari-penari tari Kedidi hanyalah anak kecil yang baru belajar menari tari Kedidi untuk memperkenalkan budaya tari Kedidi daerah Menduk".
 "anak katak di batang padi, nek ditangkap melangkah pagar, bait-bait syair ini juga merupakan pengawal pantun yang kemudian akan dilanjutkan dengan isi dari pantung. Langkah pencak tari kedidi, marilah kita semua belajar. Makna syair disini adalah gerak tarian Kedidi berisi langkah-langkah dari pencak Kedidi yang berarti tari Kedidi berhubungan erat dengan pencak silat dan yang menari kedidi baiknya juga mengajak semua orang untuk belajar tari Kedidi".
 "Hari teduh ngelambur layang, memiliki makna disaat cuaca siang hari dan tidak ada angin yang berhembus, layang-layang kenapa harus dinaikkan. Putus tali dilambung angin, saat tali layang-layang putus, angin pun melambungkan layang-layang. Dua bait syair ini juga merupakan pembuka pantung untuk menyampaikan maksud dari isi pantun yaitu; kawan jauh di bayang-bayang, datang kemari kita bermain. Teman yang tinggal jauh dari kami masih ada dalam kenangan, seandainya dapat datang ketempat asalnya bisa bermain-main tari Kedidi bersama-sama".
"mari datang membawa dulang, arti dari pantun ini adalah ajakan bersama-sama membawa dulang (wadah/tempat makanan tradisional yang biasa digunakan untuk membawa makanan ke masjid-masjid untuk makan bersama). Gi ke sungai mencuci muka. Sama artinya dengan pergi kesungai untuk mencuci muka. Dua syair ini juga merupakan pantun pembuka untuk menyampaikan makna dari syair berikutnya, hari petang kami nek pulang, pulang berimbai di aik mata. Setelah semua kegiatan menari Kedidi dan semua kegiatan masyarakat setelah hari mulai sore menuju malam, penari Kedidi sudah harus pulang dan pulang dengan suka duka penuh keharuan karena sudah bisa menghibur masyarakat yang menonton tarian mereka". 
"Sebenarnya, lagu atau syair dalam tari Kedidi ini tidak harus lagu Tinggi Bawang, bisa lagu-lagu atau syair-syair pantun lainnya, karena lagu tari Kedidi adalah tergantung musim untuk dijadikan lagu tari Kedidi. Musim disini diartikan disaat menari tari Kedidi pada musim panen masyarakat, maka lagu tari Kedidi akan membicarakan tentang panen masyarakat. Demikian juga ketika menari Kedidi saat musim menanam, musim menghibur, musim merayakan hari besar agama, dan musim-musim lainnya. Jadi pantun di dalam lagu tari Kedidi dapat berubah-ubah menurut keinginan kelompok seni tari Kedidi tersebut. Namun ciri khas dari lagu tari Kedidi adalah lagu Tinggi Bawang. Tapi, tari Kedidi tidak berpatokan pada lagu Tinggi Bawang saja, diperbolehkan menggunakan syair lagu bangka lainnya, akan tetapi tetap berisikan pantun nasehat maupun pantun kelakar, dengan iringan musik dambus dan alat-alat musik tari Kedidi, dengan pukulan gendang, gong yang telah ditentukan. Tidak ada patokan harus menggunakan syair lagu Tinggi Bawang".
Pesan-pesan berupa sindiran, pesan moral dan nasehat tersebut mengikuti alunan Dambus yang mengiringi tari Kedidi. Tujuan dari pesan dalam syair tersebut adalah untuk para penari, penonton atau para pendengarnya.
Bapak Khoiri menjelaskan;
"Dalam tari Kedidi, gambus merupakan alat yang paling dominan, dan saat gambus di petik di awal musik atau sebelum seluruh alat musik dimainkan, biasanya penari terlebih dahulu menjinjit-jinjit naik turun untuk mencari irama tubuh mereka dengan alunan gambus, dan setelah semua musik dimainkan, barulah penari bergerak menarikan tari Kedidi. Biasanya kami mengakhiri tari Kedidi dengan musik tari Kedidi itu bersama-sama atau selesainya serempak, dan itu sekitar 15 menit lebih. Namun ada saat tertentu dimana panitia penyelenggara biasanya meminta kami untuk menarikan tari Kedidi sekitar lima menit atau tujuh menit, maka kami sebagai pemusik akan saling berkomunikasi dengan penari Kedidi bagian-bagian mana dari tari Kedidi tersebut yang akan kami kurangi dan syair lagu pun kita persingkat atau tidak diulang-ulang, karena lagu gambus biasanya dinyanyikan secara berulang-ulang".
Komunikasi antara Bapak Juhar dan Bapak Khoiri tentang batasan-batasan dan tempo-tempo musik atau mengurangi dan menambah gerak maupun musik merupakan bagian dari interaksi antara dua orang untuk diterapkan dalam kelompok, agar dalam menyampaikan simbol-simbol tari Kedidi tersebut tetap bermakna dan dapat dimengerti penonton. Dalam hal ini, peran seluruh penari maupun pemusik sangat penting, dan harus mengerti apa yang menjadi keinginan penata tari dan penata musik.
Bapak Juhar untuk menyempurnakan tanda dan makna-makna dalam musik dan syair yang ingin disampaikan. Syair dan pukulan alat musik merupakan pendukung tari Kedidi, dan ini merupakan kesenian masyarakat yang bersifat produk sosial masyarakat.
Musik Kedidi adalah unsur penting dalam mendukung tari Kedidi hingga menciptakan seni budaya daerah yang hanya dimiliki oleh daerah tersebut, dan para pemusik harus saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya agar tercapai kesepakatan. Selain itu, penari dan pemain musik tari Kedidi diharuskan mengetahui dan hafal setiap detail tari dan musik Kedidi.
Bapak Khoiri menambahkan;
 "Selain gambus, gendang nduk (ibu) berperan penting, ditambah dengan gendang anak. Dalam tari Kedidi, diawali oleh petikan gambus pembuka, dan saat gambus mulai masuk dalam musik tari dengan diikuti gendang, barulah tari Kedidi ditarikan. Biasanya tari yang mengikuti pukulan gendang dan gong, sedangkan ketukan gendang merupakan irama dari gerak tari Kedidi. Alat musik utama tari Kedidi adalah gambus, sedangkan gendang nduk dan gendang anak adalah penyeimbang antara musik dan gerak tari, dan gendang nduk dan anak ini akan bersahut-sahutan atau saling mengisi satu sama lainnya. Untuk itu diperlukan latihan yang panjang untuk saling menyatukan antara satu dengan lainnya, antara pemusik dengan penari". 
"Sedangkan lagu Tinggi Bawang adalah menggunakan bahasa Bangka, secara umum masyarakat Bangka mengetahui makna dari pantun-pantun lagu tari Kedidi, tapi lagu Kedidi tidak wajib lagu Tinggi Bawang, dapat juga menggunakan pantun-pantun lain yang sifatnya menghibur dan isi dari lagu tersebut dapat berubah-ubah menurut keinginan dari pemain gambus".
Penulis juga ingin mengetahui bagaimana busana dan properti tari Kedidi dapat terbentuk di dalam tari Kedidi  dengan perkembangan zaman. Jawaban dari informan yang diperoleh peneliti adalah sebagai berikut;
Menurut penjelasan Bapak Juhar;
"Dari dulu kita tidak memiliki penata rias maupun busana, jadi kita secara kelompok saling menata busana apa yang baik untuk tari Kedidi ini, dan sudah seharusnya kami menggunakan busana melayu yang ada di Bangka Belitung ini, seperti; celana panjang, baju teluk belanga (baju melayu pria Bangka), kain sarung dipinggang yang digulung hingga diatas lutut (orang melayu menyebut kain tersebut "rumpak"), dan ikat kepala atau bisa juga digunakan kopiah resam atau kopiah hitam biasa. Namun indentitas busana tari Kedidi dari desa Menduk sendiri adalah ikat kepala, baju teluk belanga, celana panjang dan ada cuken juga. Cuken adalah sebutan kain yang menghiasi bagian luar antara baju dan celana, yang digulung hingga diatas lutut".
"Menurut ungkapan Bapak Komarullzaman dulu yang disampaikan kepada penari Kedidi, makna dari ikat kepala itu sendiri adalah sebagai pria Menduk melambangkan pekerja tani maupun nelayan, jadi disaat bekerja dan disaat matahari terik, ikat kepala tersebut dapat dibuat sebagai penutup kepala melindungi dari sinar matahari. Selain itu, kami menyebut kain sarung adalah kain cuken yang dapat kami gunakan sebagai telesan (penutup tubuh) disaat mandi di sungai, dan dapat dijadikan sebagai kain untuk beribadah, sedangkan ikat kepala dapat kami gunakan sebagai alas untuk sholat. Karena kami sebagai pekerja adakalanya kami berada ditengah hutan dalam keadaan terdesak untuk melakukan ibadah".
"Pada intinya tidak ada busana yang menjadi identitas tari Kedidi, namun busana tari Kedidi dari dulu hingga sekarang ini yang digunakan tersebut memiliki kegunaan untuk keperluan sehari-hari kita, karena masyarakat Menduk adalah masyarakat pekerja tani dan nelayan, jadi busana dalam tari Kedidi tidak memiliki busana yang tetap atau baku". 
Sedangkan properti dalam dari tari Kedidi menggunakan pedang yang selalu digenggam di tangan kanan, dan menurut penjelasan Bapak Juhar;
"Pedang pendek/kecil yang digunakan dalam tari Kedidi digambarkan sebagai sepit Kepiting. Burung Kedidi senantiasa mencari makan disungai Menduk. Kepiting kecil berwarna hitam merupakan makanan kesukaan burung Kedidi. Oleh karena itu, pedang dimaknakan sebagai Kepiting yang melawan burung Kedidi, dan inilah kami anggap sebagai permainan antara burung Kedidi dan kepiting. Sedangkan burung Kedidi yang berkelompok mengitari sungai dianggap mencari-cari kepiting."
pedang tari Kedidi

Pada tari Kedidi, ada busana dan properti sebagai pelengkap dalam suatu seni pertunjukan, dan menjadi bagian dari makna sebuah tarian. Hasil interaksi antara bapak Juhar dengan pemusik maupun penata busana dan properti menciptakan kesempurnaan dalam makna pesan tari Kedidi seutuhnya. Selain itu, perkembangan sosial masyarakat desa Menduk juga akan mempengaruhi pengembangan dalam pernak-pernik maupun asesoris dalam busana tari tersebut, karena perkembangan masyarakat memiliki peran penting dalam interaksi sosial dan pengembangan tari Kedidi.
Makna dalam asesoris tari Kedidi tersebut akan bereaksi terhadap perkembangan sosial masyarakat, walaupun masih tetap berdasarkan makna pesan yang telah diajarkan pendahulu tari Kedidi. Sedangkan Bapak Juhar dan Bapak Khoiri sebagai komunikator tari Kedidi membatasi pengembangan tarian Kedidi demi menjaga nilai-nilai yang ada dalam tari Kedidi itu sendiri, namun tidak menutup kepada generasi muda untuk mengembangkan kreativitas tari daerah yang berpijak pada tari Kedidi.
syuting tari Kedidi oleh generasi muda sanggar Rebang Emas untuk dokumentasi daerah